
MENANTI PENUMPANG: Deretan angkot dan sopir lin D jurusan Sidotopo-Joyoboyo ngetem di Terminal Sidorame. Surabaya masih punya PR besar di bidang transportasi umum. (Nufur Difa Adiyat/Jawa Pos)
Surabaya memang terus berproses menuju lebih baik. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi catatan merah kemajuan Surabaya: transportasi umum. Untuk itu, Jawa Pos mencoba rute transportasi umum. Kami menjajal empat rute dengan angkot.
---
TERIK matahari begitu menyengat kulit Senin siang (16/9). Saat itu pukul 14.00. Tidak ada tempat yang pas untuk menunggu angkutan kota (angkot) atau lin di Jalan KH Ahmad Dahlan, Keputih, Kecamatan Sukolilo Pilihannya hanya menumpang duduk di warung kopi (warkop) pinggir jalan atau berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkot.
Jawa Pos memang ingin melakukan simulasi perjalanan. Kami membayangkan bahwa kami adalah pendatang yang tidak terlalu tahu tentang Surabaya dan ke mana-mana hendak naik transportasi umum. Untuk menguji seberapa baik transportasi umum di Surabaya.
Dari empat rute yang ditetapkan, saya kebagian rute ITS ke Tunjungan Plaza (TP). Saya bertanya kepada sejumlah warga sekitar cara menuju TP dengan angkot. Rata-rata menjawab tidak tahu. Bahkan, mereka lebih menyarankan untuk naik ojek online (ojol). Tidak ribet. Langsung sampai di tujuan. ”Enggak ada angkot ke TP dari sini. Ngapain ribet? Naik ojek onlineaja,” kata Sugiono, pria yang duduk santai di warkop.
Ojol memang salah satu solusi. Tapi, bukan itu yang hendak kami uji. Juga bukan pilihan bagi warga menengah ke bawah atau mahasiswa dengan kiriman uang pas-pasan.
Untung, kawasan tersebut masih kerap dilewati angkot. Ada dua trayek angkot yang melintas di area itu. Yakni, lin WK dengan trayek Keputih–Osowilangun dan lin O trayek Keputih–JMP. Lantaran kami ingin ke TP, dua jenis lin tersebut bisa dijadikan alternatif.
Kurang lebih sepuluh menit setelah kami menumpang di warkop, lin WK lewat. Kami naik agar bisa berhenti di Jalan Dharmahusada atau Karang Menjangan. Sebab, tidak ada lagi angkot langsung dari Keputih menuju TP di pusat kota. ”Kalau mau ke kota, semua harus turun dulu di Karang Menjangan,” kata sopir angkot yang saya tumpangi.
Tidak ada fasilitas lebih di dalam angkot. Kondisi di dalam angkot pun apa adanya. Kalau kata orang guyonan (bercanda), ”Murah njaluk selamet (murah minta selamat, Red).” Artinya, dengan tarif Rp 5 ribu per orang, jangan berharap lebih. Para penumpang harus pasrah dengan kondisi angkot yang kurang nyaman dan perjalanan yang sangat lambat. Belum lagi kalau angkot harus berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. ”Kalau enggak naik angkot, ya boros,” celetuk Rumiyati, ibu-ibu teman seperjalanan saya di angkot.
Perjalanan dari Keputih menuju Karang Menjangan kurang lebih 30 menit. Itu pun, kondisi lalu lintas tidak macet alias lancar. Hanya, memang sudah menjadi tradisi angkot berjalan sangat pelan untuk mendapatkan penumpang. ”Dulu angkot trayek Keputih ke Osowilangun sebanyak 150 unit. Sekarang tinggal 50 unit. Sudah sedikit. Banyak yang gulung tikar,” kata sopir.
Semakin terbatasnya moda angkot membuat masyarakat harus rela menunggu lama. Itu terjadi ketika harus oper dari Karang Menjangan ke Tunjungan Plaza. Kami harus menunggu lagi lin E jurusan Balongsari–Karang Menjangan.
Dari Karang Menjangan dengan lin menuju TP itu, perjalanan sekitar 30 menit. Kurang lebih kondisinya sama dengan angkot trayek lain. Tarifnya Rp 5.000 per orang. ”Gak macet ae ,ITS-TP sak jam,” kata Miftahus Sa’adah, mahasiswa ITS.Jika macet, tentu perjalanan lebih lama lagi.
Sejatinya, rute dari Keputih menuju TP juga bisa ditempuh dengan Suroboyo Bus. Hanya, untuk bisa naik Suroboyo Bus, penumpang harus menggunakan botol plastik. Namun, tidak semua orang siap dengan membawa botol plastik bekas. Apalagi pendatang.
Photo
Lin itu ngetem di Jalan Kalimas Baru II Lebar dan Jalan Teluk Kumai Utara. Sopir angkot mengaku bahwa di dua tempat itu banyak anak dan ibu-ibu yang akan naik. ’’Keduanya langganan penumpang saya,’’ kata Ismail, lantas tertawa. Sopir dari Jembatan Merah tersebut sengaja ngetem untuk memenuhi jumlah penumpang. ’’Terkadang enggak sesuai harapan. Ya, begini ini. Kadang empat. Kadang tiga. Bahkan pernah udah tiga kali putar hanya dapat satu penumpang,’’ kata pria 46 tahun itu.
Praktis, kecepatan lin untuk menuju ke Jembatan Merah hanya 10 km/jam. Ibarat jalan kura-kura, sangat lambat. ’’Kalau tidak begini, saya tidak dapat penumpang. Makan sehari-hari bisa kurang,’’ ungkapnya.
Lin N sama seperti lin K. Hanya membawa tiga penumpang dari Jembatan Merah. Pagi itu tidak terjadi kemacetan. Memang, menurut pengakuan sopir, kemacetan hanya terjadi saat ada pelebaran, perbaikan jalan, serta kegiatan masyarakat. Jika hari biasa, lalu lintasnya lancar-lancar saja. Misalnya, kemarin, mulai pagi hingga siang tidak terjadi kemacetan.
Selama 20 menit perjalanan, lin N menempuh rute dari Jembatan Merah–Jalan Veteran–Jalan Pahlawan–Jalan Kramat Gantung–Jalan Gemblongan–Jalan Genteng Kali–Jalan Ngemplak–Jalan Wali Kota Mustajab–hingga persimpangan Jalan Pemuda-Jalan Stasiun Gubeng.
’’Sebenarnya, moda transportasi umum dari Tanjung Perak ke Gubeng maupun sebaliknya sudah mencukupi. Angkot ini hanya butuh regenerasi,’’ ucap salah satu penumpang, Sinta Andini, kemarin.
Photo
BELUM NYAMAN: Suasana di Terminal Jembatan Merah yang menjadi hub angkutan umum di kawasan
Surabaya Utara. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)
Setelah naik angkot LMJ, nanti penumpang harus turun di Terminal Balongsari. Lantas, penumpang harus berpindah ke lin E yang melayani Balongsari–TP. Memang benar, sesampai di sana, ada empat lin E yang berjajar. Tapi, tidak ada satu pun yang menunjukkan tanda-tanda akan jalan. Seorang petugas dishub di terminal itu menyilakan penumpang untuk menunggu di area tunggu.
Satu jam menunggu, barulah satu angkot yang akan berangkat. Angkot sore itu disopiri Kasmo, pria yang sebenarnya joki mencari penumpang. Kebetulan, sore itu Kasmo berbaik hati. Dia mau mengemudikan angkot dan mengantar ke TP. ”Sebetulnya saya mau pulang ke Kenjeran, tapi enggak apa-apa, narik terakhir. Sekalian pulang,” katanya.
Dia menuturkan, semakin sore semakin jarang lin E yang beroperasi. Biasanya, maksimal pukul 16.00–17.00. Kasmo mengatakan, kendati angkot melayani rute Balongsari–TP, penumpang rata-rata hanya naik untuk jarak pendek. Sampai tujuan, angkot kosong tanpa penumpang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
