Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Juni 2020 | 03.15 WIB

Para Pemain Persebaya Butuh Jaminan untuk Menggelar Latihan

Surdiayanto (kanan), paramedik dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan hasil temperatur tubuh Rendi Irwan, pemain Persebaya yang menunjukkan angyang tiba di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, kemara 35,2 derajat celcius saat tiba di Stadion Gelora Bun - Image

Surdiayanto (kanan), paramedik dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan hasil temperatur tubuh Rendi Irwan, pemain Persebaya yang menunjukkan angyang tiba di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, kemara 35,2 derajat celcius saat tiba di Stadion Gelora Bun

JawaPos.com – Pemain Persebaya Surabaya menerima apa pun keputusan yang diambil PSSI terkait kelanjutan Liga 1 2020. Namun, karena pandemi korona belum mereda, mereka pun diselimuti perasaan cemas. Meski khawatir, winger Oktafianus Fernando tidak bisa berbuat apa-apa.

’’Karena itu, sebelum kickoff, menurut saya semua pihak harus melihat perkembangan pandemi dalam dua bulan ke depan,’’ katanya kepada Jawa Pos. ’’Apakah (jumlah pasien) menurun dan memungkinkan untuk meneruskan kompetisi,’’ lanjut pemain yang akrab disapa Ofan itu.

Photo

Persebaya Surabaya

Kalaupun kompetisi berlanjut, Ofan berharap ada solusi dari federasi bagi pemain. Salah satunya adalah soal latihan di lapangan sebelum Liga 1 2020 dimulai lagi. ’’Kami butuh latihan setidaknya selama satu bulan. Kami kan butuh menaikkan kondisi setelah lama tidak latihan (di lapangan),’’ katanya.

Gelandang Rendi Irwan sependapat dengan Ofan. Dia berharap bisa melakukan persiapan sebelum kompetisi berjalan. ’’Kalau kami latihannya September, itu terlalu mepet,’’ sebutnya.

Rendi menjelaskan, idealnya latihan mulai digelar Juli atau Agustus. Masalahnya, tidak ada jaminan apakah ada izin menggelar latihan di Surabaya. ’’Apalagi, Surabaya sudah zona hitam. Pasien bukan berkurang, tapi malah bertambah,’’ imbuh bapak tiga anak tersebut.

Karena itu, Rendi butuh jaminan dari federasi bagi klub yang menggelar latihan. ’’Kami harus latihan bersama. Memang kami sering latihan mandiri, tapi rasanya beda dibanding latihan dengan tim,’’ ujarnya.

Rendi juga meminta protokol kesehatan benar-benar dijalankan. Sebab, sebagai pemain, kesehatan jadi hal yang paling penting. Mereka ingin berlaga di lapangan tanpa adanya rasa takut akan Covid-19. ’’Harus ada rapid atau swab test yang rutin dilakukan kepada pemain. Meksipun itu waktu latihan,’’ terang mantan pemain Persik Kediri tersebut.

Kondisi venue pertandingan juga membuat Rendi maupun Ofan deg-degan. Terlebih, ada wacana Liga 1 dipusatkan di Jawa. Kemudian, format kompetisi diubah menjadi home tournament. Soal itu, Rendi maupun Ofan ikut saja keputusan PSSI. Tapi, jika nanti kompetisi memakai format home tournament, Ofan punya masukan bagi federasi.

’’Kalau home tournament, lebih baik dipilih daerah yang masih zona hijau. Jadi, pemain bisa merasa tenang,’’ papar Ofan. Lagi pula, lanjut Ofan, format home tournament dinilai lebih menguntungkan. ’’Pemain kan nggak harus bepergian. Bisa menetap di satu tempat,’’ imbuhnya. Dengan begitu, kondisi fisik pemain bisa lebih terjaga. Apalagi, jika dihadapkan dengan jadwal padat.

Ofan juga berharap pihak federasi belajar dari kompetisi negara lain yang mulai diputar. ’’Bagaimana protokol kesehatan dijalankan,’’ katanya.
Beberapa negara memang sudah kembali memulai kompetisinya. Di Asia Tenggara, ada Vietnam. Korea Selatan bahkan jadi negara pertama yang mengggulirkan liga saat pandemi.

Editor: Mohammad Ilham
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore