
Tornado mania kritik manajemen Kendal Tornado FC. (Istimewa)
JawaPos.com-Derby Plat H antara Kendal Tornado FC dan PSIS Semarang di lanjutan Pegadaian Championship resmi digelar tanpa penonton. Laga digelar di Stadion Jatidiri, Kota Semarang, Jumat (7/11).
Keputusan ini diambil karena alasan keamanan serta konflik internal antara manajemen PSIS dan suporternya. Meski bertujuan menjaga kondusivitas, keputusan tersebut justru menuai kritik keras dari berbagai pihak.
Pendukung Kendal Tornado FC yang dikenal dengan sebutan Tornado Mania lontarkan kritik. Mereka merasa kecewa karena laga yang seharusnya menjadi hiburan masyarakat justru sepi dari sorak-sorai pendukung.
Lewat akun Instagram @tornadomania_, Tornado Mania menyampaikan kekecewaan terhadap manajemen klub.
“Mana katanya sepak bola untuk hiburan masyarakat? Mau sampai kapan dikandang sendiri tanpa penonton? Ingin memikat hati suporter tapi penonton tidak boleh hadir? Sehat?” tulis mereka dalam unggahannya, sambil menandai akun manajemen klub @herisasongko67 dan @anto_van_java.
Unggahan tersebut langsung diserbu komentar para anggota Tornado Mania. Salah satunya, akun @nurl.huda___, menulis sindiran tajam.
“Bawa nama kota kok takut rugi. Ganti namamu jadi Tornado Baja Ringan saja kalau tidak boleh ditonton,” kata @nurl.huda___.
Komentar lain datang dari akun @glngmhsjnnrrr yang menyoroti alasan keamanan di Semarang.
“Ibu kota Jawa Tengah kok keamanannya ribet? Lihat itu Derby Mataram, Persis vs PSIM boleh ditonton. Apa karena Yoyok takut dipisuhi?” tulis dia.
Tak hanya dari kubu Tornado Mania, kritik juga datang dari Ketua Panser Biru Wareng, suporter setia PSIS Semarang. Melalui akun Instagram @kepareng_wareng, dia turut menyoroti keputusan laga tanpa penonton ini.
“Bayangkan bagaimana perasaan suporter Kendal Tornado FC yang ingin mendukung langsung di stadion. Eh malah ikut-ikutan PSIS tiap main tanpa penonton,” tulis dia.
Wareng juga menambahkan sindiran halus soal makna loyalitas dalam sepak bola.
“Kendal Tornado FC vs PSIS mengajarkan kita bahwa banyak uang bukan berarti bisa membeli segalanya. Loyalitas tidak selalu bisa dibeli dengan uang,” ujar dia.
Dengan berbagai kritik yang muncul, derby tanpa penonton ini meninggalkan catatan pahit bagi dua klub Jawa Tengah tersebut. Alih-alih menjadi laga yang meriah, duel sengit antar tetangga ini justru berubah menjadi simbol jarak antara klub dan suporternya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
