Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Oktober 2017 | 21.49 WIB

Panpel Persija Belajar dari Tragedi Choirul Huda

Para pemain Persija saat berlatih. Mereka mendapat jaminan utama dari tim medis yang disediakan Panpel Persija - Image

Para pemain Persija saat berlatih. Mereka mendapat jaminan utama dari tim medis yang disediakan Panpel Persija

JawaPos.com - Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, Arief Perdana Kusuma mengatakan, akan mengambil hikmah dari kejadian yang mengejutkan sepak bola nasional yakni tragedi yang membuat Choirul Huda meninggal dunia. Panpel Persija akan belajar bagaimana kecepatan penanganan tim medis, peralatan medis, dan penyediaan ambulans. Itu akan menjadi perhatian serius Panpel Persija.


“Bagi kami tim medis merupakan elemen vital dalam penyelenggaraan pertandingan. Bagaimana pun posisi mereka sangat menentukan. Meski sifatnya antisipasi, kadang mereka sangat dibutuhkan,” ucap Arief seperti dilansir Indopos (Jawa Pos Group).


Terkait penyediaan tim medis, Arief menjelaskan, pihaknya selalu melakukan persiapan maksimal. Sehari sebelum pertandingan, perangkat dan tenaga tim medis selalu di-briefing terlebih dahulu. Termasuk ketersediaan dokter, bukan melulu tenaga perawat.


“Malah tim medis tersebut harus masuk ke dalam stadion, dua atau tiga jam sebelum pertandingan digelar. Kami juga mengharuskan ambulans harus stand by. Jadi, ketika ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi, tim medis sudah siap,” tambah Arief.


Lebih dari itu, Panpel Persija juga selalu menyediakan rumah sakit rujukan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Secara kebetulan, ada rumah sakit berkelas nasional yang lokasinya berdekatan dengan Stadion Patriot, Bekasi. “Lokasi rumah sakit cukup dekat dari stadion,” imbuh Arief.


Sebelumnya, Choirul Huda mengalami tabrakan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues, ketika timnya melawan Semen Padang pada laga lanjutan Liga 1 di Stadion Surajaya, Lamongan. Dia sempat tak sadarkan diri, kemudian dilarikan ke rumah sakit dengan alat bantu pernapasan dan tabung oksigen. Tim medis sebenarnya sudah bertindak cepat. Namun, nyawa Choirul tak terselamatkan.


Berkaca pada kejadian sebelumnya, sepak bola nasional juga memiliki sejumlah contoh yang tentu tak ingin terulang. Eri Irianto meninggal dunia setelah insiden dalam laga Persebaya kontra PSIM Jogjakarta di Stadion Gelora 10 November, 3 April 2000. Pemicunya, Eri bertabrakan dengan pemain PSIM, Samson Noujine Kinga, sehingga pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Malam harinya, Eri mengembuskan napas terakhir karena serangan jantung di Rumah Sakit dr Soetomo.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore