alexametrics

Momen Sangat Langka Ketika Italia Dimotori Dua Bintang Sassuolo

21 November 2020, 11:30:49 WIB

JawaPos.com – Lolos ke putaran final Euro 2020 setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018 sudah direalisasikan oleh allenatore Italia Roberto Mancini. Karena itu, Mancini menganggap UEFA Nations League (UNL), baik edisi pertama (2018– 2019) maupun musim ini (2020–2021), bukan prioritas baginya.

Hal itu terlihat dari kebijakan Mancini yang selalu mengutak-atik komposisi pemain maupun bereksperimen dengan skema yang berbeda dalam laga di League A UNL. Seolah tidak ada pakem yang diusung pelatih yang akrab disapa Mancio itu.

Tetapi, melihat performa Italia yang tidak terkalahkan dalam sepuluh laga di dua edisi UNL atau hanya kalah sekali oleh Portugal (yang notabene juara 2018–2019), Italia jelas tidak sedang bermain setengah hati. Apalagi setelah timnas berjuluk Gli Azzurri itu meraih tiket ke putaran final UNL musim ini.

Lorenzo Insigne dkk meraihnya setelah mengungguli Belanda maupun Polandia untuk finis sebagai juara grup 1 kemarin (19/11). Kemenangan 2-0 Azzurri di kandang Bosnia-Herzegovina membuat hasil Polandia versus Belanda (Belanda menang 2-0) tak berarti apa pun.

Tidak sekadar lolos ke putaran final yang dihelat pada 7–11 Oktober tahun depan, Italia punya peluang juara lebih bagus ketimbang Belgia (juara grup 2), Prancis (juara grup 3), dan Spanyol (juara grup 4) seiring predikat sebagai tuan rumah.

Mengacu UNL edisi sebelumnya, benefit sebagai tuan rumah memang berarti. Portugal sukses memanfaatkannya tahun lalu. ”Itu (Italia sebagai tuan rumah putaran final UNL 2020–2021, Red) adalah kesempatan bagus (untuk coba meraih juara, Red),” ucap Mancini kepada Sky Italia.

Mantan pelatih Inter Milan dan Manchester City itu meyakini, semua pemain yang terlibat dalam skuad Italia pada dua tahun terakhir bakal lebih matang tahun depan. ”Mereka semua hebat. Mereka tidak terkalahkan dalam kualifikasi Euro (2020, menyapu bersih sepuluh laga, Red) dan kini juga tidak terkalahkan di sini (fase grup UNL 2020–2021, Red),” beber Mancini.

Yang patut dipuji dari Mancini dalam pemilihan skuad Italia adalah keberaniannya memasukkan banyak pemain muda dan bukan hanya dari klub-klub papan atas. Dari 63 pemain, hanya ada 15 pemain yang berusia 30 tahun ke atas.

Klub-klub seperti Cagliari Calcio, US Sassuolo, Bologna FC, Torino, hingga Genoa CFC bersanding dengan Juventus, Inter Milan, AC Milan, SSC Napoli, SS Lazio, maupun AS Roma dalam menyumbang pemain timnas era Mancini.

Dengan komposisi tersebut, Mancini hanya menelan dua kekalahan dari 27 laga bersama Italia sejak 14 Mei 2018. Hebatnya, Azzurri tidak terkalahkan dalam 22 laga terakhir. Mendekati streak unbeaten 25 laga Italia sebagai juara Piala Dunia 2006 kala diasuh oleh Marcello Lippi.

”Momen langka melihat timnas Italia saat ini dimotori oleh dua pemain dari US Sassuolo (gelandang Manuel Locatelli dan wide attacker Domenico Berardi, Red),” tulis La Gazzetta dello Sport menyikapi kemenangan atas Bosnia kemarin.

Namun, bukan hanya Italia yang bisa mengklaim punya skuad merata dan tidak bergantung kepada pemain berpengalaman. Tacticus Belgia Roberto Martinez juga menyebut, timnya di fase grup UNL 2020–2021 tetap bermain bagus meski sederet pemain pilar silih berganti absen.

”Dulu kami selalu kesulitan saat menjalani laga tanpa mereka. Sekarang kami bisa melakukannya dengan siapa pun pemainnya,’’ tutur Martinez kepada Sporza.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : io/ren/c6/dns



Close Ads