
Bruno Paraiba akan jadi ujung tombak bola udara lini depan Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya)
JawaPos.com—Rekor Persebaya Surabaya catat 96 sepak pojok di putaran pertama Super League 2025/2026 menjadi sinyal kuat perubahan wajah permainan tim. Bola mati kini menjelma senjata utama yang disiapkan pelatih Bernardo Tavares untuk mengangkat daya saing Green Force.
Jumlah tersebut menempatkan Persebaya Surabaya sebagai tim dengan sepak pojok terbanyak keempat di putaran pertama super league. Catatan ini menunjukkan agresivitas serangan sekaligus potensi besar dari situasi set piece.
Aktivitas Persebaya Surabaya di bursa transfer paruh musim super league pun tidak lepas dari evaluasi detail Bernardo Tavares. Pelatih asal Portugal itu turun langsung memastikan kebutuhan tim terpenuhi secara taktis.
Salah satu fokus utamanya adalah keseimbangan komposisi pemain, khususnya untuk menghadapi duel-duel bola mati. Situasi ini kerap menjadi faktor penentu di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Salah satu hal yang saya lihat di tim ini adalah kami tidak memiliki terlalu banyak pemain jangkung,” ucap Bernardo Tavares.
“Inilah sebabnya kami kebobolan banyak gol dari bola mati. Dan saya pikir penting untuk memiliki keseimbangan,” imbuh dia.
Bernardo menilai Persebaya Surabaya sebelumnya terlalu bergantung pada pemain cepat tanpa dukungan postur ideal. Padahal karakter kompetisi domestik menuntut kekuatan fisik dan dominasi udara.
“Penting untuk memiliki pemain yang tidak terlalu tinggi karena mereka memiliki kecepatan, tetapi juga penting untuk memiliki pemain yang tinggi untuk mereka,” lanjut Bernardo Tavares.
“Salah satu momen pertandingan di Indonesia, banyak gol berasal dari bola mati. Jadi, penting bagi kami untuk memiliki keseimbangan dalam skuat kami,” sambung dia.
Rekor 96 sepak pojok menjadi data penting yang memperkuat arah kebijakan tersebut. Dengan rata-rata 5,65 sepak pojok per laga dari 17 pertandingan, Persebaya Surabaya konsisten menekan lawan hingga area pertahanan terdalam.
Catatan itu hanya kalah dari PSM Makassar, Persija Jakarta, dan Bali United FC. PSM memimpin dengan 108 sepak pojok, disusul Persija 104, serta Bali United 102.
Dominasi sepak pojok ini tidak hadir secara kebetulan. Persebaya Surabaya bermain dengan intensitas tinggi di sisi sayap dan rajin melepaskan tembakan yang memaksa lawan bertahan total.
Sayangnya, pada putaran pertama efektivitas bola mati Persebaya Surabaya belum maksimal. Keterbatasan pemain jangkung membuat banyak peluang dari sepak pojok belum berbuah gol.
Situasi inilah yang mendorong Bernardo Tavares bergerak di bursa transfer paruh musim. Dia ingin memastikan jumlah sepak pojok yang besar bisa dikonversi menjadi gol penentu.
Kini, Persebaya Surabaya memiliki enam pemain dengan tinggi di atas 1,85 meter dalam skuad. Kehadiran mereka memberi dimensi baru dalam strategi bola mati Green Force.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
