Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Januari 2026 | 22.01 WIB

Rekor Persebaya Surabaya Catat 96 Sepak Pojok! Bola Mati Jadi Senjata Rahasia Bernardo Tavares

Bruno Paraiba akan jadi ujung tombak bola udara lini depan Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya) - Image

Bruno Paraiba akan jadi ujung tombak bola udara lini depan Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com—Rekor Persebaya Surabaya catat 96 sepak pojok di putaran pertama Super League 2025/2026 menjadi sinyal kuat perubahan wajah permainan tim. Bola mati kini menjelma senjata utama yang disiapkan pelatih Bernardo Tavares untuk mengangkat daya saing Green Force. 

Jumlah tersebut menempatkan Persebaya Surabaya sebagai tim dengan sepak pojok terbanyak keempat di putaran pertama super league. Catatan ini menunjukkan agresivitas serangan sekaligus potensi besar dari situasi set piece

Aktivitas Persebaya Surabaya di bursa transfer paruh musim super league pun tidak lepas dari evaluasi detail Bernardo Tavares. Pelatih asal Portugal itu turun langsung memastikan kebutuhan tim terpenuhi secara taktis. 

Salah satu fokus utamanya adalah keseimbangan komposisi pemain, khususnya untuk menghadapi duel-duel bola mati. Situasi ini kerap menjadi faktor penentu di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. 

“Salah satu hal yang saya lihat di tim ini adalah kami tidak memiliki terlalu banyak pemain jangkung,” ucap Bernardo Tavares

“Inilah sebabnya kami kebobolan banyak gol dari bola mati. Dan saya pikir penting untuk memiliki keseimbangan,” imbuh dia. 

Bernardo menilai Persebaya Surabaya sebelumnya terlalu bergantung pada pemain cepat tanpa dukungan postur ideal. Padahal karakter kompetisi domestik menuntut kekuatan fisik dan dominasi udara. 

“Penting untuk memiliki pemain yang tidak terlalu tinggi karena mereka memiliki kecepatan, tetapi juga penting untuk memiliki pemain yang tinggi untuk mereka,” lanjut Bernardo Tavares. 

“Salah satu momen pertandingan di Indonesia, banyak gol berasal dari bola mati. Jadi, penting bagi kami untuk memiliki keseimbangan dalam skuat kami,” sambung dia. 

Rekor 96 sepak pojok menjadi data penting yang memperkuat arah kebijakan tersebut. Dengan rata-rata 5,65 sepak pojok per laga dari 17 pertandingan, Persebaya Surabaya konsisten menekan lawan hingga area pertahanan terdalam. 

Catatan itu hanya kalah dari PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Bali United FC. PSM memimpin dengan 108 sepak pojok, disusul Persija 104, serta Bali United 102. 

Dominasi sepak pojok ini tidak hadir secara kebetulan. Persebaya Surabaya bermain dengan intensitas tinggi di sisi sayap dan rajin melepaskan tembakan yang memaksa lawan bertahan total. 

Sayangnya, pada putaran pertama efektivitas bola mati Persebaya Surabaya belum maksimal. Keterbatasan pemain jangkung membuat banyak peluang dari sepak pojok belum berbuah gol. 

Situasi inilah yang mendorong Bernardo Tavares bergerak di bursa transfer paruh musim. Dia ingin memastikan jumlah sepak pojok yang besar bisa dikonversi menjadi gol penentu. 

Kini, Persebaya Surabaya memiliki enam pemain dengan tinggi di atas 1,85 meter dalam skuad. Kehadiran mereka memberi dimensi baru dalam strategi bola mati Green Force. 

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore