Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 November 2021 | 02.46 WIB

Pertama Ikut Demo di Belanda, Pelajar SMP Gresik Ini Terkagum-kagum

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Aksi menyuarakan tentang lingkungan di wilayah aglomerasi Surabaya Raya, sudah kerap dilakoni Aeshnina Azzahra Aqilani. Bersama para pegiat lingkungan lainnya, isu-isu yang diangkat biasanya tentang stop sampah plastik dan kebersihan sungai.

Namun, pengalaman aksi di luar negeri, baru kali pertama dirasakan pelajar SMPN 12 Gresik itu. Minggu (7/11) pagi, Nina—panggilan akrabnya—ikut demontrasi krisis iklim di Kota Amsterdam, Belanda. Ada ribuan orang yang turun ke jalan.

Kepada Jawa Pos Nina menceritakan pengalaman pertamanya itu. ‘’Semua usia ikut turun ke jalan. Mulai anak-anak, bapak-bapak, hingga kakek-nenek. Banyak sekali yang ikut. Puluhan ribu orang. Sampai-sampai trem atau kereta api macet,’’ ungkap remaja 14 tahun itu.

Nina heran dan takjub dengan cara warga di Amsterdam dalam menyuarakan aksi krisis iklim itu. Selain begitu masal, juga relatif tidak ada yang membawa barang, poster, atau spanduk terbuat dari plastik. Semua berbahan kertas atau karton bekas. ‘’Peserta aksi menulis sendiri-sendiri apa yang ingin disuarakan,’’ ucap dia.

Nina sendiri membawa poster bertuliskan: Plastic crisis destroys my future. Selama berada di Amsterdam, Nina juga intensif menyuarakan masalah sampah plastik. Termasuk ketika menjadi salah seorang keynote speaker paling muda di Plastic Health Summit 2021 pada Oktober lalu.

Surat yang ditulis Nina untuk Perdana Menteri Belanda Mark Rutte juga tentang permintaan agar Belanda menghentikan ekspor sampah plastik ke Indonesia. Sebab, Belanda termasuk salah satu negara Eropa pengirim sampah plastik terbanyak ke Indonesia.

Dalam aksi krisis iklim tersebut, Nina tidak hanya sekadar membawa poster. Dia juga ikut berorasi menggunakan megaphone. Dia bersama ribuan peserta aksi itu menyusuri jalan protokol di Amsterdam sepanjang 10 kilometer. Mulai dari Dam Square hingga Westerpark. ‘’Tertib. Saking ramainya, kayak gerak jalan Mojokerto-Surabaya itu,’’ ungkapnya.

Yang menarik lagi, lanjut dia, di tepi-tepi jalan sepenjang rute aksi, banyak yang menyajikan hiburan. Mulai musik seriosa, band, hingga drumband. ‘’Ini sungguh pengalaman berharga bagi saya,’’ kata Nina.

Menurut Nina, krisis iklim memang tengah dalam sorotan dunia. Gerakan yang mengangkat isu tersebut semakin marak. Termasuk aksi di Amsterdam yang diikutinya. Sebab, kondisi bumi semakin memburuk akibat terjadi pemanasan global. Cuaca menjadi tidak menentu, ketinggian permukaan air laut meningkat, mencairnya es di kutub utara, hingga banjir. Pemicu krisis iklim antara lain penggunaan energi yang tidak terbarukan, pembakaran plastik, dan sejenisnya.

‘’Persoalan (sampah plastik) itu juga akan saya suarakan di Glasgow,’’ kata putri bungsu pasangan suami istri Prigi Arisandi-Dr Daru Setyorini yang tinggal di Wringinanom, Gresik, itu.

Selain di Amsterdam, Nina juga mendapat undangan menghadiri rangkaian kegiatan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) di Glasgow, Skotlandia, Inggris. COP merupakan forum tingkat tinggi tahunan yang dihadiri ratusan negara. Presiden RI Joko Widodo juga hadir awal November lalu. Agenda COP adalah membicarakan perubahan iklim dan rencana negara-negara peserta menanggulanginya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore