
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Imam Sugianto.
JawaPos.com - Polda Jawa Timur terus mendalami penembakan yang dialami Muarah, 50, relawan Prabowo-Gibran, oleh orang tidak dikenal (OTK) pada 22 Desember di Sampang, Madura. Sebanyak 13 saksi telah diperiksa.
Hasil pemeriksaan proyektil peluru menunjukkan bahwa pelaku menembak korban dengan senjata api jenis kaliber 22. Seperti revolver atau senjata api rakitan. Dua proyektil ditemukan di lokasi kejadian.
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Imam Sugianto menuturkan, penyelidikan kasus penembakan oleh OTK itu telah berjalan seminggu. Hasil pemeriksaan kamera closed circuit television (CCTV) memberi titik terang identitas pelaku. Hasil analisis pemeriksaan telah diserahkan ke Mabes Polri.
’’Sudah ada petunjuk kuat terkait pelaku. Kami berharap dalam waktu dekat kasus ini bisa terungkap. Awal Januari 2024, mudah-mudahan pelaku sudah bisa diketahui,” kata Imam di Gedung Mahameru Polda Jatim kemarin (29/12) sore.
Penembakan itu diperkirakan dilakukan oleh satu orang. Meskipun ditemukan dua proyektil di lokasi kejadian. Ihwal adanya peran pelaku lainnya, Kapolda belum memberi kepastian. Sebab, pelaku utama belum tertangkap. Begitu pun dengan motifnya. Pihaknya belum bisa memastikan hingga pelaku ditangkap.
Dalam proses pendalaman, sebanyak 13 saksi diperiksa. Mereka berasal dari keluarga korban, saksi mata, dan tim relawan Prabowo-Gibran. Imam pun meminta masyarakat tidak terburu-buru dalam menerka peristiwa itu. ’’Sampai saat ini, kami belum menemukan bukti di lapangan kalau penembakan disebabkan adanya unsur politik,” ujar jenderal bintang dua tersebut.
Sementara itu, dokter spesialis bedah digestif RSUD dr Soetomo dr Tomy Lesmana mengatakan, kondisi kesehatan Muarah mulai membaik. Secara fisik sudah stabil. Tekanan darah, pernapasan, dan detak jantung juga stabil.
Saat ini yang masih dalam perawatan adalah terkait sekuele. Yakni, gejala sisa pascacedera. Masih adanya gangguan persarafan membuat pasien belum bisa menggerakkan kakinya. ”Sampai sekarang kaki belum bisa digerakkan. Tapi, masih ada kemungkinan kaki pasien bisa sembuh. Hanya saja perlu waktu yang tidak sebentar, paling cepat 3 bulan,” ungkap Tomy.
Dia menjelaskan, saat ini pasien masih merasa trauma. Meski begitu, korban sudah bisa diajak berkomunikasi. Upaya pemulihan terus berjalan, termasuk pemulihan trauma. ”Saat ini fokus kami adalah pengembalian fungsi saraf dan psikologis pasien pasca kejadian,” ujarnya. (ian/c18/fal)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
