Memang, bunga tabebuya yang bermekaran di Kota Surabaya terlihat sangat mirip dengan bunga sakura, namun asal bunga ini bukan dari Jepang. Usut punya usut, tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, tepatnya dari Brasil dan Paraguay.
Kota Surabaya terlihat makin cantik sejak bunga tabebuya mekar berjamaah di sejumlah ruas jalan Kota Pahlawan tersebut. Bunga tabebuya ini memiliki siklus mekar tiga kali dalam setahun, maksimal.
Secara umum, bunga tabebuya dapat dinikmati di bulan Juli-Agustus dan Oktober-November. Praktisnya, bunga ini hanya dapat mekar ketika pergantian musim dan selama musim kemarau.
Bunga Tabebuya tampaknya cocok dengan cuaca panas yang khas Kota Pahlawan. Sebab, tanaman tersebut bisa tumbuh dengan subur dan mekar dengan elok.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Myrna Augusta Aditya Dewi mengatakan bahwa kemarau panjang dan suhu yang meningkat memicu bunga tabebuya cepat mekar.
"Semakin panas akan berbunga," ujarnya seperti yang dikutip dari Radar Surabaya pada Kamis (23/11).
Myrna juga menjelaskan jenis-jenis warna bunga tabebuya yang ditanam oleh Pemkot Surabaya. Dari mulai warna putih, merah muda, kuning, ungu, dan merah yang totalnya sekitar 16.741 pohon tersebar di seluruh penjuru Kota Pahlawan.
Dalam proporsinya, jumlah bunga tabebuya warna putih dan merah muda lebih banyak dibandingkan dengan warna lainnya.
Melansir dari Radar Surabaya, bunga tabebuya warna kuning jumlahnya sekitar 4.658 pohon, warna ungu sebanyak 100 pohon, merah sekitar 162 pohon, dan sisanya warna putih dan merah muda sekitar 11.821 pohon.
"Warna ungu jumlahnya terbatas, hanya ada 100 pohon. Itu ada di Jalan Dr Soetomo, Jalan Tunjungan, Jalan Polisi Istimewa, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Kusuma Bangsa, Jalan Hangtuah, Jalan Mrutu, dan Jalan Nyamplungan," terang Myrna.
Dalam persebarannya, bunga tabebuya di Kota Surabaya paling banyak terdapat di kawasan Jalan Ahmad Yani, Arif Rahman Hakim, Kertajaya Indah, Dharmahusada Indah, Dharmahusada, Ambengan, Gelora Bung Tomo (GBT), Mayjen Sungkono, Wiyung, Ngagel Jaya Selatan, dan Jalan HR Muhammad.
Sejak adanya bunga tabebuya, kini tanaman tersebut menjadi salah satu ikon baru bagi Kota Surabaya. Selain menambah kecantikan Kota Pahlawan, mekarnya bunga tabebuya juga jadi penanda alamiah peralihan musim atau pancaroba.
"Kalau sudah berbunga itu biasanya beberapa hari lagi akan hujan, jadi akan ada perubahan cuaca," ungkap Myrna.
"Ke depan, kita sedang mencari tanaman lagi, selain tabebuya untuk menjadikan ikon baru Kota Surabaya. Tetapi, hal ini menyesuaikan dengan kondisi dan lingkungan di Surabaya," imbuhnya.
Menurut Kepala DLH Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro, fenomena bunga tabebuya ini menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota Surabaya. Sehingga, pihaknya berencana mengusung tema Tabebuya Blossom untuk membangkitkan potensi wisata Kota Pahlawan agar perekonomian meningkat.
"Semua tamu yang ke Kota Surabaya, terutama ke DLH itu menanyakan soal tabebuya. Dan bahkan, kemarin orang-orang Jakarta itu telepon dan tanya kapan mekar dan berapa hari mekarnya. Mereka akan melihat, membuat profil, foto tabebuya Surabaya. Mau kita arahkan ke wisata, kenapa tidak," jelasnya.
Fenomena mekarnya bunga tabebuya di Surabaya memang menjadi viral di jagat maya seperti Instagram. Masyarakat ramai-ramai membagikan foto bunga tabebuya yang bermekaran bak Negeri Sakura, Jepang. Namun sayang, bunga ini umurnya pendek, sekitar 1-2 minggu, lalu gugur. Serta tidak mekar saat musim hujan.