
Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja saat berlaga di perempat final All England 2020. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI).
JawaPos.com-Asisten pelatih ganda campuran Indonesia Nova Widianto mengklaim bahwa permainan pasangan-pasangan elite dunia tidak ada yang terlalu istimewa.
Indonesia bisa sangat mengimbangi. Sebab kita punya skill luar biasa. Namun, untuk menjadi juara, bakat saja tidak cukup. Menurut Nova, seorang kampiun harus punya tekad dan karakter yang kuat, fokus yang tajam, dan kerja yang sangat keras.
Sebagai juara dunia tiga kali, dua kali finalis All England, dan peraih perak Olimpiade, Nova memiliki pandangan dan perspektif yang kaya. Dia paham benar bagaimana pergeseran permainan ganda campuran antara eranya dibandingkan dengan yang berkembang saat ini.
Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Nova juga menceritakan apa yang dia rasakan ketika kalah dua kali di final All England dan final Olimpiade Beijing 2008.
Naskah ini adalah fragmen kedua atau yang terakhir.
Mas Nova adalah salah seorang pemain ganda campuran terbaik dalam sejarah dunia. Pernah juara dunia tiga kali dan meraih perak Olimpiade. Kalau secara kualitas, Mas Nova membandingkan di zaman masih aktif dengan sekarang itu bagaimana?
Pertama, kita bandingkan dulu dari gaya permainannya. Kalau zaman sekarang itu memang lebih banyak speed and power. Makanya, saya bilang, bakat seperti Praveen itu jarang sekali ya. Sekarang rata-rata, termasuk duo China (Zheng Siwei/Huang Yaqiong dan Wang Yilyu/Huang Dongping, Red) itu kan main speed and power. Plus perempuannya bisa mengimbangi laki-lakinya.
Kalau dulu kan awal-awal sebelum ada Butet (Liliyana Natsir, Red), kita ibaratnya kalau mixed pemain lakinya bisa sampai mengover 80 persen, 70 persen. Itu sudah semestinya.
Tetapi kalau sekarang, mereka harus seimbang. Makanya kita latih Melati perkuat defense ya tujuannya itu. Karena kalau sekarang main cuma ngandelin pola, ya nggak bakal bisa. Karena pola permainan zaman sekarang sudah berubah.
Mengapa bisa sedrastis itu perubahannya?
Semua bermula dari poin 21. Saya juga bilang ke anak-anak, bahwa permainan para pemain luar itu tidak ada yang terlalu istimewa. Rata-rata hanya speed and power. Dan kalian harus bisa mengimbangi itu. Kalau nggak bisa, ya akan berat.
Walau kita unggul skill tetapi kalau kalah di power dan kecepatan, ya kita pasti akan kerepotan. Kalau dulu kan kita terkenal punya pemain seperti Trikus Harjanto (peraih perak Olimpiade Sydney 2000 bersama Minarti Timur, Red). Kalau sekarang, cara mainnya itu seperti Marcus (Fernaldi Gideon)/Kevin (Sanjaya Sukamuljo).
Nah, kalau Praveen di mixed, secara kualitas, saya kira dia di atas pemain cowok manapun di dunia ini. Itu yang saya lihat ya. Tetapi kan kalau mau jadi juara, nggak cukup dari itu doang Mas. Pemain juga harus punya karakter, fokus, dan sikap pantang menyerah.
Jadi, menurut Mas Nova, skill paling istimewa dalam diri Praveen itu apa? Sehingga dia bisa disebut pemain cowok ganda campuran terbaik di dunia?
Yang pasti bola atasnya. Sudah pasti kalau bola atasnya tidak ada yang meragukan. Dia juga bisa smes, bisa chop. Dan tenaganya, powernya memang luar biasa. Tekniknya juga bagus. Kalau individu seperti Praveen ini, saya kira memang bakat ya.
Dari kecil, secara individu, dia punya bakat yang istimewa. Ini beda dengan yang dibentuk ya. Kalau power kan memang dibentuk. Pola main itu kan dibentuk. Tetapi kalau bakat, memang datang dari diri mereka sendiri sejak kecil.
Ya itulah. Talenta dan bakatnya Praveen kan memang luar biasa. Di atas rata-rata. Jadi memang rugi sekali kalau dia tidak bisa memanfaatkan itu.
Mas Nova mencapai karier puncak dengan juara dunia dan meraih perak Olimpiade bersama Liliyana Natsir. Dan Butet ini memang pemain yang sangat istimewa. Menurut Mas Nova, bisa nggak pemain putri kita punya kualitas seperti Butet? Atau minimal mendekati lah..
Kalau masalah skill ya memang agak susah ya. Tetapi itu semua kan bisa ditutupi. Secara tangan, Butet ini bagus. Tetapi sebetulnya secara kaki, dia agak lemah. Tetapi dia pintar dan sangat taktis. Dia bisa membuat bagaimana cara meminimalisir dirinya untuk bergerak. Seolah-olah, bola itu datang ke dia semua. Itu susah, Mas. Itu butuh skill yang tinggi sekali.
Kaki Butet itu kan tidak kuat, tetapi dia pintar, skillnya tinggi, jadi seakan-akan dia tidak pernah lari. Musuh sebetulnya bisa membuat dia lari, karena itu kelemahan dia. Tetapi dia bisa menutupi itu semua. Dan dia bisa membuat bola itu datang ke dia semua. Jadi, dia nggak perlu lari.
Kembali ke pertanyaan, ada nggak yang bisa seperti Butet? Ya belum tentu dalam beberapa tahun ke depan ada yang punya skill seperti Butet. Tetapi kalau untuk nutupin itu, ya kita bisa latih dan kita bisa bentuk.
Kualitas Butet ini kira-kira dianalogikan seperti Kevin ya?
Nah, Kevin itu juga bakat alam. Dia bisa tahu bola akan lari ke mana. Tetapi dia ada kelemahannya yakni tinggi badan. Itu kalau musuhnya tahu, dia bisa akan dikuras tenaganya di sana. Itu kan yang sekarang banyak musuh coba manfaatkan?
Untuk itulah, nggak semuanya melulu soal bakat. Kalau orang tahu kelemahannya, itu yang akan dimanfaatkan. Kalau kakinya lemah, ya kita bikin lari saja. Artinya, kalau jadi pemain sekarang ya nggak akan bisa dari bakat saja. Harus ada latihan yang keras juga.
Kekalahan dua kali di final All England itu, begitu membekas dalam benak Mas Nova? Apakah seberat itu? Ataukah ada perasaan, ‘Ah itu kan bagian dari karier saja. Toh saya sudah pernah juara dunia tiga kali?’
Kalau saya sendiri memang masih menyayangkan kekalahan di All England itu. Ada juga faktor, kita selalu main jelek di Eropa. Terutama karena bola dan cuaca. Tetapi yang paling saya sesali adalah di final kedua ya. Waktu itu lawan Zhang Nan/Zhao Yunlei. Di atas kertas, kita harusnya bisa menang. Karena mereka kan baru keluar.
Dari segi apapun, harusnya kita nggak boleh kalah. Dan di set ketiga kita sudah unggul jauh. Tetapi namanya permainan ya seperti itu. Kalau kita nggak bisa fokus sampai akhir, kita menang permainan itu belum tentu bisa menang angka. Akhirnya bisa kalah. Karena dalam mixed double, hilang fokus sedikit, situasinya akan sangat bisa berubah.
Situasinya berbeda saat kalah lawan Zheng Bo/Gao Ling di final All England 2008?
Iya berbeda. Di Eropa, kalau lawan mereka memang agak berat. Karena bolanya memang agak lambat. Dan kita memang agak nggak cocok dengan bola lambat seperti itu. Nah, sekali lagi, harusnya kita bisa menang lawan Zhang Nan/Zhao Yunlei itu.
Kalau dibandingkan rasanya dengan kekalahan di final Olimpiade Beijing 2008 itu seperti apa?
Hampir sama ya dengan All England 2010. Di Beijing 2008, kita juga diunggulkan, harusnya kita nggak kalah melawan mereka (Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung). Kita juga sebelumnya nggak pernah kalah.
Tapi kalau di Beijing, dari segi kondisi, saya memang nggak fit.
Nggak tahu ya, karena waktu semifinal, mereka lebih mudah kan ya? Kalau kita kan di semifinal sudah mati-matian (lawan pasangan Tiongkok He Hanbin/Yu Yang. Nova/Liliyana menang dengan skor ketat 15-21, 21-11, 23-21, Red). Jadi, rasanya di final, tenaga saya belum pulih.
Tetapi waktu di All England, sebenarnya secara permainan kita bisa menang. Tetapi memang Zhang Nan/Zhao Yunlei tampil luar biasa dan pantang menyerah. Jadi ya mereka bisa menang.
Photo
Nova Widianto dan Liliyana Natsir saat meraih perak Olimpiade Beijing 2008. (AFP Photo)
Dalam kasus Mas Nova, kalah di final event-event besar seperti All England atau Olimpiade butuh recover mental sampai berapa lama?
Kalau setelah kalah di Olimpiade itu rasanya susah sekali untuk melupakan. Bahkan yang juara saja juga susah untuk mulai (berprestasi) lagi. Tapi kalau saya sih, ya tidak terlalu lama ya, Mas. Karena waktu itu ada obatnya juga karena Hendra (Setiawan)/(Markis) Kido juara. Coba kalau misalnya nggak ada emas, ya kita pasti akan sangat kepikiran.
Memang nggak gampang sih kalau Olympic. Itu kan empat tahun sekali. Mau mengulanginya lagi itu rasanya, waduh, itu berat sekali. Mulai dari kualifikasi, lalu menunggu empat tahun lagi, itu berat sekali.
Nah dari pengalaman-pengalaman itu, apa yang Mas Nova bisa bagikan kepada ganda campuran Indonesia saat ini? Bagian mana yang Mas Nova biasanya ceritakan kepada para pemain kita?
Kalau soal pengalaman itu, saya sering bilang ke Praveen. Nanti nggak usah terlalu (terpatok melulu fokus) di kondisi. Maksudnya begini, dia nggak harus selalu ada di kamar terus. Kadang-kadang malah, istilahnya, bisa menjadi beban.
Kalau saya, mendingan rileks saja. Jalan, duduk di mana, ngopi. Itu membuat kita rileks. Kadang-kadang fokus di kamar sendiri malah kepikiran.
Saya sendiri kalah di final itu bukan karena tegang ya. Kalau saya bilang, memang nggak ada lucknya. Di final (Olimpiade) Beijing, terus terang saya tidak ada tegangnya sama sekali. Tetapi memang tenaga saya tidak memungkinkan. Korea kan tenaganya kuat. Kita nggak bisa matiin dia.
Padahal sebelumnya bertemu mereka juga nggak masalah. Secara ranking, mereka juga di bawah (Nova/Liliyana, unggulan satu Beijing 2008).
Di final All England juga, kita nggak ada tegangnya. Banyak tuh pemain yang pernah bilang ke saya kalau mereka nggak bisa tidur di malam sebelum final. Kalau saya sih biasa saja. Karena saya sih orangnya rileks, Mas.
Tapi kadang-kadang itu juga ada kelemahannya. Rasanya kurang menggebu-gebu. Jadi, semua ada plus minusnya. Ada yang terlalu rileks juga nggak bagus. Nanti bisa-bisa ya kesantaian. Kalau yang menggebu-gebu, nggak bisa tidur. Jadi yang bagus itu menggebu-gebu tetapi masih bisa rileks he..he..he..
Photo
Nova Widianto/Liliyana Natsir ketika menjadi juara dunia 2007. (Tengku Bahar/AFP Photo)
Olimpiade 2020 ini akhirnya ditunda selama setahun. Soal ini sangat bisa mengacaukan program pelatnas?
Bisa juga, terutama untuk pemain lapis keduanya. Setelah Olimpiade, mereka kan bisa lebih enteng. Kalau Olympic ditunda, pemain lapis kita akan lebih susah karena mulai dari awal lagi. Padahal, setelah Olympic kita sudah punya planning-planning. Yang pensiun siapa. Lalu pasangan-pasangan yang nggak bisa tembus akan kita ubah.
Mundur lagi, ya pasti akan kacau. Saya harus rembukan lagi dengan Kak Icad (Richard Mainaky, Red) sebagai pelatih kepala. Kadang-kadang kan sudah dipersiapin lama. Misalnya, setelah Olympic ada yang mau menikah. Itu ya pasti ada perubahan-perubahan.
Tapi sekarang kan masih dalam masa karantina (setelah pulang dari All England). Dan kita masih belum membahas soal-soal itu. Ada kabar Olympic dipostponed juga kita belum pernah membahasnya. Sekarang kita semua fokus ke karantina ini dulu. Jadi memang agak kacau juga ini.
Sekarang soal Hafiz (Faizal)/Gloria (Emanuelle Widjaja). Evaluasi mereka sepulang dari All England apa?
Pertama, pola main mereka waktu kalah di perempat final tidak bisa jalan. Biasanya saya kasih pola, mereka bisa jalan. Kalau kalah, ya biasanya kalah rubber. Tetapi untuk yang kemarin memang tidak maksimal. Mereka memaksa dengan pola mereka sendiri dan akhirnya digebukin sama Thailand (Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, Red). Mereka pakai pola itu, tetapi Thailand juga lebih suka memakai itu. Harusnya bisa pakai pola yang agak susah dikit, agak capek dikit, tapi kan bisa dapat poin.
Photo
Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja tumbang di perempat final All England 2020. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI).
Kalau menurut saya, dengan tinggi badan yang mencapai 182 cm, Gloria itu bisa sangat potensial sebagai pemain depan...
Iya, Gloria tinggi, tetapi orang tinggi itu memang kurang eksplosif. Sudah pasti seperti itu. Jadi, tugasnya adalah bagaimana menutupi kekurangan itu.
Tapi dia orangnya tidak boleh sakit sedikit. Karena kalau sampai sakit sedikit, tenaga dan kekuatannya langsung ngedrop. Kelemahan dia itu memang di speed dan power. Dia sudah tahu itu. Misalnya, dia di bola-bola yang harusnya bisa matiin, ya nggak bisa mati.
Gloria sih menurut saya termasuk bagus. Tetapi memang speed dan powernya kurang. Tetapi kalau tidak ditunjang dengan makan yang baik, ya nggak akan maksimal. Tapi sekali lagi, kalau sakit sedikit, dia lalu nggak bisa makan dan langsung saja ngedrop.
Lalu solusi untuk menutupi kekurangan itu apa?
Ya, dia harus lebih pinter lagi. Karena dia tinggi, lalu speed dan powernya kurang, harusnya dia bisa menutupinya dengan antisipasi. Dia tidak boleh menunggu atau mengejar bola. Lebih dari itu, dia harus bisa membaca bola.
Jadi memang nggak perlu lari yang gimana, tetapi bisa memprediksi ke mana arah bola. Baik Hafiz dan Gloria ini memang skillnya harus diasah lagi. Karena dengan keterbatasan skill akan sulit, Mas. Sebab, kadang mereka nggak bisa menjalankan pola.
Dalam kondisi sekarang, optimistis bisa meloloskan Hafiz/Gloria ke Olimpiade?
Optimistis pasti. Tetapi sekali lagi ini tergantung sama mereka. Bagaimana semangat mereka. Masih bisa nahan nggak sampai setahun lagi? Toh mereka termasuk pemain senior kan? Jadi, dengan kekurangan yang ada itu, semuanya kembali ke diri mereka sendiri. Apakah mereka tahan nunggu setahun lagi? Dan itu sama sekali nggak gampang, Mas!
Kita kan nggak tahu, mereka habis ini punya plan apa atau plan apa?
Jadi tugas pelatih untuk membuat mereka tahan sampai setahun lagi itu seperti apa? Misalnya bagaimana cara memotivasi mereka mau berjuang keras lagi?
Benar, tugas pelatih kan tidak hanya melatih saja. Apalagi di senior ya, kita nggak gampang mukul rata seperti pemain yang junior. Jadi, nggak selamanya kalau mereka salah lalu kita marahin.
Kita harus cari cara agar mereka bisa semangat latihan. Pasti hampir setiap hari ya ngobrol untuk menemukan cara untuk menyemangati mereka.
Apalagi, mereka kan beda-beda karakter. Kalau junior kan gampang, Mas. Kalau nggak jalan, kita suruh aja pulang. Kita bisa marahin. Dan yang ada, mereka pasti bilang siap. Kalau senior kan beda lah treatmentnya. Karakter mereka beda-beda. Bagi saya nggak segampang di junior.
Harus diakui juga, karakter Indonesia ini bedalah. Terutama untuk disiplin. Misalnya dengan negara-negara yang kulturnya terbentuk seperti Korea atau Jepang. Kalau mereka jelas lebih gampang. Indonesia kan disiplinnya kurang. Kalah sama Jepang dan Korea yang sudah dididik sejak kecil. Kita harus akui itu dan memang kenyataannya seperti itu, Mas.
(Bagian pertama bisa dibaca di sini)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
