alexametrics

Wawancara Khusus dengan Juara All England Dua Kali, Praveen Jordan

24 Maret 2020, 19:02:43 WIB

JawaPos.com-Bulan ini, Praveen Jordan mencatat sejarah yang spesial dan penting.

Dia adalah pemain ganda campuran pertama dalam sejarah panjang bulu tangkis Indonesia yang menjadi juara All England dengan dua pasangan berbeda.

Pada 15 Maret lalu, Praveen bersama Melati Daeva Oktavianti menjadi juara All England 2020. Sebelumnya, Praveen naik ke podium pertama All England 2016 saat berpasangan dengan Debby Susanto.

Penampilan paling dahsyat Praveen/Melati di All England 2020 terjadi saat perempat final. Saat itu, melawan ganda campuran nomor dua dunia asal Tiongkok Wang Yilyu/Huang Dongping, Praveen/Melati hampir saja tumbang.

Kalah pada game pertama, Praveen/Melati tertinggal sangat jauh 10-18 di game kedua.

Namun, Praveen/Melati menolak nasib buruk. Mereka bangkit, mencetak sembilan angka beruntun, menikung, dan akhirnya mengambil game kedua. Pada game ketiga, Praveen/Melati tampil lebih solid dan akhirnya meraih kemenangan. Mereka berjuang 1 jam dan 11 menit, untuk mengalahkan Wang/Huang dengan skor 15-21, 21-19, dan 21-19.

Di final, Praveen/Melati bermain dengan penuh percaya diri dan mengontrol penuh jalannya permainan. Walau sempat enam kali servisnya difault oleh servis judge dan lantas kehilangan game kedua, mental Praveen tidak turun.

Praveen/Melati mengalahkan ganda nomor tiga asal Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai dalam rubber game dengan skor 21-15, 17-21, 21-8.

Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Praveen menceritakan apa yang sebenarnya dia rasakan di All England 2020.

Perbincangan dilakukan via telepon. Sebab, Praveen dan seluruh anggota tim yang berlaga di All England 2020 sedang menjalani karantina di pelatnas PP PBSI, Cipayung, Jakarta Timur. Mereka melakukan antisipasi terhadap kemunculan COVID-19, sepulangnya dari Birmingham, Inggris.

Bagiku, episode terbaik All England 2020 waktu kalian melawan Wang/Huang di perempat final. Dari servismu saja, kalian bisa bikin sembilan poin. Dari tertinggal 10-18, malah bisa berbalik unggul dan akhirnya menang. Bisa bangkit sedramatis itu, bagaimana caranya?

Ya kan kita bisa tahu sendiri kalau pasangan China itu memang punya kualitas yang bagus. Dan pada saat tertinggal 10-18, saya akhirnya bisa bikin 11 poin. Itu awalnya saya mikir begini, pokoknya sebelum sampai angka 21, semua masih ada kemungkinan. Gitu saja.

Dan saya bicara dengan Meli, ya kita coba lakukan yang terbaik dulu. Nanti kan orang bisa tahu. Bahwa kita sudah mencoba yang terbaik. Kita mencoba memberikan yang maksimal. Apapun itu, itu adalah hasil yang akan kita terima.

Berarti dalam situasi itu, ya sudah nothing to lose saja?

Iya, pokoknya memberikan yang terbaik sajalah. Begitu. Jangan sampai dalam kondisi 10-18, ya sudah pasrah saja. Nggak seperti itu juga.

Kecuali lawan Wang/Huang, pola kalian di All England nyaris semua sama. Game pertama menang, game kedua lepas, tapi game ketiga bisa menang dengan skor telak. Mengapa itu bisa terjadi?

Kalau bisa dilihat, dalam game kedua itu ada situasi kita unggul. Dan kita itu posisinya kecolongan sih. Itu maksudnya karena mereka ngasih pola berbeda dan kita kurang cepet nanggepnya. Gitu aja sih. Lalu pada game ketiga kita nggak mau lagi. Nggak mau kecolongan. Dan kita sejak start, awalnya, kita langsung aja. Istilahnya ngegas. Gitu deh. Akhirnya, pada set ketiga, kita kebanyakan jauh menangnya.

Praveen dan Melati berdiri di podium tertinggi All England 2020. (AFP Photo).

Cara menjaga momentum dan membangun motivasinya seperti apa? Kok game ketiga menangnya jauh-jauh, terutama di babak sepenting semifinal dan final?

Begini, dari kalah di set kedua, saya bilang ke Meli, kita nggak boleh lengah lagi. Dan memang, di set ketiga kita lihat ulang. Kita pasti akan langsung menyerang habis. Makanya, saya tidak mau kehilangan seperti yang set kedua. Kalau kita unggul jauh, kita lebih enak kan? Maksudnya, dari pressure jadi nggak ada. Beda kalau misalnya kita mepet-mepet. Pasti ada pressure juga.

Waktu final, servismu difault enam kali….

Lebih tuh. Kalau seluruhnya, lebih itu.

Oh oke. Tapi, dengan situasi seperti itu, apa yang membuat kamu masih bisa tenang dan fokus?

Sebenernya ya terganggu juga sih dengan service judge itu. Tapi saya nggak mau mikir, nggak mau langsung kayak ngedown gitu ya. Apalagi ini sudah di final. Saya mikir, nanggung juga kan karena dengan satu kemenangan saja sudah bisa juara.

Dan saya juga ngomong itu sama Meli. Melinya juga bilang, jangan sampai kebawa suasana juga. Jadi, saya ya berharap dari servisnya Meli saja. Kalau dua-duanya mati, ya kita mau main apa? Nggak bisa kan?

Kalau dilihat dari siaran ulang, servis-servis yang disalahkan itu masih dalam perdebatan. Tipis sekali. Bahkan di beberapa momen terlihat masih bersih…

Lha, makanya itu, saya ngomong ke service judge, faultnya itu ketinggian, ketinggian apanya?!

Raketnya, apa tangan sebelah kanan, atau tangan yang sebelah kiri?

A***** nggak tahu juga! Faultnya di mana? Cuma (servis judge) ngomongnya too high doang, too high doang. Gimana mau bisa main kalau servis difault terus?

Sebelumnya kan nggak pernah difault sebanyak yang di final itu?

Nah iya memang. Dari babak awal, dari babak pertama, memang saya nggak pernah kena fault servis sih.

Ucok kan mencatat sejarah spesial. Yakni sebagai pemain putra pertama dalam sejarah Indonesia yang jadi juara ganda campuran All England dengan dua partner berbeda. Tanggapannya bagaimana?

Kalau dibilang sangat bangga, ya biasa saja. Maksudnya saya nggak ada mikir, terlalu bangga lah. Karena ini juga ada kerja kerasnya Meli juga. Lebih mikir, mau memberikan yang terbaik sama pasangan masing-masing saja sih. Sekarang iya. Dan juga dengan sebelumnya (bersama Debby Susanto, Red).

Kalau secara teknis, perbedaan antara Melati dan Debby itu seperti apa?

Kalau saya main sama Debby, ya saya lebih banyak main dalam pola. Kita lebih banyak main dalam strategi permainan. Dan kalau sama Meli ya kita harus tampil lebih banyak dengan pola menyerang. Ya begitu saja sih.

Praveen Jordan dan Debby Susanto saat berlaga di perempat final Olimpiade Rio 2016. (Ainur Rohman/Jawa Pos).

Tetapi kalau dilihat, Melati itu secara defense, kelincahan, dan agresifitas di depan meningkat di All England ini. Kamu setuju dengan itu?

Ya, benar sekali. Setuju!

Ini kamu sama Melati sudah naik ke ranking empat dunia. Tapi sama Debby dulu pernah sampai nomor dua dunia. Seberapa penting Ucok memandang ranking ini?

Kalau dibilang penting ya penting (mencapai ranking tinggi). Karena untuk penempatan seeded juga. Kalau bisa, ya kita tingkatin terus. Jangan sampai turun lagi.

Sekarang review untuk 2020. Waktu di Malaysia Masters kalah di babak pertama. Waktu di Indonesia Masters kalah di perempat final. Lalu di All England bisa juara. Persiapannya seperti apa sehingga bisa juara?

Begini, dari pas persiapan, kita lebih banyak fokus ke individu masing-masing. Latihannya sendiri-sendiri. Kayak saya punya program sendiri. Meli punya program sendiri. Kalau saya lebih ke ketahanan saja sih. Ke endurance. Gitu-gitu saja sih. Kalau Meli kan ke defense.

Ini soal lain. Dalam wawancara dengan BWF, legenda ganda campuran Denmark Joachim Fischer Nielsen pernah bilang bahwa Praveen Jordan adalah satu-satunya pemain di dunia yang akan bisa konsisten mengalahkan duo nomor satu dan nomor dua dunia asal Tiongkok. Ada tanggapan soal komentar itu?

Kalau saya nih nanggepi komentar itu pertama adalah permainan duo China itu memang sangat kuat dan cepat. Dan kalau saya dibilang gitu ya gimana ya? Ya sepakat, nggak sepakat sih ya. Karena toh mereka (duo Tiongkok, Red) juga bisa dikalahkan oleh orang lain juga. Kalau saya dibilang begitu, ya terlalu ketinggian sih ya bagi saya.

Kamu dan Melati punya rekor yang sangat baik di Eropa. Sudah tiga kali juara di event besar. Sebelum di All England, tahun lalu menang juga di Denmark dan Prancis. Kenapa bisa begitu? Bermain di Eropa apakah lebih nyaman? Atau mungkin lebih penting?

Setiap pertandingan ya penting sih ya. Kayak kemarin saya diwawancara, kenapa sih kalau di Eropa kok hasilnya bagus? Saya juga bilang bahwa setiap pertandingan, walaupun di Eropa atau Asia, saya akan selalu memberikan yang terbaik.

Cuman, kalau lihat statistiknya, memang kebetulan di Eropa ini hasilnya bagus. Tiga kejuaraan ini juara. Tetapi, saya dan Meli memang akan dan selalu memberikan yang terbaik setiap kali main ya. Prinsipnya, dalam setiap pertandingan, saya akan memberikan yang terbaik. Cuman kebetulan, di Eropa sering menang.

Sekarang kalian dalam masa karantina setelah dari All England. Bagaimana dengan program latihan? Persiapan menghadapi Olimpiade seperti apa dengan kondisi seperti ini?

Programnya sih saya berusaha balikin kondisi dulu. Kalau buat ke Olimpiade kan kita juga belum tahu pasti bagaimana. Ini kan banyak pertandingan yang dicancel. Dan itu membuat agak terganggu sih. Tetapi begini, kita akan tetap melakukan yang terbaik dalam proses persiapan ini.

Praveen Jordan/Debby Susanto terhenti di perempat final Olimpiade Rio 2016. Mereka ditumbangkan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (Ainur Rohman/Jawa Pos).

Kamu dan Debby pernah tampil di Olimpiade Rio 2016. Apa yang bisa kamu share ke Melati agar lebih siap menghadapi Olimpiade nanti?

Suatu kebanggaan bisa main di Olimpiade ya. Dan nggak semua atlet bisa main di Olimpiade. Ibaratnya, yang bisa main kan atlet-atlet pilihan. Yang bisa saya share sih begini, kalau kita bisa juara Olimpiade, kita bisa meneruskan tradisi emas ganda campuran. Itu saja sih.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads