
Atlet panjat tebing Indonesia, Rajiah Salsabillah (kiri) meraih perak di IFSC Climbing World Cup Seoul 2024. (Dok: FPTI)
JawaPos.com – Peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Veddriq Leonardo, gagal meraih medali dalam ajang IFSC Climbing World Cup 2024 di Korea Selatan. Namun, tim Indonesia tetap berhasil menyabet dua medali dari ajang seri penutup Piala Dunia Panjat Tebing 2024.
Veddriq Leonardo, yang datang sebagai pemanjat terbaik nomor speed putra, secara mengejutkan justru terhenti di babak perempat final. Atlet berusia 27 tahun itu tersisih setelah fall saat menghadapi Matteo Zurloni dari Italia.
Namun, kegagalan Veddriq tersebut diobati oleh dua atlet Indonesia lain yang mendapatkan medali, meski bukan emas. Indonesia meraih perunggu lewat Kiromal Katibin dari nomor speed putra dan perak oleh Rajiah Salsabillah di nomor speed putri.
Kiromal Katibin meraih medali perunggu usai mengalahkan Matteo Zurloni dari Italia di small final. Atlet asal Batang, Jawa Tengah, itu mencatatkan waktu 4,99 detik, sementara lawannya hanya 8,93 detik setelah beberapa kali slip.
Medali emas di nomor speed putra diraih oleh Wang Xishang dari Tiongkok, sementara Amir Maimuratov dari Kazakhstan meraih medali perak. Wang mengalahkan Amir di final besar dengan waktu 6,23 detik, sedangkan Amir mencatatkan waktu 10,60 detik.
Sementara Rajiah, menyabet perak usai kalah dari atlet Tiongkok, Zhou Yafei. Catatan waktunya pada partai puncak hanya 8,08 detik, berbanding 6,78 detik yang ditorehkan Yafei.
Lambatnya waktu Rajiah karena dia sempat mengalami slip sebelum mencapai garis finis sehingga harus puas dengan medali perak. Adapun medali perunggu sendiri di kategori putri diraih oleh Lijuan Deng dari Tiongkok.
Meski gagal emas, Manajer Tim Panjat Tebing Indonesia, Ichal Umarrella tetap mengambil sisi positif yang didapat dari hasil di Korea Selatan ini. Sebab, skuad Merah Putih punya 9 wakil di final, terdiri dari empat atlet putra dan lima atlet putri.
Selain Veddriq dan Kiromal, atlet speed putra Indonesia yang lolos ke final adalah Raharjati Nursamsa dan Aspar Jaelolo. Sementara di final putri, selain Rajiah, Indonesia punya Nurul Iqamah, Alivany Ver Khadijah, dan Susan Nurhidayah.
"Lolosnya banyak atlet ke final adalah prestasi yang luar biasa. Persaingan semakin ketat, dengan banyak atlet mencatatkan waktu di bawah 5,1 detik khusunya pada nomor putra,” ucap Ichal dalam keterangan resmi FPTI.
Terkait performa, Ichal menilai cuaca jadi salah satu faktor penyebab kegagalan tim panjat tebing Indonesia meraih emas. Cuaca di Seoul yang mencapai 14 derajat celsius disebut olehnya memengaruhi performa para atlet.
Namun, FPTI berkomitmen untuk terus melanjutkan program pembinaan agar atlet bisa lebih siap menghadapi kompetisi di tahun depan. “Program pembinaan akan terus berjalan untuk mempersiapkan atlet menghadapi musim depan,” jelasnya.
IFSC Climbing World Cup Seoul 2024 jadi seri terakhir alias penutup tur Piala Dunia Panjat Tebing 2024. Tambahan satu perak dan satu perunggu ini membuat pencapaian tim Indonesia secara keseluruhan hanya meraih 3 medali. Satu medali lain yang diraih Indonesia dicatatkan oleh Kiromal di IFSC World Cup Wujiang 2024 dengan torehan medali perunggu.
Kemudian secara peringkat, di speed putra hanya Kiromal Katibin yang menempati posisi sepuluh besar dengan posisi akhir delapan dengan 1.380 poin. Sementara juara Olimpiade 2024, Leonardo Veddriq hanya menempati posisi 15 dengan 1.000 poin.
Adapun untuk nomor speed putri, Rajiah Salsabillah menempati posisi 12 dengan 1.155 poin. Sedangkan atlet speed putri Indonesia lainnya berada di posisi 20-30 besar.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
