
Curva Boys 1967 tetap dukung Persela Lamongan meski ditinggal banyak pemain. (ig @curvaboys_1967)
JawaPos.com-Curva Boys 1967, kelompok suporter fanatik Persela dengan kultur ultras, menunjukkan sikap mereka sebagai kelompok pendukung yang fanatik. Alih-alih larut dalam polemik, Curva Boys 1967 memilih tetap berdiri di belakang Persela mengarungi kompetisi pegadaian Championship.
Bagi Curva Boys 1967, gejolak di level manajemen Persela hingga keluar-masuknya pemain adalah bagian dari dinamika sepak bola profesional.
Awan gelap tengah menyelimuti perjalanan Persela Lamongan. Mundurnya CEO Fariz Julinar Mairusal, menjadi titik awal perubahan besar yang berdampak langsung pada komposisi tim.
Satu per satu pemain memilih angkat kaki, meninggalkan Persela di tengah persiapan tim menghadapi putaran kedua Pegadaian Championship. Situasi tersebut sempat menimbulkan tanda tanya besar soal arah dan kekuatan Laskar Joko Tingkir ke depan.
Namun di balik kegelisahan itu, satu hal justru terlihat semakin jelas. Yakni dukungan suporter Persela Lamongan yang tetap setia. Kesetiaan kepada klub tidak diukur dari stabil atau tidaknya tim, melainkan dari seberapa kuat rasa memiliki terhadap lambang dan sejarah Persela.
Komitmen itu terlihat nyata saat Persela menggelar latihan perdana untuk persiapan putaran kedua Pegadaian Championship musim 2025/26.
Latihan yang berlangsung pada Senin (15/12) di Stadion Surajaya. Latihan tersebut berubah menjadi momen penuh makna. Ratusan anggota Curva Boys 1967 hadir memadati tribun, menghidupkan suasana yang seharusnya sunyi.
Bendera, syal, dan warna kebanggaan Persela kembali berkibar. Nyanyian dukungan mengalun tanpa henti, seolah menjadi pengingat bahwa masih ada energi besar yang siap menopang langkah tim.
Dukungan itu diarahkan kepada para pemain yang memilih bertahan, mereka yang kini memikul tanggung jawab besar membawa Persela melewati masa sulit.
Di mata Curva Boys 1967, Persela adalah identitas yang tidak terikat pada nama-nama tertentu. Pemain bisa berganti, pelatih bisa berubah, manajemen bisa datang dan pergi.
Namun Persela Lamongan tetap kebanggaan mereka, dan suporter akan selalu mendukung dalam kondisi apa pun. Menjelang putaran kedua kompetisi, Persela memang dihadapkan pada tantangan berat.
Tapi dengan dukungan konsisten dari Curva Boys 1967, Laskar Joko Tingkir setidaknya tidak kehilangan satu kekuatan penting. Dari tribun utara Stadion Surajaya, loyalitas itu terus dijaga, menjadi bukti bahwa cinta terhadap Persela tak mudah goyah meski badai datang bertubi-tubi.
