
HINDARI PANAS: Darlene (kiri) dan Michelle memakai payung saat beraktivitas di luar ruangan kemarin siang (24/9). Beberapa hari terakhir cuaca Surabaya kian panas.
JawaPos.com – Cuaca Surabaya kian terik beberapa hari terakhir. Penyebabnya posisi matahari yang bergerak dari bagian selatan bumi hingga garis khatulistiwa. Selain rentan terpapar radiasi, hawa panas menyengat juga bisa memicu munculnya melasma dan infeksi jamur pada kulit.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Fajar Setiawan mengatakan, musim hujan di Surabaya baru terjadi November mendatang. ”Bulan Oktober masih masa peralihan,” ucapnya kemarin (24/9).
Kondisi panas selama beberapa hari terakhir terjadi karena posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Pada Sabtu (23/9), matahari berada tepat di garis khatulistiwa atau disebut sebagai ekuinoks. Hingga kemarin, panas menyengat masih dirasakan warga Surabaya.
”Karena posisi matahari tersebut, Jatim memang dapat penyinaran matahari lebih tinggi dari sebelumnya,” tambahnya.
Peningkatan radiasi turut terjadi. Namun, masih dalam batas normal. Fajar meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Pihaknya mengimbau agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Terutama pada kisaran pukul 10.00–14.00. Apabila terpaksa di luar ruangan, pastikan kulit terlindung dari paparan sinar matahari langsung.
Hal serupa disampaikan Dr Ary Widhyasti Bandem MKes SpKK FINSDV FAADV. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) Cabang Surabaya itu mengingatkan agar sebisanya warga mengenakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Misalnya, memakai pakaian yang menutup seluruh badan, topi, hingga payung. ”Penggunaan sunscreen juga wajib. Meski sudah menggunakan pelindung,” tuturnya.
Menurut dia, peningkatan radiasi memang memiliki beberapa risiko. Namun, masyarakat tak perlu khawatir dengan kondisi sunburn atau terbakar akibat panas matahari.
”Secara umum, kasus sunburn tidak meningkat. Ini karena tipe kulit Asia punya jumlah melanin yang cukup tinggi,” tutur dokter spesialis kulit dan kelamin di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya Barat itu.
Tipe kulit Asia masuk kategori tipe III-V dalam klasifikasi Fitzpatrick. Kategori tersebut memiliki jumlah melanin yang cukup tinggi sehingga bisa menciptakan proteksi dari kasus sunburn. Oleh sebab itu, masyarakat cukup menggunakan pelindung seperti pakaian dan berteduh saat intensitas sinar matahari tinggi.
”Kasus sunburn biasanya muncul kalau di tempat wisata. Wisatawan dengan kulit terang berjemur, berenang di pantai, atau mendaki gunung,” paparnya.
Paparan UV dan suhu panas meningkatkan kasus melasma serta infeksi jamur. Jamur muncul pada kukit karena keringat. Mulai kurap, panu, hingga jamur pada kuku. Sedangkan, kasus melasma atau bercak-bercak kecokelatan dipengaruhi faktor hormonal, iritasi, dan paparan sinar UV yang lama.
Sementara itu, cuaca panas di metropolis beberapa hari terakhir tak menyurutkan wisatawan berkunjung di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran. ”Iya, kami ngadem. Di sini banyak pepohonan,’’ kata Lusy.
Beberapa bulan terakhir, indeks UV di Surabaya antara skor 8–10, terutama saat siang. Artinya, skor tersebut masuk dalam kategori very high atau risiko bahaya sangat tinggi. (dya/zam/c6/aph)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
