Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Maret 2020 | 03.53 WIB

Kompetisi Berhenti, Tim Wajib Lunasi Gaji Pemain Minimal sampai Maret

Pebola Voli Putra Surabaya Bhayangkara Samator Julfikar (Kiri),Putra (tengah) dan Yoga Tegar (kanan) melakukan blok dari tim Jakarta Garuda pada pertandingan putaran pertama di Gelanggang Remaja Pekanbaru, Riau, Jumat (24/1/2019). HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA - Image

Pebola Voli Putra Surabaya Bhayangkara Samator Julfikar (Kiri),Putra (tengah) dan Yoga Tegar (kanan) melakukan blok dari tim Jakarta Garuda pada pertandingan putaran pertama di Gelanggang Remaja Pekanbaru, Riau, Jumat (24/1/2019). HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA

JawaPos.com – Proliga 2020 telah resmi dihentikan. Meski kecewa, tim-tim peserta mendukung keputusan tersebut. Hanya, muncul sejumlah persoalan seperti gaji pemain dan ofisial hingga pemulangan pemain asing.

Asisten Manajer Jakarta PGN Popsivo Polwan Ernita Pongki mengungkapkan, untuk pembubaran atlet, klub harus menyelesaikan administrasi seperti gaji.

’’Terus pemain asingnya pulangnya gimana? Kan repot tiba-tiba ada surat dari PBVSI tanpa ada rembukan antartim. Tiba-tiba datang surat. Kan butuh waktu juga untuk memulangkan atlet,’’ keluhnya.

Perihal komunikasi ke pemain asing, Ernita juga belum tahu mekanismenya. Dia berharap ada rapat antar-manajer tim agar tindakan yang dilakukan setiap tim seragam.

Mengacu surat kontrak, lanjut Ernita, seharusnya atlet diputus karena keadaan memaksa alias force majeure. Namun, pihaknya belum bisa memastikan apakah membayar gaji full atau tidak.

Direktur Proliga Hanny S. Surkatty menyatakan, gaji pemain dan ofisial diimbau untuk dibayarkan sampai Maret. ’’Ini kan force majeure,’’ paparnya melalui sambungan telepon.

Hanny menolak bila dikatakan pemberhentian sepihak dan mendadak. Sebab, penyelenggara Proliga sudah memberi tahu setiap klub sehari sebelumnya. ’’Dan yang pasti tidak dapat izin penyelenggaraan. Terus kita mau main di mana? Di bulan?’’ katanya.

Sebelumnya, ada opsi pertandingan dimainkan di Padepokan Voli Sentul Jawa Barat. Namun, meski tanpa penonton, Hanny menyebut terdapat 500 orang yang berada di lokasi setiap harinya. Jumlah tersebut berasal dari ofisial dan perangkat pertandingan.

’’Kalau sampai terjadi persebaran virus di situ, yang menyesal siapa? Insan perbolavolian kan?’’ ucapnya.

Pemberhentian kompetisi, lanjut Hanny, memang keputusan yang berat. Seluruh pihak dirugikan. Tapi, kesehatan dan keamanan lebih utama.

’’Persebaran virus saat ini terus naik. Coba bayangkan beberapa minggu lagi sudah berapa yang kena. Terus, siapa yang mau bertanggung jawab kalau nantinya ada yang terkena? Jangan pikirkan uang lah. Semua panitia rugi,’’ ucapnya.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore