Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 April 2020 | 14.43 WIB

8 Tunggal Putra Terhebat Sepanjang Sejarah Menurut Hariyanto Arbi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com-Hariyanto Arbi merupakan salah seorang komponen terpenting dalam generasi emas tunggal putra Indonesia yang mendominasi dunia pada awal 1990-an.

Jejak prestasi Hari, begitu dia biasa dipanggil, tentu saja sangat berkilau.

Dia adalah juara dunia 1995 dan kampiun Piala Dunia 1994. Hari juga membantu Indonesia menjadi juara Piala Thomas empat kali beruntun pada 1994, 1996, 1998, dan 2000.

Di kancah All England, Hari sukses menjadi juara back-to-back pada 1993 dan 1994. Hari adalah orang Indonesia terakhir yang menjadi juara tunggal putra pada turnamen tertua dan salah satu yang paling prestisius di dunia itu.

China

Hariyanto Arbi saat menghadapi pemain Malaysia Ong Ewe Hock pada final Piala Thomas 1998 di Elizabeth Stadium, Hong Kong. (Frederic J. Brown/AFP)

Permainan ofensif Hari juga sangat enak ditonton. Dia agresif dan punya daya ledak besar. Jumping smashnya luar biasa. Tajam, keras, dan sangat terarah. Saking menyengatnya, media menjuluki Hari sebagai pemain dengan smes 100 watt.

Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Hari membagikan list delapan tunggal putra terhebat sepanjang sejarah menurut versinya.

Nomor satu dalam daftar Hari adalah legenda asal Tiongkok Lin Dan. Peraih emas Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012 itu ada di puncak sendirian dalam katalog versi Hari. Sedangkan sisanya dia sebut secara acak. Dengan kata lain, Hari menganggap tujuh pemain kelas dunia yang lain punya kemampuan setara.

Photo

Lin Dan merayakan keberhasilannya meraih emas Olimpiade London 2012. Di final, Lin Dan mengalahkan pemain Malaysia Lee Chong Wei. (Adek Berry/AFP)

Dari delapan nama itu, ada tiga pemain Indonesia yang masuk daftar. Mengapa tidak memasukkan nama sendiri? “Ah, nggak enak dong, Mas,” kata Hari lantas tergelak.

Berikut, adalah delapan tunggal putra terdahsyat sepanjang sejarah, bagi salah seorang legenda terbesar bulu tangkis dunia, Hariyanto Arbi.

Lin Dan, Tiongkok


(Emas Olimpiade 2008 dan 2012. Juara Dunia 2006, 2007, 2009, 2011, 2013)

Lin Dan menurut saya adalah pemain yang luar biasa banget. Dia benar-benar pemain dengan teknik tinggi. Penguasaan lapangannya bagus, mentalnya bagus. Kompletlah menurut saya.

Yang istimewa dari Lin Dan ini adalah kakinya yang luar biasa. Langkah-langkahnya luar biasa. Bola apapun terlihat gampang bagi dia. Ya, itu karena penguasaan lapangannya sangat luar biasa.

Lin Dan itu prestasinya bisa konsisten disebabkan tekniknya sangat tinggi dan mentalnya sangat bagus. Dalam daftar ini, semua pemain posisinya acak. Jadi tidak ada ranking. Tapi, kalau ada satu pemain yang ada di puncak daftar saya, pemain itu adalah Lin Dan.

Photo

Lin Dan merayakan keberhasilannya meraih emas Olimpiade Beijing 2008. Di final, Lin Dan mengalahkan pemain Malaysia Lee Chong Wei (Goh Chai Hin/AFP)

Lee Chong Wei, Malaysia

(Perak Olimpiade 2008, 2012, dan 2016. Juara All England 2010, 2011, 2014, dan 2017)

Pertama, Lee Chong Wei ini tekniknya sangat tinggi. Dan yang saya salut dari dia adalah badannya enteng banget. Lompatan kiri dan kanannya bagus. Dia juga ahli dalam mengambil kesempatan. Dalam posisi yang nggak enak di belakang, karena kakinya bagus, dia bisa langsung membalik. Dari posisi defense, langsung jadi balik serang.

Yang spesial tentu saja bola belakangnya. Karena dia bagus, dia bisa lompat, membuat pukulannya jadi nggak kelihatan (tak bisa terbaca, Red).

Secara permainan, Chong Wei dan Lin Dan ini menurut saya berimbang. Nah, kalau sudah berimbang begitu, sekarang tinggal mentalnya saja.

Kadang bulu tangkis susahnya begitu. Kalau ada trauma nggak pernah menang dengan pemain tertentu, bisa ada dampaknya. Makanya, memang nggak usah dipikirin. Karena kalau sudah dicap nggak bisa menang, permainan bisa nggak keluar.

Kalau dari pengalaman saya, pemain pasti ada kepikiran seperti itu. Mungkin itu yang membuat Chong Wei tidak pernah menjadi juara Olimpiade. Tapi walaupun tak pernah juara dunia dan Olimpiade, kualitas Chong Wei tak berkurang di mata saya. Prestasinya sangat banyak. Secara kualitas, dia pemain yang bagus sekali.

Photo

Lee Chong Wei saat menghadapi Chen Long pada final Olimpiade Rio 2016 di Riocentro stadium, Rio de Janeiro. Ini adalah final Olimpiade ketiga Chong Wei secara beruntun. (Antonin Thuillier/AFP)

Taufik Hidayat, Indonesia


(Emas Olimpiade 2004, Juara Dunia 2005)

Penguasaan lapangan Taufik ini bagus. Powernya juga bagus. Smes, backhand, semuanya bagus.

Yang paling spesial tentu saja backhandnya. Dalam permainan bulu tangkis itu, rata-rata titik lemah pemain ada di backhand. Makanya sejak kecil, kami selalu diajarkan untuk mengambil pukulan overhead.

Karena kalau kita memukul backhand, itu tidak membahayakan dibanding jika kita memukul overhead.

Tapi di Taufik, backhand yang biasanya jadi kelemahan justru menjadi kekuatan. Kalau menurut saya dan saya yakin bagi pemain manapun, backhand bukan pukulan yang membahayakan. Sedangkan bagi Taufik, kalau dia memukul backhand, istilahnya dia seperti mengambil overhead.

Jadi intinya, kalau bagi pemain lain backhand itu adalah pukulan biasa-biasa saja, bagi Taufik backhand justru jadi salah satu kekuatan dan kelebihan dia.

Photo

Taufik Hidayat menangis dalam seremoni pengalungan medali emas pada Olimpiade Athena 2004 di Goudi Olympic Hall, 21 Agustus 2004. (Goh Chai Hin/AFP)

Liem Swie King, Indonesia


(Juara Piala Dunia 1979, 1982 (tunggal) 1984, 1985, dan 1986 (ganda putra). Juara All England 1978, 1979, dan 1981)

Photo

Liem Swie King (kiri) bersama Hariyanto Arbi. (Dok Hariyanto Arbi)

Pertama, dia legenda PB Djarum. Sejak kecil, kami sudah dicekokin nama Swie King.

Tapi memang mainnya bagus. Terutama smesnya. Nama King Smash kan sudah terkenal. Smesnya itu menginspirasi saya.

Sebagai gambaran permainan Swie King itu, dulu banget Si Jaelani (legenda ganda putra Malaysia Jalani Sidek, Red) pernah cerita ke saya kalau smesnya Swie King itu kenceng banget. Saat dia defense dan terima smesnya Swie King, tangannya sampai geter.

Waktu itu saat Swie King main double ya. Itu sudah cukup menggambarkan kalau smesnya Swie King itu dahsyat banget.

Photo

Liem Swie King bersalaman dengan Ratu Elizabeth II pada final All England 1976. (Repro buku Panggil Aku King)

Zhao Jianhua, Tiongkok

(Juara dunia 1991, juara All England 1985 dan 1990)

Zhao Jianhua adalah pemain China kidal yang pernah juara All England juga. Pernah waktu di All England lawan Swie King, saya baru lihat sekali-kalinya Swie King main sampai kakinya ambil sebelah kiri.

Kan jarang banget itu. Jika dichop, kalau pemain itu tipe kanan, ngambilnya pasti dari kaki kanan ketika maju.

Zhao Jianhua ini saking pukulannya nggak kelihatan, Swie King sampai kaki kiripun ngambil maju. Variasi pukulan Zhao Jianhua ini juga banyak. Mau ngechop, mau smes, mau lob bisa semua. Cuma kan orangnya nyentrik gitu. Jadi, nggak banyak juaranya karena dia angin-anginan.

Intinya pemain ini spesial karena pukulannya nggak kelihatan, banyak variasi, dan kidal. Jadi memang susah sekali ditebak.

Tapi saya pernah menang lawan dia he..he..he..

Kalau ketemu, saya malah menang terus. Mungkin saya lebih cepet dari dia. Mungkin juga karena waktu itu dia sudah mulai turun dan saya mulai mau naik.

Photo

Legenda tunggal putra Tiongkok Zhao Jianhua. (All England Badminton)

Yang Yang, Tiongkok


(Juara Dunia 1987, 1989. Juara Piala Dunia 1988, 1989)

Beda dengan Zhao Jianhua, Yang Yang ini stabil banget mainnya. Pergerakan kaki dan pukulannya bagus.

Tingkat permainannya sangat-sangat konsisten. Kalau Zhao Jianhua lagi jelek, ya jelek banget. Kalau Yang Yang ini enggak. Dia akan selalu dan terus berada di atas.

Kalau mau ngalahin dia ya kita harus benar-benar fit dan harus bagus banget. Baru kalau kita dalam kondisi puncak, kita akan bisa mengalahkan Yang Yang.

Photo

Legenda Tiongkok Yang Yang. (Talk Badminton)

Ardy B. Wiranata, Indonesia

(Perak Olimpiade Barcelona 1992, Juara Piala Dunia 1991, Juara All England 1991)

Kalau Ardy ini daya juangnya luar biasa. Kalau mau menang lawan dia, istilahnya kamu akan capek banget lah. Sampai angka berapapun, kalau belum game, dia akan berusaha terus.

Nggak gampang kalau mau ngalahin dia. Harus capek banget kalau mau menang. Dia itu ulet dan pantang menyerah. Kalau tekniknya sih, hampir rata-rata ya. Cuma, mental bertanding kita yang sering harus beradu kuat melawan dia.

Karena kalau melawan dia pasti akan sangat capek, mental kita akan diuji. Sebab, kita tahu bahwa pertandingan pasti akan lama sekali. Nah, kita bisa nggak tahan di situ?

Kalau mental kita nggak kuat, kalau kita merasa capek, ya pasti akan lewat. Kita kan sering latihan bareng, jadi tahulah Ardy itu bagaimana. Lawan dia pasti akan capek, pasti nggak gampang, dan pasti mati-matian.

Di lapangan, karena daya juangnya luar biasa, jadi Ardy ini terlihat kuat banget. Tapi kalau fisik sehari-hari, ya sebetulnya biasa saja. Kalau adu lari ya dia ketinggalan. Paling belakang dia. Beneran. Tapi kalau ngadu di lapangan, dia kuat sekali. Mau berapa lama akan dilayani sama dia.

Photo

Ardy B. Wiranata beraksi pada ajang Thomas Cup 1996 di Hongkong. (Tommy Cheng/AFP)

Kento Momota, Jepang


(Juara Dunia 2018 dan 2019. Tunggal putra pertama dalam sejarah Jepang yang menjadi juara All England pada 2019)

Kento Momota ini punya kaki yang bagus, pergerakannya bagus, jadi bisa mengover lapangan juga dengan bagus. Kalau kita nggak punya kelebihan, terutama dalam serangan yang eksplosif, ya akan susah melawan Kento.

Jika kita ngadu stroke dengan dia, ya kita nggak akan mungkin bisa menang. Karena Kento itu kuat dan bolanya safe banget. Ambil posisinya juga enak terus. Jadi, harus ada pemain yang punya smes keras dan membuat Kento takut.

Makanya Si Ginting (Anthony Sinisuka Ginting, Red) lebih cocok melawan Kento ketimbang Jonatan (Christie). Kalau Jonatan nggak ada daya ledaknya. Smesnya juga biasa. Kalau Ginting kan smes itu bisa plak, plek, plak...

Jadi, ada daya ledaknya!

Jika lawan Kento, Jonatan akan susah. Dia bukan lawan yang bahaya di depan Kento. Jika disuruh memilih, saya akan memilih Ginting untuk bisa mengalahkan Kento.

Kalau Ginting punya stamina dan daya tahan, ya bisa banget dia mengalahkan Kento. Dan jika ada yang menggadang-gadang Ginting akan bahaya di Olympic, ya setuju saya. Kalau dia stabil, dia bisa.

Pemain manapun, melawan Ginting itu nggak gampang. Cuma memang, dia itu nggak stabil. Lihat saja, kalahnya sering babak-babak awal. Kalau dia masuk delapan besar atau semifinal, saya yakin Ginting pasti bisa.

Photo

Kento Momota (kanan) dan Anthony Sinisuka Ginting berpose di podium BWF World Tour Finals 2019. Momota mengalahkan Ginting di final turnamen puncak akhir tahun itu. (PP PBSI)

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore