Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Maret 2025 | 15.32 WIB

Wawancara dengan David Sulaksmono: Sepak Bola Indonesia Butuh Blue Print Supaya Terarah

Ilustrasi pembinaan sepak bola usia muda. (Istimewa)

JawaPos.com–Timnas Indonesia sedang berjuang untuk bisa tembus ke Piala Dunia 2026. Eks timnas David Sulaksmono (DS) berharap adanya blue print supaya prestasi bisa konsisten dan tertata. Berikut petikan wawancaranya dengan Jawa Pos (JP).

JP: Apa Kabar ?
DS: Halo iya baik

JP: Saat ini apa kesibukannya?
DS: Ya di sepak bola masih sama teman-teman dan mantan pemain. Kan saya di IFA (Indonesia Football Ambassador). IFA sering berikan coaching clinic ke daerah, diundang. Ya kita kasih sharing untuk di Askab di kabupaten.

JP: Di daerah itu saat ini bagaimana antusiasnya?
DS: Mereka itu sebetulnya kalau kita lihat grassroot-nya sama bola antusias sekali. Sampai turnamen bahkan dengan patungan tidak ada biaya-biaya. Itu yang harus diapresiasi. Cuma kurang perhatian. Asprov-nya saja tidak turun. Kan kepanjangan PSSI di daerah kan Asprov. Lalu membawahi Askab-Askot dan pedesaan. Itu kalau ditata dengan baik menurut saya akan baik. Memang perlu waktu.

JP: Butuh role model juga berarti ya?
DS: Ya Jepang saja bilang mau juara dunia pada 2050 kan. Nah itu kan long term dan dikelola dengan baik. Tapi kalau saya bilang di sini mau angkat barbel 100 kg. Tapi gak pernah menuju ke arah situ tuh gak ada gitu loh. Angkat 10 kg dulu. Tidak dilakoni dengan baik. Nanti angkat 5 kg sudah selesai. Ganti lagi. Tidak fokus begitu. Jadi ganti ketua umum PSSI lagi beda lagi. Belum ada blue print yang jelas.

JP: Jadi seharusnya kalau konsisten dengan blue print?
DS: Itu mestinya memang harus konsisten ya siapapun yang jadi ketua umum. Coba tiba-tiba nanti Pak Erick (Thohir) tidak di sepak bola lagi. Dengan biaya yang beda, beda lagi. Jadi blue print harus dibuat dan sistem itu harus yang benar dulu. Siapapun pelatih mengikuti itu saja. Yang sudah baik di-maintenance, yang kurang diperbaiki. Main bola kan sederhana. Kalau tidak kan orang main bola itu seperti orang gila kan. Masa bola satu diperebutkan. Ngapain. Haha. Tapi kenapa bisa cantik begitu. Kan bergantung dengan penyajiannya. Itu juga pembinaan anak-anak harus disiplin dan tidak tenggang rasa. Kalau memang salah ya dihukum.

JP: Anda sendiri ada lisensi kepelatihan?
DS: Saya ada lisensi C AFC. Lalu pernah tiga bulan di Amerika pada 2011 ambil kursus juga gitu. Cuma untuk mau melihat di negara maju Amerika seperti apa belajar sepak bolanya. Tapi belajar benar sampai mereka tim putrinya kan juara dunia loh. Dan memang mereka komit. Lapangan baseball jadi lapangan sepak bola. Orang mau olahraga sarana dan prasarana harus ada kan. Kita pemain banyak lapangannya kurang. Jadi dilema itu.

JP: Waktu jadi pemain paling berkesan di event apa?
DS: Di timnas ya ketemu Diego Maradona kan (di Piala Dunia Junior 1979). Itu tim elite dunia.

JP: Waktu itu selain Maradona siapa saja yang diingat?
DS: Ramon Diaz, Gabriel Calderon. Tim itu hampir menjadi pemain senior semua kan yang. Kebetulan pelatihnya juga Cesar Luis Menotti. Jadi memang bagus ya. Dan mereka sudah dibina sejak 4 tahun sebelumnya kan.

JP: Kalau tim Indonesia waktu itu dibinanya berapa tahun?
DS: Kalau kami kumpulnya itu Indonesia juniornya hampir satu tahun. Itu pun tim kita ikut penyisihan di Asia dulu. Kita main di Bangladesh. Setelah itu kita bisa dapat jatah ke Jepang. Karena ada satu-dua ranking di atas kita tidak mau hadir. Jadi ketiban rejeki lah Indonesia. Satu pul dengan Argentina, Yugoslavia, Polandia. Itu tim kelas dunia semua. Meskipun kita sudah tahu diri dan bikin lolos grup saja tidak bakalan waktu itu. Tapi masuk ke satu fase itu sudah menjadi pengalaman yang luar biasa.

JP: Kalau berkarir di tim mana yang berkesan?
DS: Di Indonesia ya kita di Jayakarta bertabur pemain nasional dan pembinaan terbaik. Lapangan ada. Komplet. Di mess. Di sekolahkan. Itu contoh bagus kenapa tidak ditiru dan dilanjutkan. Padahal kan dulu mayoritas pemain nasional dan Persija inti dari Jayakarta.

JP: Sekarang sepak bola di DKI jauh menurun?
DS: Kalau kita dulu klub Galatama terbaik. Terus dibubarkan dan dilebur lagi. Ya repot ya. Ya sekarang Liga 1. Kenapa waktu itu mati karena kompetisi di DKI mati. Dulu DKI sebagai barometer sepak bola Indonesia, sekarang kompetisi tidak ada. Asprov tidak jelas belum kepilih sampai sekarang. Ini ada kepentingan apa sih, ada politik apa gitu loh. Sampai Asprov saja tidak kebentuk. Ada apa. Itu lucu banget itu. Buktinya mana DKI tidak masuk PON. Miris banget begitu. Kalau kita semua mau serba instan dan cepat tidak bisa. Semua proses. Harus sabar dan dikelola dengan baik. Kalau tidak mau jadi apa. Sayang aja. Potensi bagus tapi kalau kokinya tidak bagus gimana kita mau masak. Bahan baku nomor satu semua, kokinya koki warteg. Ya tidak jadi masakan yang bagus.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore