Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 November 2019 | 01.18 WIB

Makam Kembang Kuning dan Putat Gede Penuh, Satu Liang Tumpuk Tiga

SANTAI: Warga menjahit dengan duduk di Makam Umum Putat Gede. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

SANTAI: Warga menjahit dengan duduk di Makam Umum Putat Gede. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)



JawaPos.com - Fenomena makam tumpuk hampir terjadi di tempat pemakaman umum (TPU) yang berusia puluhan tahun. Salah satunya, Makam Kristen Kembang Kuning. Makam peninggalan Belanda tersebut hanya menyisakan jalan setapak untuk para peziarah.




”Ya hampir semua keluarga yang ditinggalkan tidak keberatan bila harus ditumpuk. Daripada mepet-mepetan dengan makam lain,” kata Kepala Cabang Makam Kembang Kuning Arik Priastutik kemarin (4/11). ”Saat ini banyak makam yang tumpuk tiga,” lanjutnya.




Perempuan asal Mojokerto itu menambahkan, kepadatan juga membuat tatanan makam tersebut tidak lagi beraturan. ”Letak makamnya ada yang hadap timur, selatan, barat, dan utara. Demi menyesuaikan ketersediaan lahan,” imbuhnya.




Slamet Harianto, staf tata usaha (TU) Makam Kristen Kembang Kuning membenarkan hal itu. Saat ini jumlah jenazah yang dimakamkan di sana berangsur turun seiring dengan lahan yang semakin habis. ”Sebelum tahun 2000, sebulan rata-rata 70–90 pemakaman. Sekarang hanya 40-an,” ungkapnya.




Slamet selalu memberikan pengertian kepada ahli waris atau keluarga yang tengah berduka. Terkait penumpukan makam yang efektifnya dilakukan dengan jeda minimal 2–3 tahun sejak penguburan yang terakhir. Namun, jika ahli waris tetap bersikeras menumpuk sebelum jeda waktu itu, pihaknya akan tetap melaksanakan permintaan tersebut. Dengan surat pernyataan berisi persetujuan seluruh anggota keluarga. ”Kalau tidak begitu ya saya arahkan ke Keputih atau Babat Jerawat yang lahannya masih ada,” terangnya.




Kondisi serupa tersebut juga berlangsung di Makam Umum Putat Gede di Kecamatan Sawahan. Makam seluas 13,6 hektare itu difungsikan sejak 1900-an. Hampir semua makam di sana sudah ditumpuk jenazah lainnya.




Kepala Cabang Makam Umum Putat Gede Mujiono mengatakan, menumpuk jenazah dalam satu liang itu dilakukan atas permintaan keluarga ahli waris. Dia mengakui hal tersebut cukup membantu menghemat penggunaan lahan makam. ”Biasanya alasannya, biar kalau nyekar tidak jauh-jauh karena jadi satu,” ujarnya.




Nirwansyah, salah seorang staf Makam Umum Putat Gede mengungkapkan, dalam sebulan, makam tersebut melakukan 60 penguburan.

Pemkot Bangun Makam Baru di Warugunung




Kepadatan makam di Surabaya Selatan membuat Pemkot Surabaya berencana menyediakan lahan makam baru. Lahan tersebut berada di kawasan Warugunung.




Kepala UPTD Pemakaman Surabaya Aswin Agung menuturkan, Warugunung dipilih karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, terdapat aset pemkot berupa ruang terbuka hijau (RTH) seluas 5 hektare.




’’Perencanaan awal, makam seluas 28 hektare di antara total 80 hektare. Saat ini masih terus berproses untuk fokus membebaskan lahan. Belum tahu kapan akan dimulai, nunggu arahan selanjutnya,’’ ujarnya.




Dia menambahkan, di Warugunung mulai banyak permukiman. ’’Banyak perumahan baru di sana. Sudah menjadi tanggung jawab pemkot menambah dan menyediakan lahan makam,’’ tuturnya.




Aswin menjelaskan, makam baru itu nanti menjadi area makam terluas dan terbesar di Surabaya. Diharapkan, upaya pemkot itu bisa memecah kepadatan makam yang sudah penuh sesak, terutama di wilayah Surabaya Selatan.


Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore