
Ilustrasi
JawaPos.com – Kalender resmi asosiasi tenis putra (ATP) maupun putri (WTA) sudah tutup buku.
Ditandai dengan perhelatan WTA Finals (25/10-1/11) dan ATP Finals (15-22/11) lalu.
Namun, sebagian besar bintang top tenis dunia masih sibuk berkompetisi. Kebanyakan terjun di International Premier Tennis League (IPTL) 2015.
Kejuaraan bersifat ekshibisi itu digelar secara simultan selama tiga pekan. Dimulai pada Rabu lalu (2/12) hingga 20 Desember mendatang.
Ada lima kota host, yakni Kobe, Jepang; Manila, Filipina; New Delhi, India; Dubai, Uni Emirat Arab (UEA); dan Singapura. Semua petenis top terjun. Mulai dari Serena Williams dan Maria Sharapova, hingga Rafael Nadal dan Roger Federer.
Dari jajaran petenis A-lister, hanya Novak Djokovic yang tidak ikut. ”Ini tahun yang panjang dan melelahkan buatku. Badanku perlu istirahat lebih lama,” kata petenis nomor satu dunia itu kepada ESPN.
”Maaf ya timku, semoga sukses. Aku janji tahun depan bakal ikut,” lanjut dia. Djokovic sejatinya diplot masuk tim Singapore Slammer.
Kejuaraan yang digelar dua perusahaan raksasa, Coca-Cola Company dan Qatar Airways, itu bertujuan memasyarakatkan tenis di Asia. ATP dan WTA sepakat menyatakan ajang tersebut hanya merupakan entertainment dan bukan liga tenis antarklub resmi seperti yang tersemat pada namanya.
Tentu ini menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, pemain bisa beralasan terjun di event ini membantu mereka mempersiapkan tahun depan. Grand slam pertama, Australia Terbuka, dimulai pada 18 Januari di suhu lebih dari 35 derajat Celsius. Tapi, tidak beristirahat setelah musim yang panjang juga meningkatkan risiko cedera.
Tidak mengherankan kalau ATP dan WTA meminta para petenis tidak bermain sungguh-sungguh di IPTL. ”Kami tidak akan punya masalah selama ajang itu hanya sebuah entertainment,” ucap CEO ATP Chris Kermode. ”It’s ok kalau pemain pergi bermain di sana. Mereka tidak akan mengeluarkan kemampuan 100 persen,” tambahnya.
Event IPTL memang begitu kontras dengan kebijakan ATP dan WTA. Beberapa tahun terakhir, dua asosiasi tenis tertinggi itu berupaya memperpendek kalender kejuaraan selama satu musim. Tujuannya, petenis memiliki waktu istirahat lebih lama demi menghindari cedera. Namun, para petenis justru seperti tidak mengindahkan kebijakan ini.
”Ini pengalaman menyenangkan. Saya akan bermain di lima kota selama tiga pekan. Tentu seru. Karena itu saya ikut serta,” ucap Milos Raonic. Petenis Kanada itu tahun ini membela klub Philippine Mavericks di IPTL.
Iming-iming ganjaran uang besar disinyalir jadi alasan kuat para petenis top rela mengayuh raket di akhir tahun. ESPN menyebut, tahun lalu panitia memberikan salary cap setiap tim mencapai USD 10 juta (Rp 138,3 miliar).
Untuk fee para pemain papan atas, panitia telah menyiapkan anggaran tersendiri. Jumlahnya mencapai USD 25 juta (Rp 345,8 miliar). Ini diberikan buat pemain-pemain top seperti Federer yang masuk kategori pemain Icon Players.
Tahun ini, Federer membela tim UAE Royals. Dia mendapatkan fee USD 1 juta, atau Rp 13,8 miliar per malam. Itu artinya, Federer setidaknya membawa pulang bayaran USD 20 juta (Rp 276,6 miliar) hanya dalam 20 hari dilangsungkannya kejuaraan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
