Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 September 2019 | 23.51 WIB

Naik Angkutan Umum di Surabaya: Gak Macet Ae, ITS–TP Sak Jam

MENANTI PENUMPANG: Deretan angkot dan sopir lin D jurusan Sidotopo-Joyoboyo ngetem di Terminal Sidorame. Surabaya masih punya PR besar di bidang transportasi umum. (Nufur Difa Adiyat/Jawa Pos) - Image

MENANTI PENUMPANG: Deretan angkot dan sopir lin D jurusan Sidotopo-Joyoboyo ngetem di Terminal Sidorame. Surabaya masih punya PR besar di bidang transportasi umum. (Nufur Difa Adiyat/Jawa Pos)

Surabaya memang terus berproses menuju lebih baik. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi catatan merah kemajuan Surabaya: transportasi umum. Untuk itu, Jawa Pos mencoba rute transportasi umum. Kami menjajal empat rute dengan angkot.

---

TERIK matahari begitu menyengat kulit Senin siang (16/9). Saat itu pukul 14.00. Tidak ada tempat yang pas untuk menunggu angkutan kota (angkot) atau lin di Jalan KH Ahmad Dahlan, Keputih, Kecamatan Sukolilo Pilihannya hanya menumpang duduk di warung kopi (warkop) pinggir jalan atau berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkot.

Jawa Pos memang ingin melakukan simulasi perjalanan. Kami membayangkan bahwa kami adalah pendatang yang tidak terlalu tahu tentang Surabaya dan ke mana-mana hendak naik transportasi umum. Untuk menguji seberapa baik transportasi umum di Surabaya.

Dari empat rute yang ditetapkan, saya kebagian rute ITS ke Tunjungan Plaza (TP). Saya bertanya kepada sejumlah warga sekitar cara menuju TP dengan angkot. Rata-rata menjawab tidak tahu. Bahkan, mereka lebih menyarankan untuk naik ojek online (ojol). Tidak ribet. Langsung sampai di tujuan. ”Enggak ada angkot ke TP dari sini. Ngapain ribet? Naik ojek onlineaja,” kata Sugiono, pria yang duduk santai di warkop.

Ojol memang salah satu solusi. Tapi, bukan itu yang hendak kami uji. Juga bukan pilihan bagi warga menengah ke bawah atau mahasiswa dengan kiriman uang pas-pasan.

Untung, kawasan tersebut masih kerap dilewati angkot. Ada dua trayek angkot yang melintas di area itu. Yakni, lin WK dengan trayek Keputih–Osowilangun dan lin O trayek Keputih–JMP. Lantaran kami ingin ke TP, dua jenis lin tersebut bisa dijadikan alternatif.

Kurang lebih sepuluh menit setelah kami menumpang di warkop, lin WK lewat. Kami naik agar bisa berhenti di Jalan Dharmahusada atau Karang Menjangan. Sebab, tidak ada lagi angkot langsung dari Keputih menuju TP di pusat kota. ”Kalau mau ke kota, semua harus turun dulu di Karang Menjangan,” kata sopir angkot yang saya tumpangi.

Tidak ada fasilitas lebih di dalam angkot. Kondisi di dalam angkot pun apa adanya. Kalau kata orang guyonan (bercanda), ”Murah njaluk selamet (murah minta selamat, Red).” Artinya, dengan tarif Rp 5 ribu per orang, jangan berharap lebih. Para penumpang harus pasrah dengan kondisi angkot yang kurang nyaman dan perjalanan yang sangat lambat. Belum lagi kalau angkot harus berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. ”Kalau enggak naik angkot, ya boros,” celetuk Rumiyati, ibu-ibu teman seperjalanan saya di angkot.

Perjalanan dari Keputih menuju Karang Menjangan kurang lebih 30 menit. Itu pun, kondisi lalu lintas tidak macet alias lancar. Hanya, memang sudah menjadi tradisi angkot berjalan sangat pelan untuk mendapatkan penumpang. ”Dulu angkot trayek Keputih ke Osowilangun sebanyak 150 unit. Sekarang tinggal 50 unit. Sudah sedikit. Banyak yang gulung tikar,” kata sopir.

Semakin terbatasnya moda angkot membuat masyarakat harus rela menunggu lama. Itu terjadi ketika harus oper dari Karang Menjangan ke Tunjungan Plaza. Kami harus menunggu lagi lin E jurusan Balongsari–Karang Menjangan.

Dari Karang Menjangan dengan lin menuju TP itu, perjalanan sekitar 30 menit. Kurang lebih kondisinya sama dengan angkot trayek lain. Tarifnya Rp 5.000 per orang. ”Gak macet ae ,ITS-TP sak jam,” kata Miftahus Sa’adah, mahasiswa ITS.Jika macet, tentu perjalanan lebih lama lagi.

Sejatinya, rute dari Keputih menuju TP juga bisa ditempuh dengan Suroboyo Bus. Hanya, untuk bisa naik Suroboyo Bus, penumpang harus menggunakan botol plastik. Namun, tidak semua orang siap dengan membawa botol plastik bekas. Apalagi pendatang.

Jalan Kura - Kura ke Jembatan Merah


Bagi pengemudi angkot, ngetem 15 menit merupakan hal biasa. Mereka tidak peduli. Jika mujur, kadang ada penumpang yang diangkut. Sebaliknya, jika apes, mereka terpaksa membuang waktu dalam sekali rute.

Jawa Pos membuktikan betapa angkot yang beroperasi di Surabaya tidak memedulikan jadwal dan ketepatan waktu. Jadwal yang ditentukan adalah rute Pelabuhan Tanjung Perak–Stasiun Gubeng. Untuk kepentingan tersebut, penumpang harus dua kali naik angkot.

Pertama, lin K dari Tanjung Perak ke Jembatan Merah Plaza. Setelah sampai di sana, harus berganti lin N dari Jembatan Merah ke persimpangan Jalan Pemuda-Jalan Stasiun Gubeng Setelah itu, penumpang harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki jika ingin ke Stasiun Gubeng.

Untuk rute sebaliknya, warga naik angkot di persimpangan Jalan Pemuda-Jalan Stasiun Gubeng. Kemudian, mereka berhenti di Jalan Indrapura. Setelah itu, penumpang melanjutkan perjalanan ke Tanjung Perak. Tarif yang dikeluarkan untuk sekali jalan di dua rute itu Rp 10 ribu.

Untuk mencari penumpang, pengemudi angkot bisa berkali-kali ngetem. Jawa Pos kemarin menjajaki transportasi angkot itu. Titik awal dari Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Mulai pukul 06.00. Hanya butuh lima menit menunggu.

Perjalanan pun dimulai. Di dalam lin putih itu, hanya ada seorang pelajar SMPN 5 Surabaya. Dia duduk di jok belakang. Setelah itu, siswa lain mulai memenuhi angkot tersebut. Jumlahnya 4 orang.

Photo



Lin itu ngetem di Jalan Kalimas Baru II Lebar dan Jalan Teluk Kumai Utara. Sopir angkot mengaku bahwa di dua tempat itu banyak anak dan ibu-ibu yang akan naik. ’’Keduanya langganan penumpang saya,’’ kata Ismail, lantas tertawa. Sopir dari Jembatan Merah tersebut sengaja ngetem untuk memenuhi jumlah penumpang. ’’Terkadang enggak sesuai harapan. Ya, begini ini. Kadang empat. Kadang tiga. Bahkan pernah udah tiga kali putar hanya dapat satu penumpang,’’ kata pria 46 tahun itu.

Praktis, kecepatan lin untuk menuju ke Jembatan Merah hanya 10 km/jam. Ibarat jalan kura-kura, sangat lambat. ’’Kalau tidak begini, saya tidak dapat penumpang. Makan sehari-hari bisa kurang,’’ ungkapnya.

Lin N sama seperti lin K. Hanya membawa tiga penumpang dari Jembatan Merah. Pagi itu tidak terjadi kemacetan. Memang, menurut pengakuan sopir, kemacetan hanya terjadi saat ada pelebaran, perbaikan jalan, serta kegiatan masyarakat. Jika hari biasa, lalu lintasnya lancar-lancar saja. Misalnya, kemarin, mulai pagi hingga siang tidak terjadi kemacetan.

Selama 20 menit perjalanan, lin N menempuh rute dari Jembatan Merah–Jalan Veteran–Jalan Pahlawan–Jalan Kramat Gantung–Jalan Gemblongan–Jalan Genteng Kali–Jalan Ngemplak–Jalan Wali Kota Mustajab–hingga persimpangan Jalan Pemuda-Jalan Stasiun Gubeng.

’’Sebenarnya, moda transportasi umum dari Tanjung Perak ke Gubeng maupun sebaliknya sudah mencukupi. Angkot ini hanya butuh regenerasi,’’ ucap salah satu penumpang, Sinta Andini, kemarin

Menunggu Dua Jam, Tak Ada Yang Lewat


Bagaimana bila Anda dari Jalan Lontar ingin bepergian ke Tunjungan Plaza (TP) dengan transportasi umum seperti angkutan kota? Tentu itu menjadi persoalan berarti. Betapa akses angkutan umum ternyata tidak ramah untuk warga di sana. Bercapek-capek menunggu, tapi jadwal tidak pasti.

Jawa Pos berupaya membuktikannya. Untuk mendapatkan angkutan kota dari Jalan Lontar, setidaknya harus menunggu dua jam Siksaan menunggu akan terasa apabila itu dilakukan pada jam pulang kerja. ”Sudah enggak seberapa laku. Jarang banget lewat sini. Paling sehari satu atau dua. Tapi, enggak bisa ditengeri jamnya. Ditungguin juga belum tentu ada,” ujar Putu Wirahadi, penjual jajanan di jalan itu.

Seorang warga menyarankan untuk mencari angkutan kota yang menuju Tunjungan Plaza ke Terminal Manukan. Sebab, di sana banyak pilihan angkutan kota ke berbagai tujuan. Seorang sopir angkot menyarankan naik angkot LMJ yang melayani jurusan Lakarsantri–Manukan–Jembatan Merah Plaza.

Photo

BELUM NYAMAN: Suasana di Terminal Jembatan Merah yang menjadi hub angkutan umum di kawasan
Surabaya Utara. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

Setelah naik angkot LMJ, nanti penumpang harus turun di Terminal Balongsari. Lantas, penumpang harus berpindah ke lin E yang melayani Balongsari–TP. Memang benar, sesampai di sana, ada empat lin E yang berjajar. Tapi, tidak ada satu pun yang menunjukkan tanda-tanda akan jalan. Seorang petugas dishub di terminal itu menyilakan penumpang untuk menunggu di area tunggu.

Satu jam menunggu, barulah satu angkot yang akan berangkat. Angkot sore itu disopiri Kasmo, pria yang sebenarnya joki mencari penumpang. Kebetulan, sore itu Kasmo berbaik hati. Dia mau mengemudikan angkot dan mengantar ke TP. ”Sebetulnya saya mau pulang ke Kenjeran, tapi enggak apa-apa, narik terakhir. Sekalian pulang,” katanya.

Dia menuturkan, semakin sore semakin jarang lin E yang beroperasi. Biasanya, maksimal pukul 16.00–17.00. Kasmo mengatakan, kendati angkot melayani rute Balongsari–TP, penumpang rata-rata hanya naik untuk jarak pendek. Sampai tujuan, angkot kosong tanpa penumpang

Rutin Angkut Pasien Kanker dan Cuci Darah


Transportasi umum yang ala kadarnya sudah menjadi ”sandaran hidup” para pasien RSUD dr Soetomo yang berasal dari luar kota. Mereka umumnya mencari angkot atau lin dari Terminal Joyoboyo. Itu menjadi pilihan lantaran lebih murah bila dibandingkan dengan transportasi online.

Para pasien memang harus pintar-pintar berhemat. Uang mereka tak boleh habis sekadar untuk naik kendaraan umum Sebab, pekan depan mereka harus kembali datang ke rumah sakit milik Pemprov Jatim itu untuk berobat rutin.

Untuk sampai Joyoboyo, biasanya para pasien naik bus umum dari Terminal Purabaya. Dari Joyoboyo, mereka memilih angkot. Untuk sampai ke RSUD dr Soetomo, mereka bisa naik lin P jurusan Karangmenjangan. ”Itu yang paling cepat,” kata salah satu petugas sambil menunjuk ke arah angkutan berwarna kuning. ”Berangkat, langsung Karangmenjangan,” teriak salah satu sopir angkot kemarin.

Siang itu, tempat duduk tinggal dua slot. Para sopir lin betah berlama-lama ngetem di Joyoboyo. Mereka memilih menunggu penumpang. Sebab, biasanya saat di jalan tidak ada lagi penumpang yang naik.

Salah satunya Chusniyah. Dia pengidap kanker. Sudah empat kali ini perempuan asal Probolinggo itu datang ke RSUD dr Soetomo untuk menjalani kemoterapi. Dia biasa berangkat sendiri. Suaminya sudah meninggal sepuluh tahun silam. Anak-anaknya tinggal di luar kota.

Chusniyah duduk di pojok. Tangannya menggenggam botol minyak kayu putih. Ketika angkutan berangkat, dengan sigap dia mengoleskan minyak tersebut di keningnya. ”Biar enggak pusing, biasae ugal-ugalan,” ucapnya.

Bagi dia, transportasi online juga bukan pilihan. Jika memilih menggunakan bus kota yang dilanjutkan dengan lin, Chusniyah hanya mengeluarkan uang Rp 11 ribu sekali jalan. Tarif bus kota Rp 6 ribu dan angkot Rp 5 ribu. Jika naik ojek online, dia bisa menghabiskan Rp 32 ribu.

Chusniyah kembali bercerita bahwa dirinya memilih kembali ke Probolinggo tidak terlalu sore. Sebab, bila petang, tidak ada lin yang mengantarnya dari RSUD dr Soetomo ke Joyoboyo. ”Kalau di atas pukul 18.00 sudah sepi,” tuturnya.

Di dalam lin siang itu juga ada Latifah. Pasien asal Nganjuk itu berangkat dini hari untuk mengejar bus menuju Surabaya. Di RSUD dr Soetomo dia harus menjalani cuci darah.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore