
Menpora Imam Nahrawi (kiri kedua), didampingi adik Sinyo, Lauren Aliandoe (kanan kedua), anak bungsu Sinyo, Theodurus Aliandoe (kiri) dan Mantan Pemain Bola Yohanes Auri (kanan) mendatangai Rumah Duka Mantan pemain dan pelatih tim nasional sepak bola Indo
Sepakbola modern bertumpu pada hasil dan membiskan adanya proses. Waktulah yang jadi musuh dan menyingkirkan mereka yang jenius dan cerdas. Dan di Indonesia, pelatih, Sinyo Aliandoe yang kerap kali jadi musuh waktu.
========Aqwam Fiazmi Hanifan, Jakarta
TAK banyak pesepakbola dari Nusa Tenggara Timur yang mampu berbicara banyak di sepakbola nasional selain Sinyo Aliandoe.
Sosok yang akrab disapa Om Sinyo ini sempat mendapat didikan langsung dari pelatih jenius asal Yugoslavia yang didatangkan presiden Soekarno yakni Toni Pogacnik di awal dekade 60-an.
Pada periode itulah pola taktik sepak bola modern mulai masuk secara massif.
Dari mulai 4-2-4, formasi WM, cattenacio, slingerback dll. Berposisi sebagai gelandang bertahan otomatis membuat otaknya harus berfikir ekstra, ketimbang pemain lainnya.
Sayang sebagai pemain karirnya terhenti pada akhir dekade 60-an. Patah kaki sebabnya.
Diapun meniti karir sebagai pelatih muda bersama Persija Jakarta tim yang membesarkannya sebagai pemain- bersama tim Macan Kemayoran, Sinyo mampu menyabet gelar juara dua musim beruntun 1973-1971, 1973-75 (kompetisi perserikatan zaman itu tak digelar setahun sekali).
Banyak pemain hebat dia lahirkan dari Sofyan Hadi, Andi Lala, Risdianto, Iswadi Idris.
Saat meniti karir sebagai pelatih itu, Sinyo membawa sebuah taktik baru. Hal ini diceritakan Kadir Jusuf seorang football pundit kenamaan Indonesia dekade 80-an yang sering menulis kolom diberbagai media, termasuk Jawa Pos.
Kala itu, pada tahun 1973, Sinyo Sinyo dikirim oleh F.H. Hutasoit, manajer Persija kala itu untuk menuntut ilmu ke Manchester United, Inggris.
"Sekembalinya ke tanah air, Sinyo mempopulerkan taktik offside dengan moving out secara block," ucap Kadir.
"Sebelum itu di Indonesia hanya mengenal offside sebagai jebakan tok, tanpa keluar secara serentak melalui satu unit, sekaligus melakukan pressing terhadap lawan," katanya lagi. Atas dasar inilah yang membuat Sinyo sering dilekatkan dengan bapak offside Indonesia.
Di tangan Sinyo, jebakan offside dijadikan sebagai bagian dalam taktik penguasaan bola yang identik dengannya.
Saat membawa Persija kembali jaya-jayanya, tim ibukota itu saat bertahan memang identik dengan pressing football. Skema ini dibawa saat dia menangani klub Galatama, Tunas Inti dan Jayakarta. (wan/JPG/Bersambung)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
