Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juni 2022 | 17.41 WIB

Eng Hian Ingin Ganda Putri Punya Banyak Andalan Seperti Ganda Putra

Ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti saat bertanding melawan Ganda Putri Korea Lee So Hee/Shin Seung Chan pada perempat final Indonesia Open 2022 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (17/6/2022). Apriyani/Fadia kalah lewat dua g - Image

Ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti saat bertanding melawan Ganda Putri Korea Lee So Hee/Shin Seung Chan pada perempat final Indonesia Open 2022 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (17/6/2022). Apriyani/Fadia kalah lewat dua g

JawaPos.com-Apriyani Rahayu/Siti Fadia Ramadhanti sebetulnya sangat diharapkan bisa melaju jauh di ajang Indonesia Open 2022. Namun, langkah mereka harus terhenti di perempat final (17/6).

Mereka takluk oleh andalan Korea Selatan Lee So-hee/Shin Sheung-chan (14-21, 19-21). Lee/Shin pun menjadi momok bagi ganda putri tanah air. Sebab, dua wakil Indonesia sebelumnya juga ditaklukkan pasangan ranking ke-2 dunia tersebut.

Apri –sapaan Apriyani Rahayu– menyatakan, hasil di Indonesia Open dan Masters sebelumnya bakal jadi pelajaran yang berarti. Terutama terkait pola permainan.

”Kami harus terus konsisten dan belajar,’’ ujar Apri saat memberikan keterangan pasca pertandingan.

Fadia menambahkan, sebetulnya gaya bermainnya tidak banyak berubah di Indonesia Masters dan Open. ”Tapi, kurang konsisten di poin penting,’’ ungkapnya.

Mengenai evaluasi laga melawan Korea, pelatih ganda putri Indonesia Eng Hian melihat kekalahan bukan hanya karena pola permainan ganda Korea yang kerap berubah. Melainkan juga dari sisi nonteknis.

Menurut dia, Apri sudah terbiasa dengan tekanan dan kemauan untuk menang yang tinggi. Sementara itu, Fadia masih belajar. Terutama bermain di publik sendiri dengan atmosfer luar biasa.

”Kalau atlet menyalahartikan, bisa jadi bumerang dengan mengikuti teriakan penonton. Tapi, ini pengalaman luar biasa bagi mereka,’’ kata Eng Hian.

Pria yang akrab disapa Coach Didi itu menyatakan, progres seluruh anak asuhnya cukup baik. Dia berharap mereka bisa belajar banyak di dua ajang tersebut. Lalu, apa saja yang harus di-push dari ganda putri? Eng Hian menuturkan, yang pasti para pemain harus upgrade kemampuan dan cara bermain dengan lawan yang dihadapi.

”Di bawah mereka ini (Apriyani/Fadia) akan di-push untuk limit itu. Untuk pukulan tidak ada masalah. Tapi, pola permainan di-push,’’ ujarnya.

Eng Hian membeberkan bahwa tujuan utama semua itu adalah mengejar Olimpiade. Namun, sebelum ke sana, ada target sasaran antara dengan mengikuti berbagai turnamen. Sebab, mereka adalah pasangan baru.

Dalam waktu dekat, sudah ada turnamen yang bakal diikuti. Yakni, Malaysia Open (28 Juni–3 Juli), Malaysia Masters (5–10 Juli), Singapore Open (12–17 Juli), dan Taipei Open (19–24 Juli).

”Kami berharap tidak hanya satu pasang di ganda putri. Kami ingin ada banyak seperti di ganda putra,’’ ujarnya. ’’Target tentunya adalah secepat mungkin masuk top elite dunia. Top 8. Di atas 8 grade kedua,’’ ucapnya.

Didi menuturkan, persaingan antarnegara lain tidak jauh berbeda. Bahkan, menurut dia, peta kekuatan yang berubah justru dari Indonesia pasca pensiunnya Greysia Polii. ”Lainnya masih sama. Itu-itu saja,’’ katanya.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore