alexametrics
Catatan Wartawan Jawa Pos, Candra Kurnia

ANALISIS: Apa yang Membuat KTM Akhirnya Menjadi Juara Seri MotoGP

12 Agustus 2020, 17:48:56 WIB

JawaPos.com-Rasanya, Minggu itu (9/8) Stefan Pierer langsung berpesta semalam suntuk. Kemenangan perdana KTM di kelas MotoGP sungguh layak dirayakan dengan gegap gempita.

Meskipun ada hal yang jauh lebih besar dari kemenangan itu: jalan pembalasan dendam kepada rival terbesar mereka dalam sejarah balap dunia, Honda, kini terbuka lebar.

Siapa pun yang menggilai MotoGP pasti tahu betapa bencinya Pierer, sang CEO KTM, kepada pabrikan Jepang berlogo sayap mengepak tersebut. Saga perseteruan keduanya dipupuk sejak lama, dan masih akan berkembang.

’’Kami mencintai balapan dan kami sangat senang mengalahkan pabrikan Jepang,’’ sumbar Pierer penuh keteguhan hati saat launching skuad KTM MotoGP dan Moto2 Februari 2017.

’’Honda selalu berupaya mencurangi aturan. Itulah alasan kami berambisi mengalahkan mereka,’’ tandasnya.

Tim KTM merayakan kemenangan Brad Binder di MotoGP Republik Ceko 2020.

Kalau mau ditarik ke belakang, perseteruan KTM vs Honda terpantik sejak Dorna dan FIM menggagas lahirnya Moto2, menggantikan kelas 250 cc. Pada 2008, muncul rencana mengubah spesifikasi mesin di kelas intermediate dari 250 cc menjadi 600 cc empat tak.

KTM ngamuk berat. Proyek mereka membangun motor dua tak dobel silinder injeksi, FRR 250, terbilang sukses besar di kelas 250 cc. Meski belum sempat meraih gelar juara dunia selama mengaspal dalam kurun waktu 2005–2008, FRR digadang-gadang menjadi penerus kesuksesan KTM FRR125 di kelas 125 cc.

Hampir seluruh paddock di kelas 250 cc waktu itu, terutama KTM, meyakini ada campur tangan Honda atas rencana perubahan spesifikasi mesin tersebut. Dugaan itu akhirnya terbukti. Honda menjadi pemasok tunggal mesin Moto2 berbasis CBR 600 RR sejak 2010–2018.

KTM mutung. Mereka mundur dari kelas 250 cc pada 2009 dan dari 125 cc setahun berikutnya. Mereka pulang kampung ke Austria untuk mempersiapkan balas dendam yang manis.

’’Membunuh’’ dengan Senjata Lawan

Di MotoGP, KTM all-out. Mereka langsung memiliki tim satelit dengan menggaet Tech 3. Dengan empat motor KTM turun di setiap balapan, data yang terkumpul lebih masif dan presisi.

Agar sumber daya dan dana terfokus pada MotoGP, KTM menyetop proyek mereka di Moto2. Sekaligus mengikat kontrak dengan Dorna untuk tampil di MotoGP sampai 2026.

Tapi, yang menjadi titik balik kesuksesan KTM adalah keberhasilan mereka merekrut Dani Pedrosa sebagai pembalap uji. Pengalaman panjang rider mungil itu mengendarai RC213V selama 18 tahun sangat berharga bagi KTM. Inilah jalan ’’membunuh’’ dengan menggunakan senjata lawan itu dimulai.

RC16 juga menggunakan konfigurasi mesin yang sama dengan Honda RC213V, yakni V4. Dan sejak dulu, KTM selalu punya pola bertarung yang sama. Yakni, menggunakan senjata yang sama dengan milik lawan. Tapi dibuat dengan lebih baik.

Perlahan-lahan RC16 berkembang. Meski pada awalnya motor tersebut sempat membuat banyak rider frustrasi. Termasuk Johann Zarco, yang digadang-gadang bisa membawa motor ini menuju persaingan papan atas. ’’Sasis sampah!’’ Zarco mengumpat di Jerez tahun lalu.

Johann Zarco saat beraksi bersama KTM pada MotoGP Austria di Red Bull Ring 11 Agustus 2019. (Dominik Angerer/EPA).

Sumpah serapah yang tidak sengaja terekam kamera itu membuat Pierer ngamuk. Sasis teralis sudah seperti ’’agama’’ bagi KTM. Siapa pun yang menghina pasti ditendang.

Namun, setelah mendapat desakan bertubi-tubi dari sejumlah rider uji dan pembalap utama mereka, Pol Espargaro, KTM melunak tahun ini. Mereka mau memodifikasi main frame model teralis tubular menjadi lebih kotak.

Hasilnya langsung terasa. Motor lebih stabil. Keluhan motor bergetar saat pengereman berkurang drastis. Dan dari sisi mesin, cobalah putar potongan adegan saat Brad Binder melewati Fabio Quartararo di GP Ceko Minggu lalu. Tampak jelas nyaris tanpa usaha yang berlebih.

Power mesin RC16 di trek lurus mengagumkan.

Apakah Honda diam saja? Tentu tidak. Kalau KTM merekrut Pedrosa sebagai rider uji, Honda langsung membajak Espargaro. Bahkan meski harus ditebus dengan ’’mengorbankan’’ Alex Marquez yang saat keputusan itu diambil belum membalap satu lap pun pada musim debutnya di MotoGP.

Juga dengan risiko besar terjadi friksi keras di internal tim. Sebab, Marc Marquez dan Pol punya sejarah rivalitas yang tak kalah panjang dengan Honda vs KTM. Honda paham betul peran Espargaro sangat krusial dalam pengembangan RC16 sampai sehebat ini.

Honda memang wajib waspada. Mereka sejauh ini gagal membangun motor yang bisa dikendarai semua pembalap. Berbeda dengan KTM sekarang, yang keempat rider-nya relatif bisa beradaptasi lebih mudah.

Maka, saat Marquez cedera seperti sekarang, banyak hal yang dipertaruhkan. Poin di klasemen pembalap, poin konstruktor, poin tim. Juga gelar juara dunia. Tahun lalu Marquez-lah yang menyumbang 90 persen poin bagi tim.

Kemenangan Binder di Brno baru awal dari terbukanya kembali rivalitas KTM vs Honda. Kali ini di kelas para raja. Orang yang paling gemas menyaksikan balapan di Brno Minggu lalu, tentu saja, Marc Marquez.

Bisa jadi di depan TV dia ingin menggebrak meja atau menghajar tembok dengan tinjunya. Tapi, dia harus menahan diri. Karena kali terakhir dia membuka jendela rumahnya, lengannya patah lagi… (*)

Editor : Ainur Rohman




Close Ads