Ayrton Senna di dalam mobil McLaren MP4/4 musim 1988. (writeopinions.com)
JawaPos.com - Ayrton Senna da Silva adalah nama yang akan selalu abadi dalam dunia Formula 1. Pembalap asal Brasil ini dikenang sebagai salah satu talenta terbesar yang pernah dimiliki Formula1.
Tiga gelar juara dunia, 41 kemenangan Grand Prix, dan 65 pole position, membuktikan bahwa ia merupakan talenta besar yang pernah ada.
Senna adalah ikon yang menginspirasi generasi pembalap dan penggemar motorsport di seluruh dunia. Keberanian, dedikasi dan semangat juang yang luar biasa selalu ia tampilkan dalam setiap balapan
Warisan Senna bukan sekadar statistik. Gaya balap yang agresif, kemampuan di lintasan basah, dan sering membuat perbedaan di saat krusial menjadikannya legenda yang sulit dilupakan.
Ayrton Senna merupakan Raja Monaco dengan rekor enam kali kemenangan di Circuit de Monte Carlo tersebut. Balapan ikoniknya pada saat Monaco Grand Prix 1984 bersama Toleman. Ia menampilkan gaya balap yang memukau di atas lintasan basah dengan meraih posisi kedua dalam balapan
Balapan-balapan seperti Monaco Grand Prix 1984 dan duel sengitnya dengan Alain Prost telah menjadi bagian dari cerita epik Formula 1.
Lebih dari itu, Senna juga dikenal dengan kepribadiannya yang dermawan di luar lintasan, salah satunya mendirikan yayasan amal untuk mendukung pendidikan anak-anak di Brasil.
Hingga kini, nama Ayrton Senna tetap hidup dalam ingatan para penggemar, tidak hanya sebagai pembalap, tetapi juga sebagai manusia yang meninggalkan dampak mendalam dalam olahraga dan kehidupan.
Pria asal Brasil ini memulai kariernya di Toleman lalu ke Lotus, McLaren dan terakhir bersama Williams.
Bagaimana perjalanan karier F1 Ayrton Senna? Simak dalam ulasan di bawah ini.
Senna memulai kariernya dengan bergabung di tim Toleman pada musim 1984. Johnny Cecotto adalah rekan tim pertamanya selama di tim Toleman.
Bersama Toleman ia berhasil menjalani 16 balapan dengan perolehan satu podium saat Monaco Grand Prix 1984 di posisi kedua. Musim selanjutnya ia tidak meneruskan bersama Toleman, melainkan pindah ke tim Lotus.
Mencatatkan podium di musim perdananya membuat tim Lotus tertarik untuk merekrutnya. Pada musim perdananya ia dipasangkan dengan Elio de Angelis yang merupakan pembalap asal Italia.
Kemenangan perdananya juga ditorehkan bersama Lotus pada GP Portugal 1983. Kemenangan ini sekaligus menjadi raihan Grand Slam pertamanya selama berkarir di F1.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
