
Badru sangat cinta dan mendukung penuh Persebaya Surabaya. (Dok. Persebaya Surabaya)
JawaPos.com — Persebaya Surabaya kembali menunjukkan jati dirinya sebagai klub yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan sportivitas. Melalui semangat Persebaya Surabaya untuk Semua, Green Force menegaskan sikap tegasnya: tidak ada tempat untuk rasisme, bullying, dan body shaming di Stadion Gelora Bung Tomo.
Semangat inklusif itu bukan sekadar slogan manis yang terpampang di spanduk atau media sosial. Bagi Persebaya Surabaya, keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat bersama demi sepak bola yang lebih beradab.
Memasuki usia ke-98, Persebaya Surabaya ingin terus tumbuh sebagai klub yang terbuka untuk siapa pun. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, gender, usia, strata sosial, atau kondisi fisik, semua berhak menjadi bagian dari keluarga besar Green Force.
Karena itu, Persebaya Surabaya ingin memastikan setiap orang yang datang ke Gelora Bung Tomo merasa aman dan diterima. Stadion kebanggaan warga Surabaya ini harus menjadi rumah bagi semua, termasuk bagi para Bonek dari luar kota.
Namun, semangat itu sempat tercoreng oleh sebuah insiden tidak terpuji di laga melawan Persija Jakarta. Seorang pendukung Persebaya Surabaya melakukan tindakan bullying dan body shaming terhadap Bonek asal Tangerang bernama Badru.
Peristiwa itu mengejutkan dan memalukan bagi seluruh keluarga besar Persebaya Surabaya. Bagi klub yang selalu mengedepankan nilai respect dan persaudaraan, perbuatan seperti itu adalah bentuk kejahatan moral yang tak bisa ditoleransi.
Manajemen Persebaya Surabaya langsung bereaksi cepat begitu mengetahui kejadian tersebut. Klub memberikan teguran keras kepada pelaku dan menegaskan, jika insiden serupa terulang, sanksi tegas akan dijatuhkan. Sanksi itu bisa berupa larangan masuk ke stadion bagi siapa pun yang terbukti melakukan perundungan atau pelecehan fisik dan verbal. Bagi Persebaya Surabaya, menjaga kenyamanan penonton jauh lebih penting daripada sekadar jumlah suporter yang hadir.
Respons cepat dan tegas itu juga datang dari kalangan Bonek sendiri. Banyak rekan-rekan suporter yang menyayangkan peristiwa itu dan menyatakan dukungan penuh untuk Badru. Gerakan moral ini menjadi bukti Bonek sejati bukan hanya soal loyalitas tanpa batas, tapi juga tentang hati dan empati. Mereka sadar, setiap orang punya hak yang sama untuk mencintai Persebaya Surabaya tanpa rasa takut atau malu.
Dalam pernyataannya, Persebaya Surabaya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Badru dan keluarganya. Klub berjanji akan terus memperbaiki diri agar insiden serupa tidak terulang di masa depan. Manajemen juga menegaskan komitmennya untuk menjadikan GBT sebagai tempat yang benar-benar ramah dan inklusif. Salah satu langkah konkret yang sudah dijalankan adalah penyediaan tribun keluarga di Gate 1.
Tribun ini dilengkapi aturan khusus agar anak-anak dan orang tua bisa menikmati pertandingan dengan nyaman. Di sinilah wajah ramah Persebaya Surabaya ditunjukkan, menjadikan sepak bola sebagai hiburan yang aman untuk semua kalangan.
GBT bukan sekadar stadion, tapi simbol kebanggaan sekaligus cermin karakter warga Surabaya. Klub ingin memastikan semangat wani tetap hidup dengan cara yang positif, berani melawan segala bentuk diskriminasi.
“GBT juga rumahmu, Badru,” begitu pesan Persebaya Surabaya dalam pernyataannya. Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar tekad klub menjaga keharmonisan di antara pendukungnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh Bonek agar terus naik level, bukan hanya dalam mendukung tim, tapi juga dalam bersikap. Semangat berubah bersama demi Persebaya Surabaya yang lebih baik harus dihidupkan di setiap sudut tribun.
Persebaya Surabaya dan Bonek memang dikenal militan dan penuh gairah, namun keduanya kini diajak untuk lebih dewasa. Dukungan penuh semangat tetap boleh, asalkan disertai rasa hormat kepada sesama penonton.
Kejadian yang menimpa Badru menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk bersatu, bukan ajang saling merendahkan. Persebaya Surabaya percaya, perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil di hati masing-masing pendukung. Jika setiap orang berani menghormati perbedaan, maka sepak bola akan menjadi tontonan yang lebih indah dan beradab.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
