
GEMURUH: Bonek melepaskan kerinduaannya pada Persebaya dengan datang memenuhi Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya saat kesebelasan kesayangannya itu bertanding dengan PSIS Semarang Minggu (19/3).
TERIMA KASIH. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.
Akhirnya. Setelah menanti selama lebih dari empat tahun, ada pertandingan Persebaya di Surabaya. Di Gelora Bung Tomo (GBT) yang begitu megah. Hasil perjuangan bertahun-tahun dari begitu banyak pihak untuk mengembalikan klub kebanggaan ini ke kancah sepak bola nasional.
Sebuah pertandingan persahabatan yang El Clasico, melawan PSIS Semarang. Sebuah laga yang kami namai Homecoming Game. Menandai kepulangan Persebaya setelah serangkaian pertandingan di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Menandai kepulangan Persebaya setelah bertahun-tahun tidak bisa berkiprah.
Semua ingin laga ini benar-benar istimewa.
Semua.
Semua tim pelatih dan pemain ingin menunjukkan yang terbaik di hadapan publik sendiri.
Semua barisan manajemen ingin menyuguhkan sesuatu yang bisa memuaskan kerinduan para pendukung Persebaya.
Semua suporter pun ingin menunjukkan dukungan dan cinta mereka terhadap Persebaya.
Mungkin tidak ada laga persahabatan yang seheboh itu dalam sejarah Indonesia. Dan itu berarti lebih heboh daripada kebanyakan negara lain di dunia. Dan rasanya, tidak banyak laga final –di mana pun– yang kehebohannya seperti itu.
Alhasil, laga persahabatan itu pun menjadi ”shock to the system” buat semua yang menginginkan keistimewaan tersebut.
Kebanyakan pemain Persebaya muda-muda dan kini mewujudkan mimpinya untuk tampil di hadapan pendukung yang begitu hebat. Tapi, mereka shock juga melihat penonton yang begitu hebat. Bahkan pemain yang berpengalaman pun, yang bergabung dari klub besar lain, ikut shock saat melihat begitu hebatnya penonton Persebaya.
Mereka mengaku sempat kaku sehingga tidak bisa menunjukkan keindahan permainan seperti yang mereka tunjukkan di Dirgantara Cup atau di Semarang sebelumnya.
(Untuk menghibur diri sendiri, saya bilang skor Homecoming Game itu 3-0. Karena tendangan bebas Ridwan Awaluddin seharusnya dihitung sebagai gol, plus satu lagi tendangan Rahmat Afandi pada waktu yang hampir bersamaan dengan peluit berbunyi. Kalau di basket, itu dihitung gol.)
Pengalaman ini akan bagus untuk para pemain. Mereka sudah terbukti mantap di laga tandang, justru tinggal bermain lebih tenang di hadapan publik sendiri.
Bagi manajemen, shock-nya lebih menyeluruh. Sebelum laga ini, kami membuat rancangan berdasar pengalaman (lama) pertandingan di GBT. Dua pertandingan yang jadi acuan: laga melawan Arema (4 Maret 2012/Indonesian Premier League) dan Queens Park Rangers (23 Juli 2012/uji coba).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022