
Berry Angriawan dan Hardianto-Allex Qomarulla_Jawa Pos(6)
JawaPos.com-Ganda putra Indonesia mendominasi turnamen-turnamen penting di BWF World Tour sepanjang 2019. Dari lima turnamen kategori Super 1000 dan Super 750, pasangan-pasangan Indonesia menjadi kampiun empat kali.
Namun, situasi berbeda terjadi di level Super 100. Dari tujuh turnamen, ganda putra Indonesia hanya pernah menjadi juara sekali yakni pada ajang Hyderabad Open melalui Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana.
Bahkan, pada ajang Indonesia Masters 2019 di Malang, ganda putra kita tidak ada satupun yang berhasil menembus final. Padahal dua pasangan Indonesia menjadi unggulan pertama dan kedua!
Ganda nomor lima dunia yang menempati seeded pertama Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto kandas di babak kedua. Sedangkan unggulan kedua Berry Angriawan/Hardianto keok di semifinal. Mereka kalah dari ganda Jepang yang menempati unggulan ketiga Akira Koga/Taichi Saito dalam dua game langsung, 17-21, 16-21.
''Saya banyak melakukan kesalahan sendiri. Jadi pedenya hilang. Sepertinya, ngangkat bola seperti apa saja, rasanya salah terus,'' keluh Hardianto.
Memang, terutama pada game kedua semifinal, Hardianto kerap membikin kesalahan sendiri. Pada kedudukan 13-13 misalnya, tiga bola dari Hardianto kompak nyangkut di net. Koga/Saito lalu unggul 16-13 dan tidak terkejar walaupun Berry/Hardianto mampu menipiskan ketertinggalan menjadi satu angka saja pada kedudukan 16-17.
Permainan Berry/Hardianto memang terlihat tidak lepas. Mereka kerap ragu-ragu, bermain sangat lambat, tidak berani mengambil resiko. Berry/Hardianto juga tidak lepas. Ditambah banyaknya kesalahan sendiri, makin sempurnalah performa buruk ganda Indonesia itu.
Gagal ke final Indonesia Masters 2019 melengkapi episode buruk Berry/Hardianto sepanjang 2019. Mereka lebih sering terhenti pada babak pertama dan kedua. Ranking mereka langsung anjlok. Dari nomor 16 dunia pada Maret, lalu terjun bebas ke posisi 35 pada awal Oktober ini.
Thomas Indratjaja, pelatih pelatnas pratama yang mendampingi ganda putra Indonesia di Malang mengakui bahwa hasil yang didapatkan pemainnya kurang baik. Khusus untuk Berry/Hardianto, Thomas mengatakan bahwa pemainnya bermain tidak lepas. ''Seperti ada beban. Feelingnya nggak jalan,'' ujar Thomas. ''Mereka rasa pedenya nggak dapet. Kemarin-kemarin juga seperti itu, jadi bawaannya terkesan bermain lamban. Padahal mainnya nggak lepas saja,'' imbuhnya.
Thomas dan tim pelatih pelatnas sangat sadar bahwa posisi Berry/Hardianto sedang sangat menurun. Oleh karena itu, sepulang dari Malang, dia akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk meningkatkan performa pemainnya. Terutama dengan menambah porsi latihan dan melakukan peningkatan mental. Tujuannya agar tidak semakin terpuruk.
Apalagi persaingan ganda putra pelatnas makin keras. Itupun masih ditambah performa pasangan senior Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang terus meroket.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
