
Usman Nurmagomedov (kanan) merayakan gelar juaranya di Bellator bersama Islam Makhachev. (Instagram/@usman_nurmagomedov)
JawaPos.com — Dunia seni bela diri campuran (MMA) terus berkembang pesat, dan dua promosi terbesar yang mendominasi industri ini adalah UFC (Ultimate Fighting Championship) dan Bellator.
Keduanya menjadi rumah bagi para petarung terbaik, namun perbedaan antara keduanya cukup signifikan. Tak heran, banyak atlet MMA, termasuk klan Nurmagomedov, sempat mempertimbangkan pilihan karier mereka di antara dua promotor ini.
Klan Nurmagomedov, yang terkenal di UFC, bahkan memutuskan untuk menjajal peruntungan di Bellator. Mengapa demikian? Pembahasan ini akan menjelaskan perbedaan antara UFC dan Bellator serta mengapa pilihan ini penting dalam karier seni bela diri.
Jika membandingkan dari sisi sejarah, UFC jelas lebih unggul. UFC didirikan pada 1993 dan merupakan pelopor MMA modern di Amerika Serikat. Sejak awal, UFC menjadi ajang bagi petarung dari berbagai disiplin ilmu untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara mereka. Berbeda dengan Bellator yang baru muncul lebih dari satu dekade kemudian pada 2008, dengan acara pertamanya pada 2009.
Dari segi kepemilikan, UFC saat ini dimiliki oleh perusahaan besar bernama Endeavor, yang membeli UFC pada 2016 dengan harga fantastis mencapai USD4 miliar.
Sementara itu, Bellator dikelola oleh ViacomCBS sejak 2011. Keduanya memiliki backing kuat, namun UFC sudah lama menjadi ikon di dunia MMA dan dianggap sebagai puncak karier para petarung.
Salah satu faktor terbesar yang membedakan UFC dan Bellator adalah tingkat persaingan serta kualitas petarungnya. UFC dikenal sebagai rumah bagi para petarung terbaik di dunia. Banyak di antara mereka yang sebelumnya sukses di promosi lain, termasuk Bellator, dan akhirnya berlabuh di UFC untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik.
Di sisi lain, Bellator memang masih memiliki kualitas, namun sebagian besar petarungnya adalah talenta yang sedang meniti karier di dunia MMA. Beberapa petarung yang bergabung dengan Bellator adalah mereka yang sudah berada di ujung kariernya di UFC atau ingin mencoba peluang lain setelah mengalami kekalahan beruntun. Bellator menjadi platform bagi para petarung untuk menghidupkan kembali kariernya atau meniti karier baru sebelum akhirnya mereka menarik perhatian UFC.
Namun, kehadiran petarung muda berbakat seperti Usman Nurmagomedov di Bellator menjadi indikasi bahwa organisasi ini tak hanya mengandalkan nama besar petarung veteran. Usman, yang merupakan sepupu dari legenda UFC Khabib Nurmagomedov, memilih Bellator untuk melanjutkan dominasinya di dunia MMA. Keputusannya ini diiringi dengan keyakinan bahwa Bellator bisa menjadi ajang baru bagi klan Nurmagomedov untuk menguasai panggung MMA global.
Perbedaan lain yang signifikan adalah format acara yang diselenggarakan oleh kedua promotor ini. UFC sepenuhnya mengadopsi format acara reguler tanpa mengikutsertakan turnamen. Berbeda dengan Bellator, yang masih mempertahankan tradisi turnamen “Grand Prix” di beberapa kelas berat. Format ini memberikan warna tersendiri bagi Bellator, mengingat UFC dulu juga sempat mengadakan turnamen pada masa awal keberadaannya, namun saat ini telah meninggalkan format tersebut.
Jika membahas kelas berat, UFC memiliki delapan kelas untuk petarung pria dan empat kelas untuk petarung wanita. Bellator sedikit lebih terbatas dengan tujuh kelas untuk pria dan hanya dua untuk perempuan. Ini menunjukkan bahwa UFC lebih variatif dalam menyediakan kelas-kelas pertarungan yang dapat diikuti oleh para petarung.
Meski kedua promotor ini sama-sama menggunakan “Unified Rules of MMA” yang ditetapkan sejak 2000, terdapat beberapa perbedaan kecil dalam penerapannya. Misalnya, di UFC, semua pertarungan utama (main event) terdiri dari lima ronde, baik itu perebutan gelar ataupun bukan.
Sementara itu, di Bellator, hanya pertarungan perebutan gelar yang berlangsung selama lima ronde. Perbedaan kecil semacam ini menjadi salah satu hal yang membedakan kedua promotor ini dari segi format pertandingan.
Satu hal yang sangat mencolok adalah program pengujian drugs yang diterapkan di UFC dan Bellator. UFC bekerja sama dengan USADA (United States Anti-Doping Agency) sejak 2012 untuk menjaga kebersihan olahraga ini dari penggunaan obat peningkat kinerja.
Program pengujian UFC ini sangat ketat dan berkelanjutan, bahkan para petarung bisa diminta memberikan sampel darah atau urine kapan saja, di mana saja, tanpa memandang apakah mereka sedang mempersiapkan pertarungan atau tidak.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
