
MARATHONER: Atikoh mendapat dukungan spesial dari sang suami, Ganjar. Di finish line, Ganjar juga membawa buket untuk Atikoh. (Siti Atikoh untuk Jawa Pos)
Siti Atikoh Ganjar Pranowo berlatih intensif selama tiga bulan untuk maraton pertamanya di Pocari Sweat Run Indonesia 2022 akhir bulan lalu. Berbagai tantangan dilewatinya untuk menyelesaikan rute 42 kilometer itu.
---
ATIKOH tetap rajin berolahraga di tengah kesibukan menakhodai Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Tengah, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah, dan Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Tengah. Bagi dia, olahraga bukan saja hobi, melainkan juga sarana untuk menjalankan pekerjaan.
Karena itu, meski jadwal padat pada akhir pekan, dia bersama sang suami, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, tetap berolahraga sambil menuju lokasi acara. Baik dengan bersepeda maupun berlari. ’’Olahraga itu me time bagiku. Paling nggak seminggu empat kali,’’ tutur Atikoh saat ditemui di Rumah Dinas Gubernur Jateng, Puri Gedeh, pada Jumat (5/8).
Setelah mengikuti ajang lari 10K dan half marathon (HM) 21K, perempuan kelahiran 25 November 1971 itu merasa lebih tertantang untuk mengikuti full marathon (FM) 42K. Event Pocari Sweat Run Indonesia 2022 di Bandung diambil Atikoh sebagai ajang virgin marathon-nya. Istri orang nomor satu di Jateng itu pun berlatih intensif sejak Mei hingga Juli 2022. ’’Saya sengaja pilih coach dari teman-teman sendiri supaya lebih nyaman,’’ ungkapnya.
Selain mengonsumsi makanan bergizi yang harus seimbang, Atikoh mengimbangi persiapan dengan cross training berupa aerobik, gowes, dan latihan kekuatan (strength). Dia menyebutkan, porsi seimbang saat berlatih sangat penting untuk mencegah cedera pada tubuh pelari. Dalam seminggu, dia meluangkan waktu latihan lari 2–4 kali selama sekitar sejam mulai pukul 05.00. Bila teman-teman berhalangan menemani, Atikoh berlatih sendiri di sekitar kompleks Puri Gedeh pukul 05.15.
Bagi penghobi olahraga dan pencinta aktivitas fisik seperti dia, selalu ada waktu untuk berolahraga. Alasan sibuk karena pekerjaan tidak berlaku bagi Atikoh. Bahkan, saat dinas ke luar kota, dia dan suami tetap menyempatkan joging. ’’Di Banyumas, Jogjakarta, Solo, dan lainnya, kami tetap sempatkan lari,’’ katanya.
Pada akhir pekan, rute long run diambil Atikoh. Minimal, jarak yang ditempuhnya 13 kilometer. Untuk latihan itu, biasanya dia memilih medan landai di Semarang Kota yang disebut segitiga emas. Antara Lawang Sewu, berputar mengelilingi kota, dan kembali lewat jalur Balai Kota Semarang. Dia mengungkapkan, latihan demi latihan ditempuhnya secara bertahap. Dengan demikian, tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan jumlah kilometer yang ditempuhnya.
Selain lari, latihan kekuatan jadi menunya. Bahkan, Atikoh mengakui, latihan kekuatan membuatnya cukup kepayahan. Bagi dia, plank, squat, dan angkat beban sangat menguras tenaga. Tetapi, itu tetap dilakukannya demi kondisi tubuh yang maksimal.
Namun, ada saja tantangan menghadapi FM pertamanya itu. ’’Dua minggu sebelum event, seharusnya volume pekerjaan dikurangi. Tetapi, saya malah kurang istirahat karena banyak agenda,’’ ungkapnya. Bahkan, dia tidak enak badan beberapa hari sebelum hari H. Atikoh memilih kerokan dan minum obat untuk membuatnya lebih nyaman.
Tak hanya itu, ketika sampai di Bandung, dia tidak bisa tidur karena suara bising balap motor liar. ”Untung Alam (sang anak, Red) datang. Jadi, saya tukeran kamar dengan anak dan syukur bisa istirahat lebih nyaman,’’ ucapnya. Pada H-1 event, Atikoh masih minum obat karena tubuhnya belum nyaman dan demi bisa tidur nyenyak.
Saat hari H, Atikoh bangun pukul 02.00 untuk persiapan. Tak lupa dia mengoleskan krim pelembap di sela-sela jari kaki dan lipatan kulit tubuh yang sering bergesekan saat lari. ’’Kita kan bakal lari sampai berjam-jam. Jadi, hal-hal seperti ini harus diperhatikan biar nggak iritasi,’’ tuturnya.
Berangkat dengan menjaga wudu dari hotel, seusai azan Subuh berkumandang, Atikoh bergegas menggelar sajadah di race village dan menunaikan salat. Setelah itu, dia melakukan pemanasan sekitar 10 menit sebelum start dimulai pukul 05.00. ’’Saya tanamkan di pikiran, anggap saja ini long run biar bisa enjoy,’’ ujarnya.
Dia menceritakan, di Km 1-30, dirinya masih bisa berlari sambil bernyanyi. Lalu, di Km 35, lajunya mulai melambat. Tenaganya mulai terkuras. Menurut Atikoh, Km 35–37 merupakan titik terberat dalam FM pertamanya itu. Dia hitting the wall. Itu adalah kondisi ketika tubuh kehilangan energi fisik dan psikis setelah berlari berkilo-kilometer. Saat mengalami itu, pelari seolah tidak mampu lagi melanjutkan kilometer tersisanya.
Untuk mengatasi itu, Atikoh mampir titik fisioterapi yang disediakan penyelenggara. Perjalanannya masih tersisa beberapa kilometer lagi sebelum garis finis. Di Km 40, tantangan terakhir berupa tanjakan masih harus dihadapi Atikoh. Namun, begitu tanjakan usai, garis finis terlihat. Dan, itu menambah semangatnya.
Apalagi, tampak suami tercinta yang menantinya di garis finis dengan membawa buket bunga. Begitu garis finis terlewati, rasa haru tidak bisa disembunyikannya. Ganjar memeluknya dengan erat sambil menyerahkan buket bunga tersebut. ’’Maraton ini bukan menang mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri,’’ tegasnya.
Dia mengaku sangat puas atas catatan waktu di maraton pertamanya itu. Catatan waktunya memuaskan. Yaitu, 5 jam 34 menit 18 detik. Bagi Atikoh, lari mengandung endorfin yang luar biasa. Meskipun tenaga habis terkuras, dia tak kapok, justru ketagihan.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
