Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Oktober 2025 | 16.48 WIB

Fikri Maulana, Masseur Muda Persita Tangerang Yang Menjaga Kondisi Pemain Tetap Prima

Fikri Maulana, masseur muda Persita Tangerang. (Istimewa)

JawaPos.com - Dalam dunia sepak bola profesional, menjaga kondisi pemain agar selalu siap tampil bukan hanya tugas dokter atau fisioterapis saja. Ada sosok lain yang tak kalah penting di balik layar seorang masseur atau pemijat olahraga.

Perannya bukan sekadar memberikan pijatan biasa, tetapi memastikan otot pemain tetap lentur dan siap menghadapi intensitas latihan serta pertandingan.

Di tubuh Persita Tangerang, posisi penting ini dipegang oleh Fikri Maulana Ihsan. Pria muda yang baru bergabung pada awal musim ini punya kisah menarik di balik profesinya.

Menjadi sport masseur ternyata bukan cita-cita awal Fikri. Semuanya berawal dari pengalaman pribadinya yang sempat mengalami cedera parah dan sulit sembuh.

“Saya dulu sempat cedera cukup lama dan belum tahu pentingnya perawatan yang tepat. Saya hanya mengandalkan tukang pijat biasa,” kenang Fikri dikutip dari website persitafc.com.

Dari situ, ia mulai mencari tahu tentang peran masseur olahraga melalui internet dan memutuskan untuk menempuh pendidikan di jurusan Sport Terapi.

Motivasinya sederhana, namun kuat. “Saya tidak ingin ada orang lain yang mengalami hal sama seperti saya, cedera yang tak kunjung sembuh,” ujarnya sambil tersenyum.

Sebagai sport masseur, Fikri bekerja berdasarkan ilmu dan selalu berkoordinasi dengan tim medis.

Ia menegaskan, seorang masseur tidak boleh mendiagnosa cedera pemain. Langkah pertama yang dilakukan saat pemain cedera adalah menunggu arahan dokter atau fisioterapis. Jika cedera tergolong ringan, barulah pijatan bisa dilakukan.

Misalnya, saat pemain mengalami cedera engkel ringan, pijatan selama sekitar 10 menit bisa membantu sendi kembali ke posisi semula.

Namun, jika ada luka akibat benturan, pemain dilarang langsung dipijat dan harus menunggu dua hingga tiga hari sampai kondisi membaik.

Persiapan sebelum dan sesudah pertandingan pun diatur dengan cermat. Fikri menyarankan pemain melakukan pijat dua hari sebelum laga untuk menjaga kelenturan otot. Setelah pertandingan, pijatan baru boleh dilakukan satu hingga dua jam kemudian, ketika otot sudah kembali normal.

Bagi Fikri, menjadi sport masseur bukan hanya soal keterampilan tangan, tetapi juga tanggung jawab besar menjaga kebugaran para pemain. “Saya ingin selalu siap membantu tim, agar setiap pemain bisa tampil maksimal,” tutupnya.

Dengan semangat dan dedikasinya, Fikri menjadi bukti bahwa di balik performa gemilang para pemain, ada tangan-tangan terampil yang bekerja dengan hati.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore