
Tenaga kesehatan di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya saling menyemangati. Dok. JawaPos
JawaPos.com - Pihak kepolisian terus mendalami kasus video viral keluarga pasien positif Covid-19 yang melumurkan kotoran manusia ke tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan tersebut datang dari Puskesmas Sememi, Surabaya.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran membenarkan adanya laporan dari salah satu petugas yang tubuhnya dilumuri kotoran. Ia mengungkapkan bahwa laporan sudah masuk ke SPKT guna memperkarakan peristiwa tersebut.
Ketika dikonfirmasi pada Sabtu (3/10), aparat kepolisian juga telah meminta keterangan kepada tiga orang. Mereka adalah korban yang mendapat penyerangan di lapangan, serta penerima pesan SMS bernada ancaman. “Benar kita periksa tiga orang. Bukan (saksi mata), tapi korbannya ada tiga, petugas puskesmas, sama yang di SMS itu, ada ancaman juga,” aku Sudamiran.
Ia juga mengungkapkan bahwa Polrestabes sedang mencari pengirim SMS ke petugas tersebut. Sudamiran merasa bahwa pengirim telah melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Satu ada SMS itu, ada nada pencemaran, ada penghinaan. Nanti kita melakukan identifikasi, itu nomornya (pengirim SMS) milik siapa,” imbuh dia.
Di sisi lain, pelaku masih belum diminta keterangan untuk menunggu hasil tes swab. “Iya setelah keluar hasil swab nya, mungkin dua hari lagi (keluar). Kita menunggu hasil SWAB-nya, baru kami menindaklanjuti. Semua masih kita dalami,” ungkapnya.
Sebelumnya, beredar video di sosial media (sosmed) Instagram dan WhatsApp yang menunjukkan seorang tenaga kesehatan (nakes) di Surabaya. Nakes tersebut dilumuri kotoran oleh istri pasien positif Covid-19. Setelah ditelusuri, nakes tersebut adalah petugas Puskesmas Sememi bernama Cholik Anwar.
Kabar itu pun dibenarkan oleh Kepala Puskesmas, Dr. Lolita Riamawati. Menurut dia, kejadian ini baru dialami oleh petugasnya. "Iya benar dari Puskesmas Sememi. Baru pertama kalinya kejadian itu terjadi. Karena tidak semua masyarakat itu bisa menerima penyakit COVID-19 ini," kata Lolita ketika dikonfirmasi pada Jumat (20/9).
Ia mengungkapkan peristiwa tersebut bermula ketika Petugas Puskesmas melakukan tracing di Rusun Bandarejo, Kelurahan Benowo, Kecamatan Sememi, pada Senin (28/9), lalu. "Kebetulan Mas Cholik ini Koordinator Tim Tracing Puskesmas Surabaya. Tapi pada hari itu petugas gagal membawa pasien untuk dievakuasi dan pihak keluarga juga enggan melakukan tes swab," paparnya.
Kemudian, lanjut Lolita, keesokan harinya yakni, Selasa (29/9), Petugas Puskesmas kembali lagi ke lokasi tersebut, guna membawa warga yang telah dinyatakan positif tersebut. Menurut Lolita, pasien tersebut telah berusia 60 tahun dan mempunyai penyakit penyerta berupa hipertensi dan riwayat stroke. Karena itu, nakes Puskesmas Sememi memaksa yang bersangkutan untuk dievakuasi.
"Saat mengevakuasi pasien, itu ada Mas Cholik, petugas Linmas, bidan dan driver yang membantu. Ketika akan memasukkan pasien ke ambulance, istri pasien ini keluar sambil membawa kresek hitam dan mengoleskannya,” tukasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
