Bruno Moreira merupakan salah satu pemain yang direkrut secara bebas transfer oleh Persebaya, karena saat itu ia berstatus tanpa klub. (Media Persebaya)
JawaPos.com - Dinamika bursa transfer pemain sepak bola masa kini tidak kalah menarik dengan pertandingan di lapangan. Bahkan, tak jarang membuat perseteruan dua klub makin panas jika pemain dari suatu klub pindah ke tim rival abadi.
Daya tarik bursa transfer juga menjalar sampai ke Liga Indonesia, di mana para pencinta sepak bola Tanah Air, khususnya suporter fanatik klub peserta liga, menanti siapa saja pemain yang akan didatangkan manajemen.
Hal ini bisa terjadi karena pengaruh berbagai faktor, antara lain sepak bola semakin populer, dan menjadi hiburan yang menarik hingga bisa memengaruhi emosi para suporter maupun para pemain.
Maka, ketika sebuah klub mampu merekrut pemain berkualitas atau pesepakbola terkenal, suporter fanatiknya bisa ikut bersorak, memberi selamat kepada si pemain lewat DM di Instagram, hingga menyatakan ekspektasi kepadanya.
Padahal, jika mundur lagi di era 1990-an, transfer pemain tidak seheboh sekarang. Andaikan menjadi perhatian para pencinta sepak bola, jumlahnya masih sedikit dan lebih banyak terjadi di wilayah Eropa. Dahulu bahkan aturannya lebih ketat dari pada saat ini.
Mengutip dari laman EA Sports Law, sebelum 1995, regulasi yang mengatur transfer pemain masih sedikit. Bahkan, baru FIFA dan UEFA saja yang memiliki peraturan transfer.
Namun, salah satu aturan transfer yang menjadi polemik pada masa itu adalah terkait penarikan biaya transfer terhadap pemain yang akan habis masa baktinya di suatu klub.
Aturan tersebut menjadi polemik karena seorang pemain asal Belgia, Jean Marc Bosman, merasa dirugikan. Bosman saat itu, antara tahun 1990, merupakan pemain klub asal Belgia, RC Liege.
Namun, kontraknya mau habis dan ia tak ingin gajinya dipotong oleh RC Liege jika ia mendapat klub baru. RC League sendiri dalam klausul meminta gaji Bosman di klub barunya dipotong sebagai biaya transfer.
Sedangkan Bosman tak mau menyetujui klausul itu karena bagi dia, pemain yang sudah habis masa kontraknya bisa direkrut klub lain secara gratis, dengan kata lain klub asal pemain menjualnya secara gratis. Ia pun membawa perkara ini ke pengadilan.
Setelah melalui proses panjang dengan membawa perkara ini ke European Court of Justice dan berbelit sekitar lima tahun, Bosman rule akhirnya berlaku, yaitu salah satunya berbunyi setiap pemain yang kontraknya akan habis dan tak ingin memperpanjang, bisa bernegosiasi dengan klub lain mulai enam bulan sebelumnya.
Selain itu, klub dilarang menarik biaya transfer jika si pemain yang telah habis kontrak itu dibeli klub lain, alias klub asal harus melepasnya secara gratis.
Setelah era Bosman Rule berlaku, bursa transfer pemain menjadi sebuah dinamika yang lebih menarik dan turut mewarnai persepakbolaan di dunia. Apalagi, jika melibatkan pemain kelas dunia.
Misalnya saat perpindahan Kylian Mbappe dari PSG ke Real Madrid. Mbappe tak ingin memperpanjang kontraknya di PSG, namun ia memilih tetap bertahan di klub asal Paris itu hingga kontraknya selesai.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
