
LEGENDA: Potret muda Tan Liong Houw pemain legendaris Persija Jakarta. (Persija Jakarta)
JawaPos.com — Sebagai salah satu tim tersukses dalam sejarah sepak bola Indonesia, Persija Jakarta telah mencatatkan prestasi gemilang sepanjang sejarahnya.
Berdiri sejak 28 November 1928 dengan nama awal VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra), klub ini telah menjadi rumah bagi banyak pemain berbakat dari berbagai penjuru Jakarta dan Indonesia.
Dari era awal pendiriannya, Persija telah menyaksikan banyak pemain legendaris yang telah meninggalkan jejak mereka dalam sejarah kejayaan klub. Dari Soemo dan Abidin di era VIJ bond, hingga Tan Liong Houw, Sinyo Aliandoe, Soetjipto Soentoro, dan Bambang Pamungkas di era selanjutnya, setiap pemain telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan panjang Persija.
Tan Liong Houw, atau yang memiliki nama pribumi Latief Harris Tanoto, adalah salah satu legenda klub yang mencapai puncak popularitasnya pada era Macan Kemayoran. Berdarah Tionghoa, Tan Liong Houw mengembangkan bakat sepak bolanya di klub Chung Hua, sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Persija pada 1951.
Sebagai seorang gelandang, Tan Liong Houw dikenal karena kemampuannya dalam mengatur permainan dan menjadi pemimpin di lapangan. Gaya permainannya yang berani dan energik membuatnya dicintai oleh pendukung Persija, yang memberinya julukan "Macan Betawi" meskipun dia bukan orang Betawi asli.
Prestasi Tan Liong Houw bersama Persija mencapai puncaknya saat klub tersebut meraih gelar juara Perserikatan pada 1954. Tan Liong Houw juga memberikan kontribusi besar bagi Timnas Indonesia, di mana dia pernah merasakan kesuksesan dalam ajang internasional seperti Olimpiade Melbourne 1956 dan Merdeka Games 1961.
Sinyo Aliandoe, pemain asal Larantuka, Flores Timur, juga merupakan salah satu sosok penting dalam sejarah Persija Jakarta. Memulai kariernya bersama PS Maesa, Sinyo menarik perhatian pelatih Persija pada masa itu, drg. Endang Witarsa, dengan kemampuannya yang luar biasa sebagai gelandang tengah.
Sinyo kemudian bergabung dengan Persija dan menjadi bagian dari tim yang meraih gelar juara Perserikatan tanpa terkalahkan pada 1954. Meskipun kariernya sebagai pemain harus terhenti lebih awal karena cedera parah pada 1969, Sinyo berhasil meraih kesuksesan baru sebagai pelatih Persija, membawa klub tersebut meraih gelar juara Perserikatan pada 1973 dan 1975.
Soetjipto Soentoro, atau yang lebih akrab disapa "Gareng", adalah salah satu striker top pada masanya yang membesarkan nama Persija Jakarta. Lahir di Bandung, Gareng bergabung dengan Persija pada usia yang masih sangat muda dan segera menunjukkan bakatnya sebagai penyerang yang mematikan.
Prestasi terbesar Gareng bersama Persija adalah saat klub tersebut meraih gelar juara Perserikatan pada 1964, di mana Gareng menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang kompetisi. Selain itu, Gareng juga meraih kesuksesan dengan Timnas Indonesia, memenangkan berbagai turnamen internasional seperti Piala Aga Khan dan Piala Raja Thailand.
Iswadi Idris adalah salah satu produk dari kawasan Kramat, Senen, Jakarta Pusat, yang juga telah meninggalkan jejaknya sebagai pemain legendaris Persija Jakarta. Bergabung dengan Persija pada 1966 setelah tampil mengesankan bersama Indonesia Muda, Iswadi segera menjadi bagian penting dari skuad Macan Kemayoran.
Prestasi Iswadi bersama Persija mencapai puncaknya saat klub tersebut meraih gelar juara Perserikatan pada 1973. Meskipun sempat berkarier di luar negeri dan memperkuat PSMS Medan, Iswadi selalu kembali ke Persija dan menjadi bagian integral dari kesuksesan klub tersebut.
Sementara Bambang Pamungkas, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Bepe", adalah salah satu legenda Persija Jakarta di era modern. Lahir di Semarang, Jawa Tengah, Bepe bergabung dengan Persija pada 1999 setelah menunjukkan bakatnya sebagai penyerang yang mematikan di timnas Indonesia U-19.
Di Persija, Bepe menjadi salah satu pemain paling produktif dan penting dalam sejarah klub. Puncak kariernya bersama Persija adalah saat klub tersebut meraih gelar juara Liga Indonesia pada 2001, di mana Bepe menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang kompetisi dan meraih penghargaan sebagai Pemain Terbaik.
Meskipun kariernya di Timnas Indonesia tidak seberhasil di level klub, Bepe tetap menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Indonesia. Setelah pensiun dari karier profesionalnya, Bepe masih menjadi salah satu sosok yang sangat dihormati dalam dunia sepak bola Indonesia dan Persija Jakarta.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
