
SEJARAH TERCIPTA: Skuad Persebaya Surabaya pada Liga Dunhill 1995. Iswahyudi menjadi bagian dari tim itu. (Iswahyudi untuk JawaPos.com)
JawaPos.com — Memori tak terlupakan dari gelaran Liga Indonesia pertama masih terus menghiasi ingatan para pencinta sepak bola Tanah Air.
Tepat 30 tahun yang lalu, pada 27 November 1994, sebuah babak baru dalam sejarah sepakbola Indonesia dimulai. Hari itu menjadi saksi perhelatan laga perdana Liga Indonesia I yang dikenal dengan nama Liga Dunhill. Sebuah liga yang mempertemukan dua kekuatan besar, Galatama dan Perserikatan, menyatu dalam satu panggung untuk mencari yang terbaik.
Stadion Utama Senayan, yang kini telah menjadi Gelora Bung Karno, menjadi saksi bisu dari pembukaan Liga Indonesia yang dipenuhi dengan kegembiraan dan antusiasme. Wakil Presiden Try Sutrisno pun turut memeriahkan acara tersebut dengan kehadirannya.
Laga perdana menghadirkan pertarungan sengit antara juara Perserikatan, Persib Bandung, dan juara Galatama, Pelita Jaya. Dalam pertarungan yang memukau, Pelita Jaya berhasil memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0 melalui tandukan Dejan Glusevic, salah satu dari tiga pemain asing Montenegro yang mereka datangkan.
Pelita Jaya bukanlah satu-satunya kekuatan yang mampu menorehkan prestasi di Liga Dunhill musim pertama. Di wilayah timur, Persebaya Surabaya juga menorehkan namanya dengan gemilang. Mereka berhasil meraih kemenangan tipis 1-0 atas PSM Makassar dalam pertandingan pembuka di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya.
Kemenangan tersebut dipersembahkan melalui gol Ahmad Said yang diciptakan pada menit ke-47, sebuah gol yang menjadikannya sebagai pahlawan bagi timnya.
Musim pertama Liga Indonesia tak hanya dikenang karena pertandingan-pertandingan yang seru dan prestasi klub-klubnya. Inovasi yang mencengangkan, yakni penerapan golden goal, juga menjadi sorotan utama. Sistem ini diterapkan pada putaran final Liga Indonesia, atau yang dikenal sebagai babak 8 besar. Empat tim teratas dari masing-masing wilayah bersaing dalam babak ini dengan satu tujuan: menjadi yang terbaik di Liga Dunhill.
Sebelum mencapai babak 8 besar, perjalanan para klub tidaklah mudah. Dengan 34 klub peserta yang dibagi menjadi dua wilayah, persaingan pun ketat. Di wilayah timur, Petrokimia Putra, PKT Bontang, Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), dan Barito Putera berhasil meraih tiket menuju babak 8 besar. Namun, tragedi menghampiri ketika tiga dari empat tim tersebut mengalami kebangkrutan, meninggalkan Barito Putera sebagai satu-satunya eksistensi yang bertahan hingga saat ini.
Di sisi lain, di wilayah barat, keberuntungan juga tidak selalu bersama. Meskipun Pelita Jaya, Persib Bandung, Bandung Raya, dan Medan Jaya berhasil melaju ke babak 8 besar, namun tiga dari empat klub tersebut juga harus menelan pil pahit kebangkrutan. Hanya Persib Bandung yang masih teguh berdiri hingga saat ini.
Babak 8 besar Liga Indonesia 1994/1995 menjadi panggung bagi klub-klub eks-Galatama untuk menunjukkan kekuatannya. Tujuh dari delapan klub yang berhasil melaju berasal dari Galatama, sementara hanya Persib Bandung yang mewakili Perserikatan. Namun, hal ini tidak mengurangi gairah dan semangat Persib untuk bersaing demi meraih gelar juara.
Sebelum sepak bola kompetisi Liga Indonesia edisi pertama, PSSI telah merumuskan aturan main yang akan diterapkan. Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah penggunaan golden goal pada putaran final. Aturan ini menetapkan bahwa tim yang mencetak gol pertama dalam waktu perpanjangan akan menjadi pemenangnya, memberikan dimensi baru dalam serunya pertandingan.
Inovasi golden goal yang pertama kali diterapkan dalam Liga Indonesia edisi pertama membawa dampak yang signifikan dalam dunia sepak bola internasional. Metode ini kemudian diadopsi dalam berbagai ajang bergengsi seperti Piala Dunia Junior 1993, Piala Eropa 1996, serta Piala Dunia edisi 1998 dan 2002. Jejak-jejak keberhasilan dan inovasi dari Liga Dunhill memperkaya sejarah sepak bola Indonesia dan memberikan inspirasi bagi generasi-generasi mendatang.
Sekarang, ketika kita mengenang 30 tahun berlalu sejak digelarnya Liga Indonesia pertama yang bertitel Liga Dunhill, kita tak hanya sekadar mengingat kenangan indah itu. Lebih dari itu, kita juga merenungkan perjalanan panjang sepak bola Indonesia, penuh liku-liku dan tantangan, namun tetap penuh semangat dan kegigihan untuk berkembang.
Semoga semangat dan inovasi dari Liga Dunhill tetap membakar semangat para pencinta sepak bola Tanah Air, menuju masa depan yang lebih gemilang.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
