Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Oktober 2023 | 19.08 WIB

Pemkot Surabaya Tambah Alat Pantau Penurunan Tanah, Perbanyak Mangrove Cegah Intrusi Air Laut

BUFFER ZONE: Potret kawasan pesisir dengan tanaman mangrove di kawasan Tambak Wedi. Untuk pencegahan intrusi air laut, Pemkot Surabaya harus banyak melakukan perluasan penanaman mangrove. - Image

BUFFER ZONE: Potret kawasan pesisir dengan tanaman mangrove di kawasan Tambak Wedi. Untuk pencegahan intrusi air laut, Pemkot Surabaya harus banyak melakukan perluasan penanaman mangrove.

JawaPos.com – Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan pesisir, Surabaya rentan terhadap penurunan muka tanah dan intrusi air laut. Dampaknya, bisa terjadi banjir rob hingga merusak bangunan karena air laut meresap ke wilayah daratan.

Berdasar penelitian yang pernah dilakukan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya mengalami penurunan tanah hingga 40 milimeter per tahun di kawasan tertentu, sebut saja Surabaya Utara.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Myrna Augusta Aditya Dewi mengatakan, salah satu penyebab penurunan muka tanah adalah pemanfaatan air tanah yang berlebihan.

Ketika cadangan air tanah dikuras, struktur bawah tanah akan rapuh. Tanah yang turun mengakibatkan banjir rob dan intrusi air laut. Yakni, kondisi ketika air laut meresap ke tanah yang sebelumnya terisi oleh air tawar bawah tanah.

’’Risikonya besar, apalagi untuk bangunan. Bisa-bisa akan terkena korosi dan rapuh,’’ paparnya kemarin (30/9).

Saat ini Surabaya memiliki dua alat pantau penurunan muka tanah dan air tanah di Kelurahan Perak dan Bubutan. Tahun ini rencananya dipasang satu lagi alat pantau.

’’Jadi, nanti totalnya tiga titik. Yang terbaru diletakkan di Wonorejo. Ini hasil dukungan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),’’ ungkap Myrna.

Menurut dia, sejauh ini kondisi wilayah Surabaya yang terbangun masih aman dari intrusi. Penyebabnya, ada kawasan yang dijadikan sebagai buffer zone. Seperti di Surabaya Timur ada 2.500 hektare lahan area konservasi yang ditanami mangrove.

’’Nah, tanaman ini bisa membendung air laut meresap hingga ke kawasan kota,’’ jelasnya.

Selain itu, saat ini pemanfaatan air tanah dibatasi. Pengajuan pengeboran baru sudah dimoratorium. Perizinan pun tidak lagi di Pemkot Surabaya, melainkan di Pemprov Jatim. ’’Sumber air dialihkan sepenuhnya untuk memakai air PDAM,’’ katanya.

Sementara itu, anggota laboratorium geodesi dan geodinamika Departemen Teknik Geomatika ITS Ira Mutiara Anjasmara mengungkapkan, secara topografi Surabaya berada di dataran rendah dengan ketinggian 1–10 meter sehingga rentan dengan penurunan tanah.

Secara historis pembentukan daratan di Surabaya berasal dari sedimentasi sungai yang membentuk delta. (gal/c17/jun)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore