Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Maret 2025 | 20.26 WIB

Dari Piramida ke Gedung Pencakar Langit: Persebaya Surabaya dan Revolusi Pembinaan Sepak Bola

CE Europa jadi klub yang dikunjungi Persebaya Future Lab di Spanyol. (Media Persebaya)

 

JawaPos.com — Sepak bola bukan sekadar permainan, tapi ekosistem yang harus dikelola dengan filosofi yang tepat. Persebaya Surabaya memahami membangun tim kuat bukan hanya soal taktik di lapangan, tetapi juga pembinaan yang berkelanjutan.

Inspirasi datang dari sepak bola akar rumput Spanyol yang menjadikan partisipasi sebagai nyawa pembinaan. Salah satu contoh nyata adalah CE Europa, klub legendaris yang lahir di Vila de Gracia, Barcelona.

Berdiri sejak 1907, Europa adalah salah satu dari 10 klub pendiri La Liga bersama Barcelona dan Espanyol. Meski kini bermain di kasta keempat, sejarah panjang mereka menunjukkan pentingnya fondasi pembinaan.

Nou Sardenya, stadion sederhana berkapasitas 4000 orang, adalah saksi geliat partisipasi sepak bola di distrik itu. Dari sore hingga malam, ratusan anak memenuhi lapangan untuk menikmati keindahan permainan sepak bola.

Europa memiliki dua program pembinaan yang dirancang untuk menampung sebanyak mungkin pemain. Program rekreasi untuk mereka yang ingin bersenang-senang, serta program formatif bagi yang ingin berkembang lebih serius.

Lebih dari 1.500 pemain tergabung dalam 43 tim yang berlatih di Nou Sardenya dan Camp L'Aliga. Semua ini didukung oleh iuran anggota, sponsor lokal, serta pemasukan dari kantin dan toko merchandise.

Europa bukan satu-satunya klub kecil yang menonjol dalam pembinaan di Spanyol. Can Vidalet, klub kecil di Esplugas de Llobregat, juga memiliki sistem yang menarik untuk ditiru.

Meski hanya bermain di kasta keenam dan kedelapan, Can Vidalet mampu menarik lebih dari 700 pemain ke dalam 27 timnya. Setiap sore, stadion mereka penuh dengan pemain yang menikmati latihan intensif dan penuh kontak.

Can Vidalet dijuluki sebagai laboratorium pelatih karena banyak menghasilkan pelatih top. Fran Rubio, mantan staf PSG, adalah salah satu contohnya.

Banyak pelatih top Eropa yang pernah merasakan atmosfer Can Vidalet sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi. Oscar Garcia, pelatih HJK Helsinki, dan Pol Delonder dari Timnas Serbia U-19 adalah beberapa di antaranya.

Metodologi kepelatihan di Can Vidalet sangat komprehensif meski hanya klub kecil. Mereka menekankan empat pilar utama: permainan, persepsi, pertanyaan, dan konsep.

Pemain diajak untuk belajar dari pengalaman bermain, merangsang persepsi mereka terhadap situasi di lapangan. Dari situ, mereka dituntut untuk mengajukan pertanyaan kunci agar bisa memahami konsep permainan secara mandiri.

Kepala Persebaya Future Lab, Ganesha Putra, sedang mengunjungi klub-klub kecil lainnya seperti Cornella dan L'Hospitalet. Keduanya dikenal sebagai pabrik talenta muda yang konsisten menghasilkan pemain berkualitas.

Cornella adalah klub yang melahirkan Jordi Alba dan David Raya, sementara L'Hospitalet baru saja menelurkan Arnau Martinez, bek kanan Girona FC. Ini menunjukkan level kompetisi bukanlah segalanya dalam pembinaan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore