alexametrics
Wawancara Mantan No 1 Dunia Tri Kusharjanto

Saya yang Pernah Main di Ganda Campuran, Sedih Melihat Kondisi Ini

10 Juni 2022, 15:01:13 WIB

JawaPos.com-Ganda campuran Indonesia mengalami kemerosotan tajam. Terbaru, pada turnamen di kandang sendiri, Indonesia Masters 2022, tidak ada satupun ganda campuran Indonesia yang lolos ke semifinal.

Hari ini (10/6), wakil terakhir Indonesia Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari, dikalahkan dengan telak oleh ganda campuran ranking 24 dunia asal Thailand Supak Jomkoh/Supissara Paewsampran.

Mendapatkan dukungan penuh dari penonton di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta hari ini (10/6), Rinov/Pitha bermain buruk, selalu terdominasi, dan tertekan. Mereka kandas dalam dua game langsung dengan skor 13-21 dan 14-21.

Rinov/Pitha saat ini menjadi andalan dan menjadi ganda campuran nomor satu di pelatnas PP PBSI. Mereka mendapatkan tanggung jawab besar pasca terdegradasinya Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

Tetapi sepanjang 2022 ini, Rinov/Pitha gagal bersinar. Yang paling mengecewakan terjadi pada SEA Games 2021, Hanoi. Menjadi unggulan pertama, Rinov/Pitha kalah di semifinal dan cuma membawa pulang perunggu.

Dalam tujuh turnamen yang mereka ikuti sepanjang 2022, Rinov/Pitha hanya sekali menembus semifinal. Yakni pada ajang Korea Open.

Sebelumnya, mereka bahkan sudah tumbang pada babak pertama All England dan Swiss Open. Kebetulan, Rinov/Pitha dikalahkan ganda yang sama, pasangan asal Inggris Marcus Ellis/Lauren Smith.

Kondisi ini membuat mantan ganda campuran nomor satu dunia Tri Kusharjanto gusar. Pemain yang pernah berjaya dan meraih perak Olimpiade Sydney 2000 bersama Minarti Timur itu menegaskan bahwa PP PBSI harus melakukan langkah yang berani agar kondisi buruk ini berubah.

Berikut wawancaranya dengan Jawa Pos.

Tri Kusharjanto dan Minarti Timur merayakan keberhasilan lolos ke final Olimpiade Sydney Olympic 2000. (Robyn Beck/AFP)

Bagaimana tanggapan Anda terkait kondisi ganda campuran saat ini?

Ya sebenarnya sih, kalau saya melihat, ada banyak potensi di ganda campuran. Cuma kenapa sih yang ditampilkan itu-itu terus begitu loh. Rinov (Rivaldy dan Pitha Haningtyas Mentari) itu kan sudah lama juga (debut senior pada 2018, Red). Dia juga sudah dikasih banyak kesempatan.

Jujur saja ya, di SEA Games, dengan tidak ada atlet elite seperti dari Thailand (Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai), mengapa mereka tidak bisa dapat emas?

Jadi saya kira harus ada perubahan. Kalau pelatihnya seperti itu, tidak ada perubahan, kasihan di bawahnya kalau itu-itu saja yang diterusin.

Maksud saya, pelatih (Nova Widianto) kan bisa melihat potensi. Kecuali kalau pemainnya kurang pengalaman. Kalau Rinov itu kan sudah banyak banget pengalamannya. Tidak kurang-kurang lah.

Setelah Praveen/Melati dan Hafiz /Gloria tidak di pelatnas, mengapa atlet pelatnas lain tidak banyak muncul menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan?

Ya itu saya bilang, ini karena atlet di bawah kurang banyak mendapat kesempatan. Jadi terfokus dengan pasangan yang itu-itu saja yang mungkin kurang bagus.

Akhirnya di kelas SEA Games saja yang tidak diikuti pemain bagus, mereka tidak bisa juara. Kan bisa dilihat. Kalau mau Indonesia dapat peringkat bagus, harusnya pasang dan uji yang lain. Harus berani begitu.

Kalau pelatihnya pasif, ya repot begitu. Jadi dilihat bagaimana kekurangan dan kelebihan pemain. Seorang Nova Widianto saya kira bisalah dia mengubah seperti apa ini. Dia harus berani. Tidak bisa pasif.

Melihat apa yang terjadi di SEA Games kemarin, saya yang pernah main di ganda campuran, merasa sedih dengan kondisi ini.

Harusnya dari situ kita bisa melihat. Mengapa? Kendalanya di mana? Harus introspeksi diri semuanya untuk mengubah. Saya kira untuk perubahan di ganda campuran, kita harus berani melakukan bongkar pasang.

Sistemnya bagaimana? Terpenting kita jangan takutlah. Kalau monoton terus, yang terjadi ya akan seperti ini. Begitu terus. Tidak bakal punya yang bagus lagi.

Apakah tidak terlalu berisiko kalau sering bongkar pasang pemain?

Enggak lah. Sekarang dihitung dengan poin masing-masing. Enak bisa digabungin. Harus berani bongkar pasang. Kecuali kalau dulu mulai dari nol.

Sekarang kan sudah punya poin masing-masing. Kalau tidak berani, ya repotlah. Hasilnya begitu lagi, begitu lagi. Orang akan menilai ini yang salah siapa. Pelatih harus sudah mengerti dan paham.

Menurut Anda, sejauh ini bagaimana penampilan pelapis?

Ya, saya tidak semata membanggakanlah. Kemarin di Swiss Open, Rehan Naufal/Lisa Ayu bisa ke semifinal. Lalu di Orlean Masters bisa ke final. Itu bisa jadi acuan. Sejauh ini, kan yang dipasang itu-itu saja. Seharusnya pelatih bisa lihat.

Intinya harus berani, jangan pasif. Kalau hanya memikirkan yang ini saja, kasihan yang lain. Ini akan jadi bencana di ganda campuran.

Menurut Anda siapa atlet yang bisa dibongkar pasang?

Ya dicobalah. Pelatih seperti Nova kan sudah mengertilah. Di latihan dan di lapangan, bisa dilihat cocoknya si A dengan si B. Ya itu bisa dilihat di lapangan setiap hari. Pelatih lebih mengerti. Kalau saya kan hanya di luar dan mengamati.

Jadi kembali lagi, harus berani. Apalagi saat ini, situasinya adalah ganda campuran baru saja ditinggal Richard Mainaky (mantan pelatih kepala pelatnas PP PBSI). Nova harus berani, jangan main save. Tidak bisa. Tidak ada prestasi kalau seperti itu.

Katanya targetnya di Olimpiade 2024. Dan saya kira itu masih lama. Tetapi kalau tidak dari sekarang, ya kapan lagi?

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Rizky Ahmad Fauzi

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads