Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Mei 2025 | 04.37 WIB

Presiden Klub Azrul Ananda Pernah Peringatkan Bonek: Nyalakan Flare Ganggu Keuangan Persebaya akibat Denda Ratusan Juta Rupiah

Flare membara di Gelora Bung Tomo pada laga Persebaya Surabaya vs Bali United pada Jumat (23/5). (Mochamad Rizky Pratama/Jawa Pos.com) - Image

Flare membara di Gelora Bung Tomo pada laga Persebaya Surabaya vs Bali United pada Jumat (23/5). (Mochamad Rizky Pratama/Jawa Pos.com)

‎JawaPos.com–Tindakan penyalaan flare pada pekan terakhir oleh beberapa oknum suporter klub Liga 1, termasuk Bonek, seakan menjadi validasi bahwa penonton sepak bola di Indonesia terkesan sulit mentaati aturan atau regulasi.

‎Memang layak diakui bahwa tindakan pelanggaran regulasi oleh suporter sudah banyak berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Namun sekalinya terjadi, pihak klub tetap dirugikan secara finansial.

‎Misalnya saat laga terakhir Liga 1 antara Persebaya kontra Bali United Jumat (23/5), sejumlah oknum Bonek menyalakan flare sekitar menit 92, saat kedudukan 1-3 untuk keunggulan Bali United.

‎Wasit bahkan sempat menghentikan laga sementara beberapa menit jelang laga usai karena situasi semakin kondusif akibat kepulan asap dari flare memenuhi stadion dan mengganggu jalannya laga.

‎Hal ini tentu kontradiktif dengan tekad sebelum hari-H pertandingan, dimana pihak Panpel sampai memastikan akan memeriksa secara ketat di seluruh pintu masuk stadion. Penonton yang kedapatan membawa flare maupun dalam pengaruh minuman keras akan dilarang masuk ke stadion.

‎“Pertandingan lawan Bali United adalah pertandingan bebas flare. Ini demi kenyamanan dan keselamatan bersama. Kami tidak segan-segan memberikan sanksi tegas kepada siapapun yang membawa atau menyalakan flare di dalam stadion,” kata Ram seperti dikutip dari laman resmi klub.

‎Kini Persebaya harus bersiap terkena denda cukup besar dari Komdis PSSI. Sejauh ini memang belum ada keputusan terkait penyalaan flare di tengah pertandingan itu. Namun, diperkirakan mencapai Rp 200 juta.

‎Potensi nominal denda tersebut berdasar pengalaman PSS Sleman yang terkena denda Rp 200 juta karena kasus identik saat menjamu Persija Jakarta beberapa waktu lalu.

‎Jika memang dijatuhi hukuman denda Rp 200 juta, hal itu tentu merugikan Persebaya dari segi finansial, apalagi Green Force termasuk jarang mendapat sanksi denda akibat penyalaan flare. ‎Kerugian finansial akibat denda yang disebabkan ulah penonton pernah disinggung Presiden Persebaya, Azrul Ananda.

Dia menyebut bahwa hasil penjualan tiket yang cukup besar bisa saja tidak dirasakan manfaatnya secara maksimal jika harus menanggung pengeluaran di luar perhitungan, seperti denda dari Komdis.

‎“Katakanlah hasil dari penjualan tiket suatu laga kandang sekian miliar, kelihatannya cukup besar. Tapi jangan lupa bahwa biaya operasional menggelar pertandingan juga besar, belum lagi kalau kena denda. Misalnya denda flare sekian ratus juta jika ada penonton kedapatan menyalakannya. Maka dari hasil pemasukan sekian miliar itu dikurangi sekian ratus juta, sehingga pengeluarannya jadi membengkak,” ungkap Azrul dalam sebuah kesempatan pada akun YouTube resmi Persebaya.

‎Dia berharap agar tidak hanya pemain dan klub saja yang harus menaati regulasi Liga 1, tetapi juga penonton, agar pemasukan dan keuntungan Persebaya bisa lebih maksimal.

‎"Kita berharap suporter (Bonek) benar-benar menjadi suporter yang mendukung kehidupan tim, menjadi penonton yang mau membeli tiket, dan tidak membuat masalah atau kerusakan yang membebani klub, sehingga klub bisa benar-benar memaksimalkan pendapatan melalui penjualan tiketnya,” tandas Azrul.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore