
Photo
JawaPos.com - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akan tetap mempertahankan fungsi Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) sebagai tempat pembinaan atlet-atlet elit.
Oleh karena itu, kata Deputi Bidang Prestasi Kemenpora, Joko Pekik Irianto di Jakarta, pekan lalu, Satlak Prima akan menerapkan standarisasi khusus kepada atlet, pelatih, hingga manajer tim.
"Satlak Prima itu didirikan sebagai tempat menggodok atlet-atlet elit. Begitu juga pelatih dan manajer tim yang dilibatkan. Jadi, manajemen Satlak Prima tidak boleh lagi sembarangan atlet dan pelatih yang bisa masuk ke Prima. Mereka harus memenuhi standarisasi yang ditentukan," tegas Joko Pekik Irianto.
Sebelumnya, Komandan Satlak Prima Suwarno pernah mengajukan adanya penambahan atlet yang akan menghuni skuad Prima. Hal ini terkait dengan terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Namun, hal itu ditentang Joko Pekik.
"Saya memang tidak menyetujui usul adanya penambahan kuota atlet karena Satlak Prima itu tidak berpatokan pada kuantitas tetapi mengedepankan kualitas atlet," jelasnya.
Ketika ditanyakan mengapa standarisasi juga ditetapkan terhadap manajer tim, Joko Pekik menjawab.
"Saya tak mau lagi kejadian lama terulang dimana manajer tim tidak pernah mendampingi atlet dan tak mengerti aturan pertandingan. Manajer Tim itu harus selalu hadir mendampingi tim dan bisa mengatur tim dan mengerti peraturan pertandingan," urainya
Menurut, Joko Pekik juga mengakui bahwa kualitas pelatih yang ditunjuk menangani Satlak Prima perlu dilakukan perbaikan. Apalagi, Indonesia bakal menghadapi Olimpiade Rio de Jeneiro 2016, SEA Games Malaysia 2017 dan tuan rumah Asian Games 2018.
"Kualitas pelatih memang perlu ditingkatkan. Dan, kita juga mendukung jika memang perlu dilibatkan pelatih asing untuk menangani atlet," tandasnya.
Penerapan standarisasi atlet, pelatih dan manajer tim yang menjadi penghuni Prima ini sudah pernah diusulkan SIWO Pusat melalui Seminar Evaluasi Prima dan Standarisasi Prestasi Sebagai Pondasi Sukses Asian Games 2018 di Hotel Twin Jakarta, Rabu (3/12/2014) lalu.
Dalam seminar itu, Ketua Panitia Pelaksana Seminar, Azhari Nasution mengatakan, dengan adanya standarisasi itu tidak ada lagi like and dislike dalam penentuan atlet, pelatih dan manajer tim.
"Dengan adanya standarisasi maka tidak ada lagi kasus pemilihan atlet, pelatih dan manajer ke multieven karena faktor like and dislike. Dengan demikian mereka yang diikutsertakan adalah yang memang pantas sesuai dengan capaian dan rekornya," ujarnya.(dam/ndi/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
