Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 September 2024 | 16.21 WIB

Paul Munster Paksa Bonek Lupakan Tiki-taka Persebaya Surabaya Era Aji Santoso di Liga 1 Indonesia

Paul Munster benar-benar mengubah wajah Persebaya Surabaya dari bermain tiki-taka menjadi pragmatis dengan tujuan raih kemenangan. (Instagram/@officialpersebaya) - Image

Paul Munster benar-benar mengubah wajah Persebaya Surabaya dari bermain tiki-taka menjadi pragmatis dengan tujuan raih kemenangan. (Instagram/@officialpersebaya)

JawaPos.com — Perubahan drastis terjadi di Persebaya Surabaya. Penggemar setia Green Force, yang dikenal dengan sebutan Bonek, kini harus beradaptasi dengan gaya permainan yang jauh berbeda dibandingkan era Aji Santoso.

Di bawah kendali Paul Munster, Persebaya Surabaya tak lagi menganut filosofi tiki-taka yang mengutamakan penguasaan bola dan serangan bertahap. Musim ini, mereka lebih pragmatis, mengedepankan efisiensi dan soliditas pertahanan, terutama ketika unggul.

Contoh nyata dari transformasi ini bisa dilihat dalam kemenangan 1-0 Persebaya Surabaya atas PSBS Biak. Dalam laga yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Persebaya Surabaya tampil lebih defensif setelah unggul satu gol di babak pertama.

Meskipun lawan lebih dominan dalam hal penguasaan bola, Green Force berhasil mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir berbunyi, mencatat kemenangan penting yang membawa mereka ke puncak klasemen Liga 1 Indonesia 2024/2025.

Kemenangan di Bali tersebut menjadi kali kedua Persebaya Surabaya meraih tiga poin di tempat yang sama. Sebelumnya, mereka juga menang 1-0 melawan Persita Tangerang di stadion yang sama pada pekan sebelumnya.

Dengan dua kemenangan tersebut, Persebaya Surabaya kini berada di puncak klasemen dengan koleksi 16 poin dari enam pertandingan, sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol meski gaya permainan yang diterapkan Paul Munster tak sepenuhnya memuaskan selera para pendukung.

Paul Munster, pelatih asal Irlandia Utara, tampaknya tak peduli dengan kritik yang mungkin datang terkait perubahan gaya permainan timnya. Baginya, hasil adalah segalanya. Alih-alih mengejar penguasaan bola seperti yang dilakukan di era tiki-taka, Munster lebih fokus pada bagaimana timnya bisa mencetak gol cepat dan bertahan dengan rapat setelah unggul.

Hal ini terlihat jelas ketika Persebaya Surabaya hanya mencatatkan 37% penguasaan bola saat melawan PSBS Biak, sedangkan lawan mereka mendominasi dengan 63%. Namun, statistik penguasaan bola tak berarti apa-apa ketika skor akhir menunjukkan kemenangan untuk Green Force.

Pada pertandingan tersebut, Persebaya Surabaya memanfaatkan momen lewat serangan balik untuk mencetak gol. Flavio Silva menjadi pahlawan dengan sundulan akuratnya pada menit ke-16, memanfaatkan sepak pojok dari Francisco Rivera.

Setelah gol itu, PSBS Biak langsung meningkatkan intensitas serangan, namun pertahanan Persebaya Surabaya yang dipimpin oleh Slavko Damjanovic dan Kadek Raditya berhasil menahan gempuran demi gempuran yang datang.

Andhika Ramadhani, kiper muda yang tampil gemilang sepanjang musim, kembali menunjukkan kualitasnya dengan beberapa penyelamatan krusial. Salah satu momen paling menegangkan adalah ketika dia menggagalkan peluang emas Arganaraz Paradi pada menit ke-50. Dengan refleks cepat, Andhika berhasil menahan tendangan keras dari jarak dekat, mempertahankan keunggulan Persebaya Surabaya.

Bukan hanya solid di pertahanan, Munster juga memperlihatkan kemampuannya dalam mengatur strategi selama pertandingan. Memasukkan Riswan Lauhin untuk menggantikan Mikael Tata di lini belakang serta Kasim Botan menggantikan Malik Risaldi, Munster menambah kekuatan bertahan timnya. Perubahan ini semakin memperkuat pertahanan Persebaya Surabaya yang sudah rapat, membuat PSBS Biak semakin kesulitan mencetak gol.

Di era Aji Santoso, Persebaya Surabaya dikenal dengan permainan tiki-taka yang menawan. Mereka mendominasi lapangan dengan operan pendek yang cepat dan penguasaan bola yang impresif. Namun, gaya ini terkadang membuat mereka rentan ketika menghadapi tim yang lebih kuat dalam bertahan. Beberapa kekalahan di era tersebut terjadi karena Persebaya Surabaya terlalu fokus pada penguasaan bola dan lupa untuk segera menyelesaikan peluang.

Paul Munster datang dengan pendekatan yang berbeda. Mantan pelatih Bhayangkara FC itu memahami bahwa Liga 1 Indonesia bukanlah kompetisi yang bisa ditaklukkan hanya dengan gaya permainan cantik. Dibutuhkan kekuatan fisik, disiplin, dan kemampuan untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada, bahkan jika itu berarti harus bermain lebih bertahan.

Gaya pragmatis Munster ini mengutamakan efisiensi: cetak gol terlebih dahulu, lalu tutup ruang gerak lawan dengan pertahanan solid. Filosofi ini terbukti sukses sejauh ini, dengan Persebaya Surabaya mencatatkan beberapa kemenangan penting dan hanya kebobolan sedikit gol sepanjang musim.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore