Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 September 2023 | 21.58 WIB

Cuaca Panas Akibatkan Melasma dan Infeksi Jamur, Posisi Matahari Tepat di Garis Khatulistiwa

HINDARI PANAS: Darlene (kiri) dan Michelle memakai payung saat beraktivitas di luar ruangan kemarin siang (24/9). Beberapa hari terakhir cuaca Surabaya kian panas. - Image

HINDARI PANAS: Darlene (kiri) dan Michelle memakai payung saat beraktivitas di luar ruangan kemarin siang (24/9). Beberapa hari terakhir cuaca Surabaya kian panas.

JawaPos.com – Cuaca Surabaya kian terik beberapa hari terakhir. Penyebabnya posisi matahari yang bergerak dari bagian selatan bumi hingga garis khatulistiwa. Selain rentan terpapar radiasi, hawa panas menyengat juga bisa memicu munculnya melasma dan infeksi jamur pada kulit.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Fajar Setiawan mengatakan, musim hujan di Surabaya baru terjadi November mendatang. ”Bulan Oktober masih masa peralihan,” ucapnya kemarin (24/9).

Kondisi panas selama beberapa hari terakhir terjadi karena posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Pada Sabtu (23/9), matahari berada tepat di garis khatulistiwa atau disebut sebagai ekuinoks. Hingga kemarin, panas menyengat masih dirasakan warga Surabaya.

”Karena posisi matahari tersebut, Jatim memang dapat penyinaran matahari lebih tinggi dari sebelumnya,” tambahnya.

Peningkatan radiasi turut terjadi. Namun, masih dalam batas normal. Fajar meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Pihaknya mengimbau agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Terutama pada kisaran pukul 10.00–14.00. Apabila terpaksa di luar ruangan, pastikan kulit terlindung dari paparan sinar matahari langsung.

Hal serupa disampaikan Dr Ary Widhyasti Bandem MKes SpKK FINSDV FAADV. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) Cabang Surabaya itu mengingatkan agar sebisanya warga mengenakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.

Misalnya, memakai pakaian yang menutup seluruh badan, topi, hingga payung. ”Penggunaan sunscreen juga wajib. Meski sudah menggunakan pelindung,” tuturnya.

Menurut dia, peningkatan radiasi memang memiliki beberapa risiko. Namun, masyarakat tak perlu khawatir dengan kondisi sunburn atau terbakar akibat panas matahari.

”Secara umum, kasus sunburn tidak meningkat. Ini karena tipe kulit Asia punya jumlah melanin yang cukup tinggi,” tutur dokter spesialis kulit dan kelamin di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya Barat itu.

Tipe kulit Asia masuk kategori tipe III-V dalam klasifikasi Fitzpatrick. Kategori tersebut memiliki jumlah melanin yang cukup tinggi sehingga bisa menciptakan proteksi dari kasus sunburn. Oleh sebab itu, masyarakat cukup menggunakan pelindung seperti pakaian dan berteduh saat intensitas sinar matahari tinggi.

”Kasus sunburn biasanya muncul kalau di tempat wisata. Wisatawan dengan kulit terang berjemur, berenang di pantai, atau mendaki gunung,” paparnya.

Paparan UV dan suhu panas meningkatkan kasus melasma serta infeksi jamur. Jamur muncul pada kukit karena keringat. Mulai kurap, panu, hingga jamur pada kuku. Sedangkan, kasus melasma atau bercak-bercak kecokelatan dipengaruhi faktor hormonal, iritasi, dan paparan sinar UV yang lama.

Sementara itu, cuaca panas di metropolis beberapa hari terakhir tak menyurutkan wisatawan berkunjung di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran. ”Iya, kami ngadem. Di sini banyak pepohonan,’’ kata Lusy.

Beberapa bulan terakhir, indeks UV di Surabaya antara skor 8–10, terutama saat siang. Artinya, skor tersebut masuk dalam kategori very high atau risiko bahaya sangat tinggi. (dya/zam/c6/aph)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore