
Surdiayanto (kanan), paramedik dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan hasil temperatur tubuh Rendi Irwan, pemain Persebaya yang menunjukkan angyang tiba di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, kemara 35,2 derajat celcius saat tiba di Stadion Gelora Bun
JawaPos.com – Pemain Persebaya Surabaya menerima apa pun keputusan yang diambil PSSI terkait kelanjutan Liga 1 2020. Namun, karena pandemi korona belum mereda, mereka pun diselimuti perasaan cemas. Meski khawatir, winger Oktafianus Fernando tidak bisa berbuat apa-apa.
’’Karena itu, sebelum kickoff, menurut saya semua pihak harus melihat perkembangan pandemi dalam dua bulan ke depan,’’ katanya kepada Jawa Pos. ’’Apakah (jumlah pasien) menurun dan memungkinkan untuk meneruskan kompetisi,’’ lanjut pemain yang akrab disapa Ofan itu.
Photo
Persebaya Surabaya
Kalaupun kompetisi berlanjut, Ofan berharap ada solusi dari federasi bagi pemain. Salah satunya adalah soal latihan di lapangan sebelum Liga 1 2020 dimulai lagi. ’’Kami butuh latihan setidaknya selama satu bulan. Kami kan butuh menaikkan kondisi setelah lama tidak latihan (di lapangan),’’ katanya.
Gelandang Rendi Irwan sependapat dengan Ofan. Dia berharap bisa melakukan persiapan sebelum kompetisi berjalan. ’’Kalau kami latihannya September, itu terlalu mepet,’’ sebutnya.
Rendi menjelaskan, idealnya latihan mulai digelar Juli atau Agustus. Masalahnya, tidak ada jaminan apakah ada izin menggelar latihan di Surabaya. ’’Apalagi, Surabaya sudah zona hitam. Pasien bukan berkurang, tapi malah bertambah,’’ imbuh bapak tiga anak tersebut.
Karena itu, Rendi butuh jaminan dari federasi bagi klub yang menggelar latihan. ’’Kami harus latihan bersama. Memang kami sering latihan mandiri, tapi rasanya beda dibanding latihan dengan tim,’’ ujarnya.
Rendi juga meminta protokol kesehatan benar-benar dijalankan. Sebab, sebagai pemain, kesehatan jadi hal yang paling penting. Mereka ingin berlaga di lapangan tanpa adanya rasa takut akan Covid-19. ’’Harus ada rapid atau swab test yang rutin dilakukan kepada pemain. Meksipun itu waktu latihan,’’ terang mantan pemain Persik Kediri tersebut.
Kondisi venue pertandingan juga membuat Rendi maupun Ofan deg-degan. Terlebih, ada wacana Liga 1 dipusatkan di Jawa. Kemudian, format kompetisi diubah menjadi home tournament. Soal itu, Rendi maupun Ofan ikut saja keputusan PSSI. Tapi, jika nanti kompetisi memakai format home tournament, Ofan punya masukan bagi federasi.
’’Kalau home tournament, lebih baik dipilih daerah yang masih zona hijau. Jadi, pemain bisa merasa tenang,’’ papar Ofan. Lagi pula, lanjut Ofan, format home tournament dinilai lebih menguntungkan. ’’Pemain kan nggak harus bepergian. Bisa menetap di satu tempat,’’ imbuhnya. Dengan begitu, kondisi fisik pemain bisa lebih terjaga. Apalagi, jika dihadapkan dengan jadwal padat.
Ofan juga berharap pihak federasi belajar dari kompetisi negara lain yang mulai diputar. ’’Bagaimana protokol kesehatan dijalankan,’’ katanya.
Beberapa negara memang sudah kembali memulai kompetisinya. Di Asia Tenggara, ada Vietnam. Korea Selatan bahkan jadi negara pertama yang mengggulirkan liga saat pandemi.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
