Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 November 2023 | 22.48 WIB

Bukan Pancaroba, BMKG Sebut Surabaya Sering Mendung Akibat Fenomena Lapisan Inversi, Bikin Kualitas Udara Buruk

Awan mendung menyelimuti kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, Kamis sore (16/11). (Radar Surabaya/Suryanto)


JawaPos.com - Kota Surabaya memang mulai sering mendung dalam beberapa hari terakhir. Namun hal  itu bukan berarti kota Pahlawan sudah memasuki fase peralihan cuaca. Fenomena mendung itu ternyata dipengaruhi oleh lapisan inversi. Hal itu membuat kondisi cuaca mengalami perubahan dan mempengaruhi polusi udara.

Sub Koordinasi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, Teguh Tri Susanto mengatakan, Surabaya sudah beberapa kali mengalami hujan ringan.
 
Selain itu, awannya juga sering mendung. Kedua hal tersebut menjadi indikator peralihan musim dari kemarau menuju hujan.

"Tapi saat ini belum murni pancaroba, karena ada faktor lain. Kota Surabaya mengalami fenomena lapisan inversi. Artinya, kondisi lapisan atmosfer berbalik," ujar Teguh, Kamis (16/11) seperti dikutip dari Radar Surabaya (Jawa Pos Grup).
 
Baca Juga: Prediksi Senegal U-17 vs Jepang U-17, Tak Ada Jalan Keluar Selain Kemenangan

Teguh menyebutkan dalam kondisi normal, lapisan atmosfer yang hangat berada di bawah dan dingin berada di atas. "Karena sedang terjadi kekaburan jarak pandang akibat adanya lapisan inversi,” imbuhnya.

Teguh menambahkan hal itu membuat udara terhambat untuk naik dan terdispersi, sehingga polutannya terjebak di permukaan.

“Fenomena ini dapat terjadi karena adanya distribusi suhu dan kelembaban yang tidak merata dalam atmosfer, serta pengaruh cuaca dan topografi tertentu. Lapisan inversi dapat menyebabkan perubahan kondisi cuaca dan dapat mempengaruhi polusi udara,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat kualitas udara di Kota Surabaya menjadi buruk. "Ya, karena polutan ini tidak dapat tersebar dan diencerkan dengan baik," terang Teguh.
 
Baca Juga: Buang Stigma Buruk Jauh-jauh! Begini Cara Menjaga Gaya Hidup dan Kesehatan Bagi Penyintas HIV

Lapisan inversi menyebabkan timbulnya kabut. Selain itu, dapat mempengaruhi kondisi cuaca. Khususnya pola cuaca lokal.

"Menghambat pertukaran udara antara lapisan atmosfer yang berbeda," imbuhnya.

Teguh memperingatkan fenomena lapisan inversi itu bisa berbahaya. Karena dapat mengganggu penerbangan, serta perubahan suhu dan kelembaban udara.

“Lapisan inversi dapat mempengaruhi penerbangan karena perubahan mendadak dalam suhu dan kelembaban udara. Kita memprediksi awal musim hujan Surabaya di Desember dasarian 1 dan 2 atau awal bulan hingga pertengahan," pungkasnya.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore