Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Maret 2020 | 03.01 WIB

Saya Akui, Menuju Peringkat Tiga Dunia Ini Butuh Proses Panjang

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting melawan Pebulu tangkis tunggal putra Denmark Anders Antonsen  pada pertandingan Final  Daihatsu Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (19/1/2020). HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA - Image

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting melawan Pebulu tangkis tunggal putra Denmark Anders Antonsen pada pertandingan Final Daihatsu Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (19/1/2020). HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA

JawaPos.com-Anthony Sinisuka Ginting mencatat start hebat pada musim 2020. Dia menjadi juara Indonesia Masters 2020.

Lalu mengantar Merah Putih menjadi kampiun Badminton Asia Team Championships 2020. Dalam prosesnya, Ginting menyapu bersih empat kemenangan dan cuma kehilangan satu game.

Gelar di Istora Senayan dan hasil fantastis Kejuaraan Beregu Asia 2020 di Manila membuat Ginting mencatat prestasi individual spesial. Yakni menembus ranking tiga dunia. Itulah peringkat tertinggi dalam karir pemain berusia 23 tahun kelahiran Cimahi, Jawa Barat tersebut.

Podium tertinggi di Indonesia Masters 2020 juga mematahkan catatan nyaris juara Ginting sepanjang 2019. Maklum, tahun lalu, dia berhasil menembus lima kali final. Namun, selalu saja tumbang di partai puncak.

Di tengah-tengah persiapan menjelang All England 2020, Ginting berbincang dengan wartawan JawaPos.com Gugun Gumilar di Pelatnas Cipayung, Jakarta (3/3).

Bagaimana rasanya menjadi pemain nomor tiga dunia? Itu adalah ranking tertinggi dalam karirmu. Apakah terbebani dengan status baru itu?

Tentunya saya senang. Ada rasa bangga juga. Kalau dibilang terbebani sih enggak ya. Disyukuri aja. Jangan dijadikan beban, tetap enjoy saja. Yang penting berikan yang terbaik buat diri saya sendiri. Maupun buat Indonesia. Saya akui, menuju ke peringkat nomor tiga dunia ini butuh proses panjang. Enggak langsung instan.

Mencapai nomor tiga dunia pada awal tahun ini, apakah sudah sesuai perkiraan dan perhitunganmu?

Inginnya bisa lebih baik lagi. Kita kan enggak tahu ke depannya seperti apa.

Photo

Anthony Sinisuka Ginting (kiri) dan Kento Momota berpose di podium turnamen puncak akhir tahun, BWF World Tour Finals 2019. (PP PBSI)

Januari lalu, pelatih kepala Jepang Park Joo-bong mengatakan bahwa hanya ada empat orang yang bisa mengganjal Kento Momota untuk meraih emas Olimpiade Tokyo 2020. Salah satunya adalah kamu sendiri. Ada komentar soal itu?

Justru komentar itu jadi nilai plus buat saya, berarti saya sudah diperhitungkan oleh negara lain. Tapi saya juga tidak hanya fokus ke satu pemain saja. Masih ada pemain-pemain lainnya. Sebelum nanti saya bertemu Momota, pasti saya bertemu dengan musuh lain dong.

Nah, ini juga jangan sampai dianggap remeh. Jangan hanya fokus ke satu orang saja. Saya akui, Momota atlet Jepang yang pantang menyerah. Dia pintar membalikan situasi. Dia juga tahu kelemahan lawan. Kita sebagai lawannya harus lebih pintar dari dia juga.

Memang, sekarang ini kiblatnya ke Momota. Banyak pemain di bawah ranking dia, saat bertanding, ingin menunjukkan kekuatannya. Termasuk saya juga ingin membuktikan yang terbaik kepada dia.

Begitu juga sebaliknya. Pemain yang ada di bawah ranking saya, ingin tampil memukau dan ingin mengalahkan saya. Saya senang dengan pujian tersebut. Tapi, ya itu, jangan terlena.

Setelah menjadi juara di Indonesia Masters, Ginting pecah telur karena sepanjang 2019 terus gagal di final. Bahkan sampai lima kali. Apakah sudah lega dan makin percaya diri untuk menjadi juara lagi?

Tentunya lega ya. Masak sering ke final terus, tapi kok enggak pernah juara, ha ha ha...

Atlet mana sih yang enggak mau juara, pasti mau lah ya. Tentunya untuk menjadi juara lagi, masih ada yang perlu dievaluasi. Misalnya, pertahanan. Itu harus lebih diperbaiki.

Photo

Anthony Sinisuka Ginting di Pelatnas Cipayung, Jakarta (3/3). (Gugun Gumilar/JawaPos.com)

Tahun ini sangat penting. Karena ada Olimpiade. Tekanan menuju Olimpiade seperti apa?

Tekanannya besar, harus banyak latihan. Terutama di masalah defense. Soalnya defense saya masih lemah, jadi harus ditambah lagi. Fisik juga. Selain itu kesempatan ke Olimpiade menjadi impian semua atlet, termasuk saya. Ini kesempatan saya untuk membuktikan. Semoga bisa memberikan yang terbaik buat negara.

Waktu All England 2019, kamu langsung tumbang di babak pertama. Persiapan untuk menghadapi edisi tahun ini seperti apa?


Untuk di All England, saya fokus persiapan fisik. Sekarang kan persiapannya tiga Minggu. Nah, di Minggu terakhir ini terus dimantepin latihan di lapangan dan tekniknya.

Di luar latihan dan bertanding, kamu lebih suka menyibukkan diri dengan apa?

Kalau ada waktu luang sih biasanya main PUBG. Enggak terlalu sering sih main gamenya, ya paling satu jam. Enggak terlalu mahir sih. Tapi lumayan lah, ha ha ha..

Selain itu, saya berenang untuk menjaga fisik. Main bola juga. Tapi ya itu, enggak sering banget.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore