Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Februari 2020 | 03.48 WIB

Victory Community Church Aktif Membantu Gereja Lain dan Jemaat

HANYA DI SURABAYA: Herman Santoso berharap kegiatan Victory Community Church menjadi percontohan gereja di daerah lain. (Septian Nur Hadi/Jawa Pos) - Image

HANYA DI SURABAYA: Herman Santoso berharap kegiatan Victory Community Church menjadi percontohan gereja di daerah lain. (Septian Nur Hadi/Jawa Pos)

Kegiatan sosial Victory Community Church sudah memberikan banyak manfaat nyata. Puluhan gereja yang tidak layak huni dibedah secara gratis. Berbagai bantuan diberikan. Baik untuk gereja, jemaat, maupun pendeta. Mulai memberikan santunan dan beasiswa hingga memberangkatkan pendeta ke Israel.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

Herman Santoso tidak percaya Victory Community Church (VCC) eksis dan aktif berkegiatan hingga saat ini. Padahal, di awal kegiatan membedah gereja, tepatnya pada 2016, kondisi keuangan organisasi tidak sehat. Neraca minus kerap mereka temui.

Gembala sidang VCC itu mengisahkan, pengeluaran memang tidak besar. Dengan kondisi tersebut, seharusnya cukup besar peluang agar kondisi keuangan tetap stabil. Namun, mereka malah mengalami defisit luar biasa.

’’Saya merasa heran. Apa ada yang salah dalam pengelolaannya,’’ kata Herman. Untuk menjawab pertanyaan, pemeriksaan menyeluruh dilakukan. Namun, hasilnya nihil. Sistem pengelolaan telah berjalan baik. Tidak terdapat kesalahan Kondisi itu membuatnya makin penasaran. Pria kelahiran Jember tersebut menganggap hal semacam itu sebagai cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Herman pun tidak putus berdoa meminta petunjuk kepada-Nya (Tuhan) agar Victory Community Church tetap berjalan.

Setelah berkutat dengan penasaran dan cemas selama tiga minggu, Herman berhasil mendapat solusi meski tidak secara langsung. Entah kenapa, di dalam benak pikirannya, selalu terlintas apa yang dibutuhkan umat Nasrani. Tempat ibadah, misalnya. Dia menyadari masih banyak gereja di Surabaya dalam kondisi fisik mengkhawatirkan. Biasanya, gereja itu berada di wilayah permukiman padat, perkampungan, atau kawasan ruko (rumah toko).

Herman sangat yakin, dengan cara berbagi dan peduli terhadap sesama, cobaan yang tengah dialaminya bakal berakhir. Bahkan dapat memberikan dampak positif ke depannya. Meski kondisi keuangan VCC tidak baik, bedah gereja tetap dijalankan.

Sebuah tim yang beranggota 23 orang pun dibentuk. Mereka bertugas mencari gereja mana saja yang memerlukan bantuan. Meski begitu, pihaknya tidak sembarangan mengambil keputusan. Tidak semua gereja memperoleh bantuan. Meski sudah tidak layak digunakan, hanya gereja yang berstatus resmi yang diberi bantuan. Resmi berarti gereja tersebut tidak memiliki masalah. Misalnya, tidak berdiri di atas lahan sengketa dan memiliki kelengkapan surat kepemilikan. Kebijakan itu diterapkan bukan tanpa alasan.

’’Kami tidak mau nanti malah timbul masalah. Misalnya, gereja disegel karena berdiri di lahan sengketa. Jika itu terjadi, sangatlah disayangkan. Jadi, seperti buang-buang uang,’’ ujar Herman.

Setelah pengecekan dokumen gereja selesai, pemeriksaan lain dilakukan. Yaitu, pengecekan ke lapangan. Di proposal, kebanyakan mereka meminta renovasi dilakukan secara total. Alasannya, tingkat kerusakan pada gereja tersebut cukup parah. Nyaris roboh. Namun, pihaknya tidak percaya begitu saja. Sebab, data yang terlampir di proposal kadang tidak sama dengan kenyataan di lapangan.

’’Ternyata benar. Setelah dicek, yang rusak hanya bagian atap atau kamar mandi. Semua bagian fisik lainnya masih bagus. Mungkin hanya cukup dicat ulang. Meski, banyak yang memberikan laporan sesuai dengan yang terjadi di lapangan,’’ jelasnya.

Kemudian, pengerjaan dimulai. Waktu penyelesaian pekerjaan bervariasi. Bergantung tingkat kerusakan pada gereja tersebut. Jika pihaknya hanya merenovasi bagian atap, memasang keramik, dan melakukan pengecatan, pengerjaan bisa diselesaikan dalam waktu sebulan. Namun, jika renovasi total, pengerjaan bisa memakan waktu tiga hingga lima bulan.

Sampai saat ini, Herman mengklaim 29 gereja telah diperbaiki. Kebanyakan gereja itu berdiri di permukiman, perkampungan, dan kawasan ruko.

Herman menuturkan, segudang pengalaman dan cerita didapatkan selama dirinya menjalankan kegiatan sosial tersebut. Ternyata kesulitan yang pernah dialami VCC belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan gereja lain. Gereja di salah satu wilayah Kupang Krajan, Sawahan, misalnya. Di rumah ibadah itu, belum ada toilet. Padahal, mayoritas jemaat gereja berasal dari golongan orang tua. Usianya di atas 50 tahun.

Alhasil, jika ada jemaat yang ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB), mereka harus pergi ke toilet umum. Di sana jarak toilet dari gereja lumayan jauh, yakni sekitar 100 meter.

’’Bisa dibayangkan, dengan fisik yang sudah tua, mereka harus menempuh jarak 100 meter dalam kondisi kebelet. Tidak sedikit di antara mereka yang tidak bisa menahannya sebelum sampai ke kamar mandi,’’ ungkapnya. Herman merasa prihatin dengan kondisi yang terjadi. Toilet pun dibangun.

Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan bedah gereja mulai diketahui masyarakat. Para donatur yang berasal dari jemaat berdatangan. Mereka menyumbang sesuai dengan kemampuan. Mulai uang tunai, bahan material, hingga tenaga kerja. Semuanya dilakukan para jemaat.

Selain bedah gereja secara gratis, lanjut Herman, berbagai kegiatan sosial juga tengah dijalankan VCC. Setiap hari 100 orang tidak mampu mendapatkan makanan secara gratis. Kemudian, beasiswa pendidikan terhadap warga panti asuhan diberikan hingga jenjang universitas. Pembinaan terhadap para tahanan juga dilakukan. Di antaranya, di lapas di Pamekasan, Blitar, Malang, dan Sidoarjo.

Tidak sampai di situ. Herman menyebutkan bahwa sudah ada empat pendeta yang diberangkatkan ibadah ke Israel. Semua biaya sepenuhnya ditanggung VCC. Jumlah pendeta yang diberangkatkan akan terus bertambah sesuai dengan kemampuannya.

Herman menyatakan, tampaknya semua kegiatan sosial itu hanya dilakukan di Surabaya. Bukannya tidak mau berbagi kepada masyarakat daerah lain, dia berharap yang dilakukannya bisa menjadi percontohan bagi yang lain. Jadi, kegiatan sosial tersebut tidak hanya dilakukan olehnya.

’’Berbagi terhadap orang lain tidak pernah ada ruginya. Misalnya, yang dialami Victory Community Church. Kesulitan yang sempat dialami sudah lewat. Bahkan, kini dampak positif kerap dirasakan,’’ paparnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore