Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Maret 2024 | 11.35 WIB

Mengenang Stopper Brasil Justino Pinheiro saat Membawa Persebaya Juara Liga Indonesia

Justino Pinheiro (kanan) bersama Khairil Anwar memegang piala. Tampak juga Carlos de Mello  (kiri). - Image

Justino Pinheiro (kanan) bersama Khairil Anwar memegang piala. Tampak juga Carlos de Mello (kiri).

Nama Yan Victor mencuat setelah mencetak gol kemenangan Persebaya atas Arema FC. Dia menjadi segelintir bek asing Persebaya yang berasal dari Brasil. Namun, ada pemain belakang paling sukses ketika membela Persebaya. Siapa dia?

Sidiq Prasetyo, Surabaya

Gol tungal Yan Victor di menit ke-40 mengantarkan Persebaya mengalahkan rival beratnya, Arema FC, di Stadion Kapten Dipta, Gianyar, Bali, pada Rabu malam (27/3/2024). Sebagai pemain belakang, dia tak hanya sukses menjaga pertahanan tapi juga bisa memecah kebuntuan dalam mencetak gol.

Ada yang menyebut dia sebagai pemain belakang Brasil yang bakal sukses di Persebaya. Hanya, untuk bisa mengikuti jejak kompatriot atau orang senegara dengannya, Yan Victor butuh waktu dan pembuktian. Sebab, ada nama dengan posisi sama dengannya yang lebih dulu sukses bersama Persebaya. 

Mereka adalah Antonio ‘’Toyo’’ Claudio dan Justino Pinheiro. Hanya, Justino masih layak dikatakan jauh lebih sukses dari Toyo. Alasannya, Justino mampu membawa Persebaya menjadi juara di kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia yang ketika itu bernama Divisi Utama.

Sebenarnya, Toyo juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi, bukan dengan Persebaya namun dengan Persija Jakarta pada 2001.

‘’Justino dan saya serta Carlos de Mello mampu membawa Persebaya juara Liga Indonesia 1996/1997,’’ kata Jacksen F. Tiago, legenda Persebaya yang berasal dari Brasil kepada JawaPos.com.

Diakuinya, dia belum pernah bermain satu klub dengan Justino selama berkarir di Brasil. Di sana, Jacksen membela Madureira. ''Sementara Justino membela Sao Cristovao. Saya dan Carlos de Melo yang merekomendasikan Justino untuk direkrut Persebaya,’’ ungkap Jacksen.

Diakui lelaki yang juga sukses mengantarkan Persebaya juara Divisi Utama 2004 itu, dia merasa tenang dengan kehadiran Justino dalam setiap pertandingan. Bagi Jacksen, Justino tenang dan pintar membaca permainan lawan.

''Hanya, di luar lapangan kami tidak terlalu dekat. Sebab, kami sama-sama membawa keluarga dan Justino orangnya pendiam,’’ ujar Jacksen.

Oleh pelatih Rusdy Bahalwan, dengan formasi 3-5-2, Justino selalu hadir di lini belakang Green Force bersama-sama dengan Bejo Sugiantoro dan Khairil Anwar Ohorella/Mursyid Effendi. Semusim bersama Persebaya, Justino mencetak empat gol dan ikut berkontribusi aktif menyumbangkan gelar juara Liga Kansas 1996/97.

Dia juga mencetak gol penentu lolosnya Persebaya ke partai final Liga Kansas 1996/97 setelah menumbangkan seteru klasik, PSM Makassar dengan skor 3-2. Persebaya sendiri akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Bandung Raya dengan skor 3-1. Justino bermain penuh selama 90 menit.

‘’Setelah juara, saya dan Justino pulang bersama ke Brasil. Namun, saya kembali sendiri karena musim 1997/1998, dia tak balik ke sini lagi,’’ ungkap Jacksen yang kini banyak tinggal di Kota Surabaya.

Ternyata kepulangan bersama itu menjadi pertemuan terakhir Jacksen dengan Justino. Hingga akhirnya kabar meninggal rekannya itu disampikan istri Jacksen.

‘’Istri Justino menelepon istri dan mengabarkan kalau Justino meninggal. Sedih rasanya kehilangan teman yang sama-sama berjuang membawa Persebaya juara,’’ kata Jacksen yang juga pernah menjadi pelatih Tim Nasional Indonesia itu. (*)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore