Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Agustus 2020 | 02.53 WIB

Shin Tae-yong: Latihan dari Pajak Masyarakat, Pemain Harus Serius

Pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, saat diperkenalkan secara resmi kepada awak media sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia di Stadion Pakansari Bogor, Sabtu 28/12/19. Shin mendapat kontrak 4 tahun menangani timnas. Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos. - Image

Pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, saat diperkenalkan secara resmi kepada awak media sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia di Stadion Pakansari Bogor, Sabtu 28/12/19. Shin mendapat kontrak 4 tahun menangani timnas. Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos.

JawaPos.com-Menyandang status pelatih berkaliber internasional dan pernah membawa Korea Selatan lolos ke Piala Dunia 2018, Shin Tae-yong adalah pelatih yang kaya dalam menerapkan program latihan.

Salah satunya seperti yang terlihat dalam training camp timnas Indonesia U-19 di Stadion Madya kemarin sore (28/8). Untuk mengetahui kaki terkuat pemain, pelatih 49 tahun tersebut membedakan warna kaus kaki yang dipakai Witan Sulaiman dkk.

Shin Tae-yong membedakannya dengan warna hitam dan putih. Warna hitam dipakai untuk kaki terkuat pemain, sedangkan warna putih untuk kaki terlemah.

Selama latihan, Shin Tae-yong sering meminta pemain mengumpan atau melakukan tendangan memakai kaki yang menggunakan kaus kaki warna putih alias kaki terlemah.

Hal itu dimaksudkan agar para pemain tidak hanya mengandalkan kaki terkuat saja. Agar terbiasa juga menggunakan kaki terlemah dalam tiap pertandingan. ’’Biar ada peningkatan untuk kaki terlemah. Sebab, bagi pesepak bola, kuat di dua kaki sangat penting,’’ tuturnya.


Hal itu juga dilakukan untuk mengantisipasi beberapa hal dalam pertandingan. Misalnya saja peluang-peluang untuk mencetak gol. Shin Tae-yong melihat beberapa kali kesempatan mencetak gol bagi para pemain harus mentah karena tidak bisa memaksimalkan kekuatan kaki terlemah ketika melakukan tendangan.

Selain itu, Shin Tae-yong benar-benar menggeber fisik pemain dengan maksimal. Selama TC di Jakarta saja, para pemain harus melakukan latihan selama tiga kali dalam sehari. Dua kali di lapangan, satu kali di gym.

Shin Tae-yong menerangkan, latihan tiga kali dengan intensitas tinggi diterapkan agar para pemain terbiasa dengan kondisi fisik yang terkuras. Sebab, dia melihat pemain Indonesia selama ini hanya mampu bermain full dengan intensitas tinggi hanya 70 menit saja dalam pertandingan.

Sempat ada keluhan, bahkan beberapa pemain juga sempat sakit karena latihan tiga kali sehari dengan intensitas tinggi yang diterapkan. Shin Tae-yong mengerti hal tersebut. Tapi, dia melihat, sejauh ini ada perubahan yang signifikan.

Misalnya saja soal fisik. Dalam TC kemarin, beberapa pemain terlihat tetap bugar walau digeber latihan keras lewat internal game. Mereka juga tidak ada masalah ketika diminta bergerak cepat terus-menerus oleh Shin Tae-yong walau tanpa memegang bola. ’’Kemauan dari mereka untuk lebih baik juga terlihat, saya senang dengan progres yang ada,’’ katanya.

Shin Tae-yong mengungkapkan, TC di Kroasia juga akan tetap sama. Artinya, pemain tetap diminta latihan tiga kali sehari. Bedanya, nanti pemain timnas U-19 menghadapi negara-negara kuat untuk beruji coba.

Shin Tae-yong menjelaskan, pihaknya juga tetap akan melakukan seleksi. Artinya, jika ada pemain yang menurun kualitasnya, dirinya tidak segan mencoret dan memulangkan dari TC di Kroasia.

’’Pemain juga harus tanggung jawab, mereka latihan di Eropa dari pajak masyarakat Indonesia. Jadi, sikap ketika latihan harus serius dan sungguh-sungguh,’’ tuturnya.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore