Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Februari 2021 | 18.59 WIB

Soal Paus yang Terdampar, Pakar Biologi ITS Sebut Sedang Masa Migrasi

Paus terdampar di pantai Bangkalan. Humas ITS - Image

Paus terdampar di pantai Bangkalan. Humas ITS

JawaPos.com–Warga Surabaya masih bertanya-tanya dari mana asal puluhan paus yang terdampar di Kabupaten Bangkalan, Madura, pada Kamis (18/2).

Fenomena itu disoroti Kepala Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dewi Hidayati. Berdasar beberapa jurnal dan laporan media massa, pakar biologi kelautan itu mengungkapkan, dalam periode tertentu ikan paus akan melakukan migrasi secara berkelompok. Umumnya, paus yang bermigrasi melalui perairan Indonesia adalah jenis paus pilot atau short-finned pilot whale.

Di Kabupaten Bangkalan, terdapat 52 ekor paus yang terdampar. Dewi memperkirakan, paus-paus tersebut berasal dari perairan Australia dan akan melewati perairan Indonesia.

”Dalam sebuah jurnal dari journal.org tentang aktivitas migrasi paus mengungkapkan bahwa migrasi akan mencapai puncaknya pada Februari dan Mei. Pada penelitian tersebut dan juga beberapa laporan lain menyebutkan bahwa paus umumnya akan melewati jalur yang sama untuk bermigrasi,” ujar Dewi pada Senin (22/2).

Berbicara tentang kemampuan paus yang bisa mengingat jalur yang dilalui setiap tahun, hal itu bisa dilakukan berkat adanya biomagnitit sebagai zat di retina cetacea. Zat tersebut berfungsi sebagai indra magnetis yang membantu mengetahui ke arah mana mereka bergerak.

”Hal ini membuat paus peka terhadap perubahan medan magnet bumi,” terang Dewi.

Dalam sebuah referensi artikel ilmiah berjudul In - depth Whale Navigation: Navigating the Long Way Home karya Robin Marks, lanjut dia, paus yang mengikuti jalur magnet itu kemungkinan besar akan terdampar di daerah yang jalurnya berbelok.

”Kemungkinan termasuk di beberapa perairan pantai Pulau Madura dan kawasan Selat Madura,” jelas Dewi.

Dia memprediksi, perubahan yang terjadi pada navigasi paus dipengaruhi berbagai macam faktor. Misalnya, cuaca ekstrem, gelombang sinar matahari, perubahan garis pantai, paus sakit, dan bisa saja dari aktivitas kilang minyak di sekitar perairan.

”Karena ada juga referensi yang mengatakan bahwa rig (bangunan lepas pantai) dijadikan patokan magnetik bagi paus,” kata Dewi.

Salah satu dosen yang merupakan anggota Laboratorium Zoologi dan Rekayasa Hewan Biologi ITS itu menyimpulkan, sebenarnya banyak teori terkait anomali tersebut. Sebab, banyak kasus yang terjadi namun penyebabnya belum diketahui secara pasti.

”Saat ini masyarakat dengan kearifan lokal telah melakukan beberapa upaya penyelamatan. Diharapkan ke depan, masyarakat lokal bersama institusi terkait dapat membuat protokol langkah mitigasi dalam menangani kasus paus yang terdampar. Pasalnya, tidak hanya sekali terjadi di Indonesia,” papar Dewi.

Dengan respons masyarakat diharapkan bisa membantu paus untuk kembali melakukan perjalanan migrasi.

”Besarnya tubuh paus yang menyebabkan ia tak dapat bermanuver kembali ke laut, sehingga dibutuhkan bantuan langsung dari manusia,” tutur Dewi.

Dewi menganjurkan langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat saat ini untuk mengatasi masalah paus terdampar di pantai adalah, memprediksi kapan dan di mana peristiwa paus biasanya terdampar.

”Bisa digalakkan untuk membangun pos paus di sekitar pantai, pos ini berfungsi sebagai pemantau kondisi pantai, juga bisa sebagai media edukasi paus,” kata Dewi.

Ke depannya, bila masyarakat melihat paus-paus terdampar, Dewi menganjurkan untuk menjaga paus tetap dalam keadaan basah.

”Sebab penyebab paus mati karena kehilangan kadar air di tubuhnya secara drastis. Langkah ini bisa dilakukan dengan menyiram dan membasahi tubuh dengan air laut, atau dengan segera melepasnya ke laut kembali,” ujar Dewi.

”Jika tidak memungkinkan, untuk mengurangi penderitaan, beberapa referensi ilmiah menyarankan euthanasia. Hal ini dikutip dari beberapa referensi, salah satunya dari buku National Guidance on the Management of Whale and Dolphin Incidents in Australian Waters,” tambah Dewi.

Mengenai perlakuan bangkai paus, Dewi menyarankan untuk mengutamakan membuang bangkai ke laut. Sebab, dengan banyaknya bangkai yang membusuk, menjadi sumber makanan predator yang dapat berkontribusi pada rantai makanan laut.

”Atau mungkin dari rangka paus yang mati bisa dijadikan sebagai sumber bahan pengajaran untuk mengembangkan studi tentang mamalia laut ini,” ucap Dewi.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/G4yv3uOh5rg

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore