
Ika Novi menunjukkan surat penerimaan anaknya di SMPN 15 Surabaya. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Pelajar SD-SMP yang masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) akan mendapatkan seragam gratis. Ketentuan itu sudah dipastikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
”Seragam tidak wajib beli. Untuk warga MBR gratis,” tutur Eri.
Namun, hal berbeda dialami Ika Novi, 39, wali murid siswa SMPN 15 Surabaya. Putra Ika yang masih duduk di kelas VII dimintai uang sejumlah Rp 1.500.000 untuk seragam.
”Kami dikenakan biaya kain seragam karena kalau nggak pakai seragam, nggak bisa sekolah. Biaya harus dibayar sebesar 1.500.000 tiap siswa. Katanya kalau beli di luar takutnya beda. Jadi harus beli di sekolah,” tutur Ika pada Kamis (2/9).
Dengan nominal itu, Ika mendapatkan 4 kain seragam. Kain itu di antaranya untuk seragam putih biru, batik, dan baju Pramuka.
”Padahal untuk menjahit juga butuh biaya. Saat ini penghasilan suami menipis karena pandemi. Suami saya kuli. Hampir sebulan libur. Serabutan. Kalau ada proyek ya kerja. Kalau nggak ada ya enggak,” beber Ika.
Hal yang sama diungkapkan Sulastri, 42. Anak kembarnya bersekolah di SMPN 54. Keduanya masih duduk di bangku kelas VII. ”Kata sekolah, harus beli kain seragam di sekolah biar nggak berbeda,” jela Sulastri.
Ketika dikonfirmasi, Kepala SMPN 15 Surabaya Sahibur Rahman menampik kabar itu. Dia menegaskan, tidak ada kewajiban membeli seragam, terutama bagi warga MBR.
”Nggak ada kewajiban. Yang punya seragam baru boleh dipakai. Juga boleh seragam lama. Nggak ada ketentuannya. Pokoknya nggak wajib,” tutur Sahibur Rahman.
Sahibur Rahman, mengaku sekolah tidak mewajibkan beli seragam. Hal itu pun sudah disosialisasikan pada warga. ”Kalau ada yang bilang beli 1.500.000 bentuk kain itu salah. Kita gak sampai Rp 1,5 juta,” tegas Sahibur Rahman.
Memang, lanjut Rahman, sekolahnya menyediakan paket kain untuk siswa. Nilainya mencapai Rp 1,3 juta. Kain itu disediakan koperasi sekolah.
”Memang bentuk kain. Nggak berani berisiko. Koperasi menyediakan. Di tempat saya banyak yang beli,” jelas Sahibur Rahman.
Dia mengakui, sempat ada masalah soal penyediaan seragam. Saat itu, seorang penjahit menawarkan jasa bagi pelajar.
”Tapi seolah tanggung jawab penuh dari sekolah. Terus ada yang komplain ke sekolah karena bajunya kebesaran. Jadi kita gak mau dikomplain makanya cuma jual kain,” tutur Sahibur Rahman.
Dia kembali menegaskan, tidak ada kewajiban beli seragam bagi siswa SMPN 15. ”Di SMPN 15 tidak ada kewajiban beli seragam. Saya jamin,” ucap Sahibur Rahman.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
