
Ilustrasi
JawaPos.com - Pertandingan antarkampung yang dikenal dengan sebutan Tarkam, lagi-lagi menjadi salah satu wadah untuk para pemain Persija Jakarta mendapatkan penghasilan.
Pasalnya, Ismed Sofyan dan kawan-kawan kehilangan pendapatan karena tim sudah dibubarkan. Sedangkan gaji mereka masih mengalami tunggakan.
"Ya, itulah impact dari tidak adanya aktivitas klub yang saya katakan. Makanya tujuan adanya latihan itu paling tidak mengurangi frekuensi pemain untuk melakukan Tarkam," kata Pelatih Persija Rahmad Darmawan kemarin.
Tiga pekan pasca gagal masuk delapan besar turnamen Piala Presiden 2015, manajemen Macan Kemayoran belum juga bergerak. Beberapa hari yang lalu coach Rahmad juga sudah mengusulkan untuk mengadakan aktivitas latihan. Namun, hingga kini belum juga ada kelanjutan.
"Walaupun tidak dikontrak, paling tidak latihan itu untuk menjaga kondisi (pemain), kemudian bisa melakukan pertandingan persahabatan dengan tim lain. Atau tur game ke suatu daerah, kita dibayar sesuai dengan biasanya anak-anak dapat kontrak Tarkam. Itu kan bisa menjadi solusi," permohonan pelatih 48 tahun itu.
Rahmad pun menanggapi perihal pemain yang bermain Tarkam dari segi profesional. Menurutnya, hal demikian wajar karena ia merasa sepak bola Indonesia sedang dalam kondisi memprihatinkan. Sebagai juru latih, dirinya juga tidak bisa melarang anak didiknya melakukan Tarkam.
"Jadi, sekarang kita kembalikan kepada pemain. Sepintar-pintarnya dia memilih lapangan dan tim untuk bertanding. Saya rasa itu yang lebih penting di kondisi saat ini," penggambaran pelatih yang sukses membawa Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC meraih gelar juara Liga Indonesia (LI).
Mantan arsitek Arema Cronus itu pun menambahkan, kalau berbicara profesionalitas, berlaga di pertandingan amatir, pemain juga terpaksa. Ditambah lagi dengan persoalan kondisi sepak bola tanah air yang sudah seperti zaman dulu lagi.
"Saat kompetisi digelar dua tahun sekali dulu era perserikatan, ya seperti ini pemain tidak ter-cover oleh klub dalam sisi income. Ya sudah yang terjadi pemain bermain Tarkam. Jadi buat saya susah ngomongnya," kenang pesepak bola yang sudah makan asam garam selama 36 tahun itu.
Makanya, coach RD mengungkapkan, selama aktivitas klub tidak ada, jangan salahkan pemain. Sebab, kalau pengelola klub mengadakan aktivitas latihan maupun pertandingan, penggawa juga tidak akan mengandalkan bermain Tarkam. Masalahnya hal ini menyangkut dengan perut keluarga mereka.(agn/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
