
Photo
JawaPos.com – Banyak pemain yang melelang jersey selama pandemi. Termasuk para penggawa Persebaya Surabaya. Nah, saking cintanya terhadap Persebaya, sepuluh jersey pemain Green Force pun diborong Munjianto Basuki.
Sudah lama Munjianto Basuki menjadi Bonek. Pria yang akrab disapa Yanto tersebut mulai mencintai Green Force pada 1994. Usianya baru 11 tahun. Tapi, dia sudah wani mbonek sampai ke Surabaya. Padahal, saat itu dia tinggal di Jember.
Kecintaannya menggila ketika Persebaya menjadi juara Liga Indonesia musim 1996–1997. Dari situ, candu untuk mencintai Persebaya tidak bisa diobati lagi. Puncaknya terjadi pada musim 2018. Yanto tidak pernah absen menonton langsung 34 laga Green Force. Baik laga home maupun away.
Nah, kegilaan itu berlanjut. Selama pandemi, kompetisi memang diliburkan. Persebaya juga tidak memiliki aktivitas apa pun. Tapi, ada saja cara bagi Yanto untuk menunjukkan cintanya kepada Persebaya. Apa itu? Dia memborong sepuluh jersey mantan maupun pemain Green Force –julukan Persebaya– yang dilelang. Selama pandemi, banyak pemain yang melelang jersey.
Tapi, Yanto hanya menunggu lelang jersey pemain Persebaya. Dia ingat betul jersey pertama yang dia dapatkan. Yakni, milik penggawa Persebaya U-17, Marselino Ferdinan. ”Saya tebus Rp 7 juta,” kata Yanto. Setelah itu, pemain lain mulai ramai-ramai melelang jersey. Yanto rajin memantau Instagram. Maklum, lelang jersey memang dilakukan di situ.
Selama itu, sembilan jersey tambahan didapatkan. Yakni, milik Oktafianus Fernando, M. Hidayat, Irfan Jaya, M. Supriadi, Rizky Ridho, Koko Ari Araya, Rendi Irwan, dan Ruben Sanadi. Satu lagi milik mantan pemain Persebaya yang kini memperkuat Persiba Balikpapan, Adam Maulana. ”Sebenarnya ada sebelas. Karena ada juga jersey milik Isa Bajaj. Jersey itu dilelang Persebaya Store,” tambah bapak dua anak itu.
Dari sebelas jersey tersebut, total dia sudah merogoh kocek sampai Rp 30 juta. Lantas, apa yang membuat Yanto sampai rela mengeluarkan uang sebanyak itu? ”Ini bukan karena apa-apa. Bentuk kecintaan saya saja kepada Persebaya,” terang pria yang bekerja di salah satu proyek milik PLTU Paiton itu. Soal uang, dia tidak terlalu memikirkan. Lagi pula, uang tersebut sudah dialokasikan. ”Awalnya sih uang itu buat nonton Persebaya saat away musim ini. Tapi, karena pandemi, uangnya dialihkan untuk beli jersey,” tambah pria kelahiran 1 Juni 1973 tersebut.
Dari sebelas jersey itu, milik Ruben yang paling mahal. Dia harus menebus Rp 11 juta untuk jersey kapten Green Force musim lalu tersebut. Namun, Yanto sama sekali tidak keberatan. Apalagi, menurut dia, dari sebelas jersey itu, milik Ruben memang yang paling berharga. ”Karena itu jersey yang dia pakai di laga terakhir bersama Persebaya. Terus, ada tanda tangan semua pemain dan pelatih di jersey tersebut. Sangat bersejarah, terang pria asli Jember itu.
Yanto sudah punya rencana untuk sejumlah jersey yang dia peroleh. ”Rencana saya mau bikin kafe di Jember dengan nuansa Persebaya. Nanti jersey bisa dipajang di situ,” kata pria yang juga merupakan pembina Bonek Paiton itu. Saat ini kafe tersebut sudah mulai dibangun. ”Masuk pembangunan ke lantai 2,” tambahnya.
Rencana membuka kafe itu juga didukung penuh oleh Bonek Jember Selatan. ”Sudah komunikasi juga. Ternyata nyambung. Anak-anak antusias ada kafe dengan nuansa Green Force,” jelasnya. Karena itu, dia makin semangat untuk membuka kafe dengan tema Persebaya. Hanya, dia belum tahu kapan kafe tersebut diresmikan. ”Masih lama kayaknya. Saya belum ada target kapan harus dibuka,” imbuhnya.
Sejatinya, koleksi jersey yang bakal dipajang di kafe bisa lebih banyak. Sebab, ada beberapa pemain lagi yang melakukan lelang jersey. Di antaranya adalah Ernando Ari dan Hambali Tholib. Sayang, dua jersey pemain Green Force itu gagal didapatkan. Untuk Ernando, momen lelang berbarengan dengan jersey milik Supriadi. ”Jadi, saya harus fokus ke satu jersey. Kalau nggak fokus, malah bisa kehilangan jersey Supri dan Ernando,” jelas ayah Bimo Teguh dan Bimo Hadi Kusumo itu. Sedangkan jersey Hambali gagal didapat karena tidak ada batas waktu penutupan. ”Pas saya cek, tahu-tahu sudah ditutup,” jelasnya.
Nah, hari ini Persebaya merayakan hari jadi ke-93. Rencananya Bonek Paiton mengadakan acara kumpul-kumpul. ”Saya sih setuju. Asal acara harus sesuai dengan protokol kesehatan yang ada,” katanya. Sayang, saat acara tersebut, Yanto malah berpeluang absen. ”Saya harus ke Jakarta dan Bekasi karena urusan kerja. Tapi, semoga sebelum acara saya sudah tiba di Paiton,” harapnya.
Bagi dia, momentum ultah Persebaya tahun ini terasa berbeda. Sebab, tidak ada perayaan yang meriah. Tidak ada pula pertandingan yang digelar. Meski begitu, kondisi tersebut malah dianggap jadi waktu yang pas bagi semua elemen di Persebaya untuk introspeksi diri. ”Ada banyak hikmah yang bisa diambil. Termasuk hikmah untuk sama-sama memperbaiki diri agar Persebaya lebih baik lagi ke depan,” harapnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
