Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 September 2015 | 12.20 WIB

Astaga... Pemain Berlevel Internasional Dibayar ala Tarkam

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Pertandingan antarkampung yang dikenal dengan sebutan Tarkam, lagi-lagi menjadi salah satu wadah untuk para pemain Persija Jakarta mendapatkan penghasilan. 



Pasalnya, Ismed Sofyan dan kawan-kawan kehilangan pendapatan karena tim sudah dibubarkan. Sedangkan gaji mereka masih mengalami tunggakan.



"Ya, itulah impact dari tidak adanya aktivitas klub yang saya katakan. Makanya tujuan adanya latihan itu paling tidak mengurangi frekuensi pemain untuk melakukan Tarkam," kata Pelatih Persija Rahmad Darmawan kemarin.



Tiga pekan pasca gagal masuk delapan besar turnamen Piala Presiden 2015, manajemen Macan Kemayoran belum juga bergerak. Beberapa hari yang lalu coach Rahmad juga sudah mengusulkan untuk mengadakan aktivitas latihan. Namun, hingga kini belum juga ada kelanjutan.



"Walaupun tidak dikontrak, paling tidak latihan itu untuk menjaga kondisi (pemain), kemudian bisa melakukan pertandingan persahabatan dengan tim lain. Atau tur game ke suatu daerah, kita dibayar sesuai dengan biasanya anak-anak dapat kontrak Tarkam. Itu kan bisa menjadi solusi," permohonan pelatih 48 tahun itu.



Rahmad pun menanggapi perihal pemain yang bermain Tarkam dari segi profesional. Menurutnya, hal demikian wajar karena ia merasa sepak bola Indonesia sedang dalam kondisi memprihatinkan. Sebagai juru latih, dirinya juga tidak bisa melarang anak didiknya melakukan Tarkam.



"Jadi, sekarang kita kembalikan kepada pemain. Sepintar-pintarnya dia memilih lapangan dan tim untuk bertanding. Saya rasa itu yang lebih penting di kondisi saat ini," penggambaran pelatih yang sukses membawa Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC meraih gelar juara Liga Indonesia (LI).



Mantan arsitek Arema Cronus itu pun menambahkan, kalau berbicara profesionalitas, berlaga di pertandingan amatir, pemain juga terpaksa. Ditambah lagi dengan persoalan kondisi sepak bola tanah air yang sudah seperti zaman dulu lagi.



"Saat kompetisi digelar dua tahun sekali dulu era perserikatan, ya seperti ini pemain tidak ter-cover oleh klub dalam sisi income. Ya sudah yang terjadi pemain bermain Tarkam. Jadi buat saya susah ngomongnya," kenang pesepak bola yang sudah makan asam garam selama 36 tahun itu.



Makanya, coach RD mengungkapkan, selama aktivitas klub tidak ada, jangan salahkan pemain. Sebab, kalau pengelola klub mengadakan aktivitas latihan maupun pertandingan, penggawa juga tidak akan mengandalkan bermain Tarkam. Masalahnya hal ini menyangkut dengan perut keluarga mereka.(agn/JPG)

Editor: Andi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore