
STERIL: Cipto menyemprotkan disinfektan di Gereja Kristus Radja, Tambaksari, Surabaya, Jumat (5/6). (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kebijakan new normal sedang dicanangkan pemerintah. Pemkot Surabaya masih menggodok mekanisme kebijakan tersebut. Salah satunya mencakup pembukaan rumah ibadat untuk melakukan ritual keagamaan secara langsung. Gereja, misalnya.
Pastor Gereja Kristus Raja Romo Dodik Agustinus CM menyatakan, gereja masih tetap melakukan ibadat secara daring. ’’Kalaupun Pemkot Surabaya sudah mulai untuk new normal, kami masih pikir-pikir untuk membuka gereja sampai Juli mendatang sembari menunggu arahan dari Keuskupan,’’ ujar Dodik. ’’Jika gereja akhirnya dibuka untuk umum, ada pengaturan yang harus dipersiapkan dan ini menjadi pertimbangan penting,’’ lanjutnya, kemudian melangkah masuk ke gereja.
Menurut Dodik, ada tiga hal yang harus dipersiapkan jika new normal berlaku. Pertama, fasilitas. Kedua, SDM/petugas gereja. Ketiga, mekanisme ibadat. Dia menyebutkan, untuk fasilitas, gereja sebenarnya telah menyediakan bilik disinfektan, thermo gun, dan wastafel.
’’Mungkin bisa jadi ditambah jika ada pemberlakuan. Misalnya, wastafel yang semula empat unit saya buat jadi sepuluh. Begitu pula thermo gun. Bisa ditambah sesuai dengan kebutuhan,’’ ungkapnya.
Di bagian lain, bilik disinfektan akan dimaksimalkan sebelum jemaat memasuki gereja. ’’Di sinilah pentingnya peran para petugas gereja. Harus diatur berapa orang yang stand by di pintu gerbang, pintu masuk gereja, maupun saat misa berlangsung,’’ katanya.
Mereka juga harus sigap mengarahkan jemaat untuk duduk sesuai dengan aturan physical distancing yang ditetapkan. ’’Tiap bangku diberi tanda silang. Itu menandakan tidak boleh diduduki,’’ jelas Dodik sembari memperhatikan bangku gereja.
’’Saya merasa new normal itu perlu kehati-hatian jika ingin diterapkan,’’ tutur Pendeta GKI Ngagel, Surabaya, Florida Rambu. Dia menyatakan, hingga Juli, pihaknya belum menerapkan ibadat secara langsung di gereja. Pertimbangannya tentu saja keselamatan jemaat. ’’Jadi, tidak boleh terburu-buru, harus ada pertimbangan matang,’’ tuturnya. ’’Terutama untuk pengetatan protokol seperti pengecekan suhu, cuci tangan, hingga jaga jarak antarjemaat,’’ paparnya.
Sementara itu, mekanisme ibadat juga bakal dilakukan bergilir. Di GKI Ngagel, Surabaya, ada 350 jemaat yang biasa beribadah. ’’Nanti kami juga atur sesuai dengan domisili,’’ ucap perempuan asal Sumba tersebut.
Protokol Ketat untuk Peribadatan
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022