
BUKAN KESENGAJAAN: Aprilia Manganang (kanan) kala memperkuat Bandung BJB Tandamata dalam Proliga 2020 di gedung PSCC, Palembang, (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
JawaPos.com - Menpora Zainudin Amali menilai perubahan status Aprilia Manganang menjadi lelaki tidak menggugurkan prestasi dia sebagai atlet putri. Sebab, yang terjadi padanya disebabkan kelainan yang disebut hipospadia.
Jadi, bukan sesuatu yang disengaja. “Kecuali sudah jelas jelas laki-laki tapi ngaku perempuan, itu baru tidak fair, tidak sportif. Kalau ini kan tidak,” bebernya di Gedung Kemenpora, Jakarta, kemarin (10/3).
Bahkan, sambungnya, Aprilia sendiri tidak menyadari kalau dirinya pria. Semua pemeriksaan medis sebelumnya juga menunjukkan hasil kalau dia perempuan,
”Jadi, saya rasa bukan kesalahan dia. Cuma pemeriksaan terakhir (oleh tim dokter RSAD, Jakarta) lebih detail dan lebih teliti sehingga apa yang sudah diperoleh sebagai atlet perempuan sah saja,” tambahnya.
Hingga kemarin PBVSI sebagai induk olahraga voli di tanah air belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait status baru Manganang yang dulunya merupakan pevoli putri andalan tim nasional (timnas).
Sekretaris Jenderal National Olympic Committees (NOC) Indonesia Ferry Kono membenarkan kalau perubahan status Manganang dari perempuan menjadi laki-laki bakal mendapatkan perhatian dari SEAGAF (South East Asian Game & Animation Festival). Dia menjelaskan, SEAGAF bakal mengambil keputusan terkait medali yang pernah didapat Manganang bersama timnas voli putri Indonesia.
Karena itu, pihaknya bakal memberikan klarifikasi kepada yang bersangkutan, termasuk tim ofisial timnas voli pada saat SEA Games. Hanya saat ini pihaknya belum bisa menyimpulkan apapun sebelum adanya klarifikasi yang legitimate. Terlebih, olahraga ini dimainkan beregu.”Soal medali tentu ini menjadi domain dari SEAGAF,” tuturnya.
Kelainan pada Laki-Laki
Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Plastik RSUD dr Soetomo Prof Dr dr Djohansjah Marzoeki SpB SpBPRE mengatakan, hipospadia adalah kelainan pada laki-laki. Berupa kelainan pada lubang kencing yang posisinya tidak di ujung penis, tetapi lebih proksimal (di pangkal) sampai terlihat seperti perempuan.
Kondisi tersebut termasuk kondisi yang parah. Namun, kondisi yang ringan lubang kencing tidak terlalu jauh dari ujung penis, bisa di tengah-tengah atau di pangkal penis.
”Mungkin kasus Aprilia ini termasuk yang parah. Kalau orang awam melihat kondisi tersebut dikira seperti alat kelamin perempuan. Padahal, sebenarnya dia tidak punya vagina atau lubang kencing,” katanya kepada Jawa Pos kemarin.
Djohansjah menuturkan, ada dua alat diagnostik secara pasti untuk melihat jenis kelamin. Pertama, melihat gonad (organ reproduksi yang menghasilkan sel kelamin).
Pada laki-laki memiliki testis dan perempuan memiliki indung telur (ovarium). Kemudian tanda pasti kedua adalah kromosom. Pada laki-laki kromosomnya XY dan perempuan kromosomnya XX.
Menurut Djohansjah, kasus yang terjadi pada Manganang adalah kesalahan diagnosa jenis kelamin oleh keluarga sejak dilahirkan. Keluarga melihat kelamin pada saat bayi dilahirkan seperti perempuan. Jadi, Aprilia dibesarkan menjadi perempuan. Padahal, sebenarnya laki-laki.
”Dalam hal ini Aprilia merasa laki-laki, tetapi dibesarkan menjadi perempuan. Tentu selama itu dia menderita,” kata dia.
Namun, ada juga kasus hipospadia yang merasa dirinya perempuan. Kemudian, dia dijadikan perempuan. Hal tersebut tergantung bagaimana orang tersebut merasa berbahagia. ”Yang terpenting dalam kasus Aprilia ini, dia memang merasa bahagia menjadi laki-laki, maka jenis kelaminnya dikoreksi menjadi laki-laki,” jelasnya.
Djohansjah menjelaskan, kasus yang dialami Aprilia bukanlah mengubah kelamin. Namun, hanya mengoreksi atau memperbaiki kondisi kelainan pada alat kelaminnya. Sementara, mengubah kelamin adalah seseorang yang memang anatomi gonad dan kromosomnya laki-laki diubah menjadi perempuan atau sebaliknya.
”Kasus hipospadia cukup banyak terjadi. Kondisinya macam-macam. Ada yang ringan, sedang dan parah,” kata dia.
Hipospadia, lanjut dia, adalah cacat bawaan. Tidak ada penyebab-penyebab khusus. Namun, ada kemungkinan faktor genetika. ”Yang jelas hipospadia adalah penyakitnya laki-laki,” ujarnya.
Sementara, Dokter Spesialis Urologi dr Yodi Soebadi SpU mengatakan, hipospadia adalah kelainan bawaan yang paling sering didapatkan di bagian saluran kencing. Kondisi yang dialami Aprilia kemungkinan kasus berat.
Kondisi tersebut merupakan kasus umum terjadi pada laki-laki. Pada saat bayi dilahirkan dapat dilakukan dengan kecurigaan yang tinggi.
Baca juga: Hipospadia Membuat Aprilia Puluhan Tahun Hidup sebagai Perempuan
”Tidak jarang kondisi seperti ini diketahui ketika dewasa,” kata dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga, Surabaya, tersebut.
Dia menuturkan, pada kasus hipospadia dapat dilakukan perbaikan pada kelamin dengan tujuan memperbaiki fungsi kesembuhan. Misalkan, untuk memungkinkan bisa berhubungan sebagai suami istri atau punya anak secara alamiah. Selain itu, juga untuk penampilan alat vital atau organ seks dengan dikoreksi hingga mendekati normal.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=gL_WSlD8VC8

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
